Hanya katanya dan katanya saja. Dari mulut ke mulut, cerita satu ke cerita lainnya. Cerita yang masih misteri dan menyimpan banyak tanda tanya. Namun, yang jelas sosok ini ialah manusia alim yang sesungguhnya. Kharismatik, cerdas, dan punya tanda-tanda “keistimewaan” itu. Ya, berhubungan dengan jin.
Tokoh kita ini, saya jumpai melalui sebuah buku tebal berjudul “KH. Muhammad Hasan, BA: Guru, Tabib, dan Misteri Jin”. Buku dengan tebal 622 halaman ini entah bagaimana ceritanya ada di rumah. Mungkin bapak saya yang membawakan. Yang akhirnya saya juga tertarik untuk membacanya.
Dalam buku tersebut, tokoh kita ini dinarasikan dengan begitu baik tentang hidupnya. Juga saya mendengar dari nenek saya yang menurut penuturannya ialah gurunya. Dari mulut nenek itulah saya mendengar kecerdasannya. Kecerdasan yang luar biasa untuk orang-orang di zaman itu. Kecerdasan yang membuat orang geleng-geleng kepala.
Lebih dari itu, kecerdasan tokoh kita ini selalu dibalut dengan sorban putih atau kopiah putih yang selalu dililit di kepalanya. Sorban putih yang menjadi simbol keilmuan. Dalam buku itu, tanda tanya saya yang masih berusia belasan tahun awal tentang sorban itu kian menarik dengan kisah magis di depan polisi. Ceritanya – dalam buku itu – tokoh kita ini sedang mengendarai motor di jalan dan menjumpai polisi yang sedang menggelar razia.
Tokoh kita yang tidak memakai helm, jelas menjadi sasaran empuk bagi polisi yang sedang merazia. Saat itu, tokoh kita ini hanya memakai sorban putih yang biasa ia pakai untuk menutup kepalanya. Bagaimana tokoh kita ini lolos dari razia kepolisian itu? Ia berargumen bahwa kalau sudah mengenakan penutup kepala, maka kewajiban untuk mengenakan helm juga gugur. Karena sama-sama melindungi kepala dari potensi benturan saat jatuh. Si polisi yang merazia dengan sigap menjawab tidak bisa. Helm ya helm, sorban ya sorban. Namun, entah bagaimana kelanjutannya tokoh kita ini bisa lolos begitu saja saat dirazia polisi.
Perdebatan tentang penggunaan helm ini seperti perdebatan dalam sosiologi modern saja. Bagaimana yang lebih utama menjalankan kewajiban agama bagi orang menggunakan sorban, jilbab, atau penutup kepala lainnya dengan kewajiban negara untuk mengenakan helm saat berkendara. Akhirnya saya menemukan jawabannya dalam pidato kebudayaan Seno Gumira Ajidarma (2019) berjudul “Kebudayaan dalam Bungkus Tusuk Gigi”. Bahwa itu hanya persoalan siapa yang menghegemoni siapa atau otoritas apa yang sedang berkuasa saat itu.
Kembali ke soal argumen tokoh kita ini. Argumen itu, saya baca sebagai sebuah ijtihadnya sebagai ulama dalam menghadapi otoritas lain yang sedang menjalankan tugasnya. Dan kesan-kesan saya bahwa KH. Muhammad Hasan sebagai seorang mujtahid sangat kuat ketika membaca buku biografinya itu.
Kali lain, masih dalam buku tersebut – yang saya sudah lupa di halaman berapa – tokoh kita ini pernah melaksanakan salat ied hanya tiga atau empat orang bersama anak-anaknya di musala rumahnya. Agak aneh? Tentu saja, apalagi saya sebagai pembaca pemula waktu itu. Masyarakat yang berbondong-bondong ke lapangan desa untuk menunaikan salat ied karena ada himbauan untuk melaksanakannya di tempat tersebut. Di saat putranya bertanya, kenapa kita tidak di lapangan saja, tokoh kita ini menjawab bahwa kalau kita salat di lapangan, kita belum tentu bisa menjamin bahwa tempat tersebut suci dari najis. Kalau salat di rumah saja kita sudah bisa menjamin kesucian tempatnya. Lantas siapa yang menjadi khatib dan imamnya? Ya, tokoh kita ini yang merangkap semua tugas itu.
Di sinilah saya melihat bahwa tokoh kita juga ini sebagai guru. Guru dengan penjelasan yang masuk akal yang argumennya tentang lebih salat di masjid pada saat salat ied itu masih saya pegang sampai hari ini. Hehe. Selain itu, kisah-kisah dalam buku itu yang masih saya ingat hari ini ialah tegurannya untuk Abu Ya (H. Zainul Arifin, mantan Bupati Bima 2000-2005) kecil yang nekat mengaji sambil buang hajat di sungai di Salama, Kota Bima. Namanya juga anak-anak yang sedang semangatnya belajar ngaji, mungkin. Sampai sambil buang hajatpun sambil mengaji, begitu pikiran saya waktu membaca kisah itu sambil tertawa.
Entah bagaimana hubungannya dengan jin, saya pun lupa dalam buku itu bagaimana ia berhubungan dengan jin. Namun, yang jelas, tokoh kita ini juga menikah dengan jin. Memang tidak masuk akal? Namun, narasi yang kuat jelas mengarah pada pembenaran. Mungkin saja, karena banyak keanehan-keanehan yang dialami oleh tokoh kita ini.
Atau sebagai narasi lain, keanehan itu ialah bentuk dari “lainnya” tokoh kita ini dalam zamannya waktu itu. Misalnya, nenek saya bercerita tentang sosok beliau ini ketika sebuah ujian berlangsung. Semua peserta waktu itu tidak ada yang bisa mengerjakan soal ujian, namun, tiada lain yang mengerjakan soal ujian tersebut dengan mudah dan benar ialah tokoh kita ini. Mungkin itu yang membuatnya dianggap memiliki kekuatan lain.
Dalam sebuah kesempatan, saya dan saudara saya diajak orang tua silaturahmi ke rumah beliau di Salama itu. Minta air doa. Dengan air botol mineral itu besar kami didoakan. Tidak berlama-lama karena banyak yang mengantri untuk hal yang sama. Namun, saya lupa apa perkataan tokoh kita ini saat itu untuk kami bertiga. Yang jelas, air doa itu kami minum dan habiskan mengharap keberkahan dari orang alim dan cerdas.
Orang alim yang dalam pikiran saya waktu kecil itu dengan nama Haji Muhammad Jin yang berpulang pada musim hujan ini. Musim hujan bulan Januari di awal Sya’ban sebagai penanda salah satu ulama yang disegani di tanah ini telah berpulang dengan damai. Dalam dekapan kedamaiannya melayani umat dan murid-muridnya.

Alumni Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Founder Komunitas Mbojo Itoe Boekoe





