Terminologi Manusia dalam Al-Qur’an

Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi Khalifah (pengurus) di bumi sebagaimana yang tercantum dalam banyak ayat Al-Qur’an- (Al-Baqarah: 30, Al-An’anm: 165, Yunus: 14, Fathir: 39). Selain itu manusia juga dijadikan sebagai makhluk teristimwea di sisinya, dia berfirman: “Dan sungguh kami telah memuliakan anak cucu Adam (Manusia)”-(Al-Isra’:70). Tuhan juga menyebut manusia sebagai makhluk yang paling baik dan sempurna penciptaanya “Ahsani At-Taqwim” – (At-Thin: 4), manusia diberikan akal dan nafsu secara bersamaan, padahal malaikat hanya diberikan akal saja tanpa nafsu, dan binatang hanya diberikan nafsu saja tanpa akal, ini membuktikan bahwa Tuhan menaruh kepercayaan (Amanah) kepada manusia melibih makhluknya yang lain. Bentuk pemuliaan tersbut juga tergambar dari bagaimana tuhan menyebut manusia dalam kitabnya dengan lima nomenkelatur yaitu, Al-Insan, An-Naas, Al-Basyar, Bani Adam dan Al-Ins. Dalam sebuah adigium bahasa Arab dinyatakan:
كَثْرَةُ الْأَسْمَاءِ تَدُلُّ عَلَى شَرْفِ الْمُسَمَّى
Artinya: “Banyaknya nama yang diberikan kepada sutau object menunjukan kemuliaan object tersebut”
Kemuliaan yang tertera pada adigium tersebut juga dapat kita buktikan pada sang manusia agung nabi Muhammad Saw, yang menurut Imam Al-Jazuli dalam kitabnya “Dala’il Al-Khairat” berjumlah 201 nama, dari Muhmmad sampai Shohib Al-Faraji (orang yang memiliki kelapangan/kemudahan).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata “manusia” diinterpretasikan sebagai makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain/Nathiq). Pada perspektif lian dinyatakan: Manusia dalam bahasa Indonesia bermakna kontruksi tubuh yang berjiwa dan berakal sehingga bisa untuk dibina dan dididik melalui proses pendidikan terpadu, bukan karena keturunan semata atau lingkungan saja.

Menurut penganut teori kognitif bahwa manusia disebut sebagai homo sapiens (manusia berpikir). Menurut sudut pandang aliran ini manusia tidak di anggap lagi sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungannya, akan tetapi dia sudah diverifikasi sebagai makhluk yang selalu berfikir dan berkembang melalui intraksi-intrksi sosial, seperti yang dikatakan pula oleh Aris Toteles bahwa manusia adalah Zoon Of Politicon. Manusia secara teologis, termasuk pendapat Ibnu Al-„FArabî adalah bagian dari ciptaan Allah Swt sehingga layak dinamakan makhluk yang memiliki berbagai kemampuan bertahan hidup, berkehendak, mengetahui, berbicara, melihat, mendengar, berpikir, memilah, memilih dan mengambil keputusan.

Abdullah bin Al-Muqoffa dalam bukunya yang berjudul “Kalilah Wa Dimnah” terjemah dari buku seorang Fhilosof India bernama Bhidaba ia berkata:
قال بيدبا: إِنِّيْ وَجَدْتُ الْأُمُوْرَ الَّتِيْ اِخْتَصَّ بِهَا ‌الْإِنْسَانُ مِنْ بَيْنِ سَائِرِ الْحَيَوَانَاتِ أَرْبَعَةَ أَشْيَاءَ، وَهِيَ جَمَاعُ مَا فِيْ الْعَالَمِ، وَهِيَ الْحِكْمَةُ وَالْعِفَّةُ وَالْعَقْلُ وَالْعَدْلُ. وَالْعِلْمُ وَالْأَدَبُ وَالرَّوِيَةُ دَاخَلِةٌ فِي بَابِ الْحِكْمَةِ. وَالْحِلْمُ وَالصَّبْرُ وَالْوِقَارُ دَاخِلَةٌ فِي بَابِ الْعَقْلِ. وَالْحَيَاءُ وَالْكَرَمُ وَالصِّيَانَةُ وَالْأُنْفَةُ دَاخِلَةٌ فِيْ بَابِ الْعِفَّةِ. وَالصِّدْقُ وَالْإِحْسَانُ وَالْمُرَاقَبَةُ وَحُسْنُ الْخُلُقِ دَاخِلَةٌ فِي بَابِ الْعَدْلِ.
Artinya: “Bhidaba pernah bertutur; Sungguh aku telah menemukan hal-hal yang menjadi keistimewaan manusia dibandingkan makhluk-makhluk lainnya yaitu ada 4 hal; Pertama Hikmah (Fhilosofi), kedua Iffah (Dighnity), ketiga akal (intellect), keempat adil (kesetaraan/Equality). Ilmu, etika, dan pemikiran termasuk bagian dari hikmah. Kemudian kelapangan hati, sabar dan ketenangan jiwa termasuk dalam bagian kendali akal. Selanjutnya rasa malu, kedermawanan, proteksi, dan harga diri termasuk dalam bagian Iffah. Setelah itu kejujuran, kebaikan, kontrol diri dan moral yang baik termasuk dalam bagian adil.

Subtansi tulisan ini akan menjabarkan tentang lima terminologi manusia dalam Al-Qur’an sebagaimana yang telah penulis cantumkan di atas dari berbagai maca perspektif para mufassir dan ahli lughoh (bahasa).

1. Al-Insan

Al-Insan merupakan salah satu terminologi yang digukana oleh Al-Qur’an untuk menyebut manusia, kata Al-Insan sendiri disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 63 kali, bahkan Allah menjadikan sebuah surat khusus yang dinamai nama “Al-Insan” yaitu surat 76 juz 29. Kata “Al-Insan” berasal dari kata “النوس” yang berarti tinggal, mendalami, dan bergerak sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ar-Rahurmudzi dalam bukunya “Amtsal Al-Hadist”.

Sebagian pakar seperti Abul Husain Ahmad berpendapat bahwa Kata “al-insan” berasal dari akar kata “انس ” yang memiliki arti sebagai segala sesuatu yang berlawanan dengan sifat liar, yaitu yang bersifat jinak, teratur, harmonis, dinamis, dan bersahabat. Ada pula yang mengartikan kata “Al-Insan” secara etimologi denganlemah lembut, tampak, atau pelupa, disisi lain al-insan juga disebut dalam hubungannya dengan proses penciptaan manusia dan semua konteks al-insan menunjuk pada sifat-sifat psikologis atau spiritual. Dalam kitab “Al-Muhit Fi Al-lughoh” karya Sohib bin Ibad dijelaskan bahwa manusia disebut dengan “Al-Insan” karena manusia adalah makhluk kongkrit yang terdeteksi oleh indra penglihatan.

Dalam kitab yang sama dikatakan bahwa diksi “Al-Insan” berasal dari kata “النسيان” yang mempuyai arti lupa, ini didasari oleh sifat alamiyah manusia yaitu lupa. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Salamah bin Muslim Al-Autabi dalam bukunya “Al-Ibanah Fi Al-lughoh Al-Arabiyah”. Dalam berbagai litelatur dari bidang tafsir, hadits, lughoh dan disiplin ilmu-ilmu lain ditemukan suatu ungakapan populer yang diklaim dari Ibnu Abbas yaitu:
إِنَّمَا ‌سُمِّيَ ‌الْإِنْسَانُ إِنْسَانًا لِأَنَّهُ عُهِدَ إِلَيْهِ فَنَسِيَ وَفِيْ رواية قَالَ: «إِنَّمَا سُمِّيَ آدَمُ، لِأَنَّهُ خُلِقَ مِنْ أَدِيمِ الْأَرْضِ وَإِنَّمَا ‌سُمِيَ ‌الْإِنْسَانَ، لِأَنَّهُ نَسِيَ»
Artinya: “Manusia disebut sebagai Al-Insan dikarenakan ia sudah melakukan sebuah perjanjia dengan Tuhan, akan tetapi dia melupakannya. Dalam satu riwayat lain dari Ibnu Abbas juga berkata; Adam dinamakan dengan nama Adam karena dia diciptakan dari permukaan bumi. Dan manusia dinamakan dengan Insan karena dia memiliki sifat alamiyah yaitu lupa”.

Dalam satu ungkapan syair yang linier dengan pendapat di atas dinyatakan:
وَمَا ‌سُمِّيَ ‌الْإِنْسَانُ إلَّا لِأُنْسِهِ ÷ وَلَا الْقَلْبُ إلَّا أَنَّهُ يَتَقَلَّبُ
Artinya: “Manusia dinamakan dengan Insan karena dia memiliki sifat alamiyah yaitu lupa, dan hati tidak dinamakan qhalbu melainkan ia memiliki sifat yang tidak konsisten (sering berbolak balik)”
Meskipun pendapat ini disampaikan oleh ratusan ulama dalam buku-buku mereka, akan tetapi seorang ulama bernama Abu Ali Al-Farisi dalam bukunya “Al-Masai’il Al-Jaliyat” berpendapat bahwa jika dikatakan; Manusia dinamakan dengan Al-Insan karena dia bersifat lupa, pendapat ini sepertinya kurang tepat, karena bentuk kata Al-Insan tidak memiliki kolerasi dengan An-Nisyan dari asal usulnya bentuknya. Abu Bakar Al-Azdhy dalam bukunya “Al-Isytiqaq berkata bahwa kata “Al-Insan” berasal dari kata “إنْسِيان” yang dibuang huruf “ya” nya dalam proses I’lal. Al-Qur’an biasanya menggunakan diksi Al-Insan dalam menyebut manusia untuk menggambarkan manusia sebagai makhluk yang dinamis, dengan kapasitas untuk menghadapi tantangan internal dan eksternal dalam kehidupannya. Jika ditinjau lebih jauh dan dianalisis secara mendalam, maka penggunaan kata al-Insan megandung dua dimensi yaitu dimensi tubuh (dengan berbagai unsurnya) dan dimensi spiritual (ditiupkan roh-Nya kepada manusia).

Istilah “insan” secara komprehensif merepresentasikan manusia dalam keseluruhan potensi dan ciri-cirinya yang beragam, mencakup aspek positif dan negatif. “Insan” melingkupi seluruh dimensi eksistensi manusia, termasuk fisik, emosional, dan mental. Sifat “insan” ini menandakan kemampuan manusia untuk berkembang, belajar, dan beradaptasi, sekaligus mengakui adanya keterbatasan dan kemungkinan melakukan kekeliruan. Dengan demikian, “insan” menggambarkan manusia sebagai entitas yang dinamis, mampu mengatasi berbagai tantangan internal maupun eksternal dalam perjalanan hidupnya.

Masih terlampau banyak intrepretasi tentang terminiologi “Al-Insan” dalam berbagai macam litelatur kajian para ulama dan peneliti, sehingga para pembaca harus terus menggali dan menadalaminya

2. An-Anas

Kata Al-Nas disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 234 kali, bahkan Allah menamakan salah satu suratnya di dalam Al-Qur’an dengan nama surat Al-Nas yaitu surat 114 juz 30. Kata “al-Nas” berasal dari kata “أناس” yang berarti bergerak, dan adapun menurut kebanyakan ulama Nahwu (gramatikal bahasa Arab) kata “An-Nas” bersal dari kata “أنيس” yang berarti ramah tamah, lembut, jinak, ada pula yang berperspektif bahwa kata An-Nas bersal dari kata “نويس/ النوس” yang berati bergerak dan bergemuruh, demikianlah uraian pendapat yang dicantuk oleh Abu Al-Hasan Al-Wahidy dalam bukunya “Tafsir Al-Bashit”. Ada pula yang berpendapat bahwa “An-Nas” berasal dari “النوس” yang memiliki arti bergerak dan berkembang demikian penjelasan Abu Hilal Al-Askari dalam bukunya “Al-Furuq Al-lughowiyah” atau dari kata “الأنس” yang berarti ramah, jinak ini juga didasari karena manusia saling bertegur sapa dan bersosial seperti yang penulis kutip dari “Faidhul Qhadir” karaya Abdurrauf Al-Manawi. Kata An-Nas” merupakan lafadz bermakna jamak (manusia secara umum) yang tidak memiliki lafadz mufrad (tunggal) sama seperti lafadz “جيش” yang bermakna pasukan.

Kata menunjukkan pada hakekat; sebagai makhluk yang bersifat universal dan netral, yang secara inheren merupakan makhluk sosial, baik beriman atau-pun kafir sebagaimana yang dikatakan oleh Raghib Al-Asfhani dalam bukunya “Al-Mufradat Fi Gharib Al-Qur’an”. Dalam Al-Qur’an, kata “al-Nas” dipakai untuk menggambarkan sifat manusia yang mudah berubah-ubah. Walaupun manusia mempunyai banyak kemampuan untuk mengenal Allah, hanya sebagian kecil yang mengikuti ajaran-Nya. Sebagian lagi tidak menggunakan kemampuan, bahkan ada yang menentang kekuasaan Allah. Jadi, manusia itu punya dua sisi, bisa jadi mulia tapi juga bisa jadi buruk.
Masih terlampau banyak intrepretasi tentang terminiologi “An-Nas” dalam berbagai macam litelatur kajian para ulama dan peneliti, sehingga para pembaca harus terus menggali dan menadalaminya

3. Al-Basyar

Terminilogi “Al-Basyar” digunakan oleh Al-Qur’an sebanyak 36 kali. Secara etimologi kata “Al-Basyar” diambil dari “البشارة” yang berarti bentuk, penampilan dan sikap yang baik, manusia disebut dengan Al-Basyar karena mereka memiliki bentuk, penampilan dan sikap yang paling baik di antara seluruh makhluk yang ada. Dan boleh pula kita berpendapat bahwa “Al-Basyar” berarti nampak dan jelas, kemudian dinamakan manusia dengan “Al-Basyar” karena nampaknya eksistensi mereka sebagai makhluk Tuhan atau karena nampaknya kulit mereka dipermukaan tanpa ditutupi oleh tebalnya rambut, ini menjadi ciri khas manusia yang berbeda dengan hewan secara umum.

Kata “Al-Basyar” adalah kata yang bisa bermakna jamak dan bisa juga bermakna tunggal, atau biasa kita sebuat dengan lafadz musytarak. Adapun contoh penggunaan kata “Al-Basyar” yang bermakna jamak seumpama “محمد خير البشر” “Nabi Muhammad adalah manusia terbaik secara umum” dan contoh penggunaan kata “Al-Basyar” yang berarti tunggal deperti “إنما أنا بشر مثلكم” “Saya adalah manusia (personal) biasa seperti kalian”. (Abu Hilal Al-Askary-Mu’jam Al-Furuq Al-lughowiyah)

Secara etimologis, “basyar” mengimplikasikan keterbatasan-keterbatasan yang melekat pada manusia, termasuk memenuhi kebutuhan mendasar seperti nutrisi, hidrasi, keingintahuan intelektual, kebutuhan akan keamanan, serta aspirasi terhadap kebahagiaan. Istilah “al-basyar” dalam penggunaan Ilahi merujuk kepada seluruh entitas kemanusiaan secara universal, mencakup pula para Nabi dan Rasul. Meskipun para utusan Allah ini memiliki kesamaan dalam aspek biologi dan kemanusiaan, terdapat perbedaan yang signifikan antara mereka dengan manusia lainnya, terutama dalam hal penerimaan wahyu dan fungsi mereka sebagai pembimbing spiritual. Perbedaan ini menegaskan bahwa meskipun berbagi kodrat kemanusiaan, mereka dipilih secara khusus oleh Allah untuk mengemban amanah yang membedakan mereka dari individu lainnya. Namun, dari sudut pandang biologi, terminologi “al-Basyar” juga mengindikasikan fungsi ideal manusia, yaitu memberikan kontribusi positif dan kenyamanan bagi keberadaan makhluk hidup lain, di samping peran utamanya sebagai penyampai kabar gembira dan peringatan (“basyîra wa nadzîra”).

4. Bani Adam (keturunan Adam/Anak cucu Adam)

Bani Adam sebuah terminologi yang digunakan pula oleh Al-Qur’an untuk menyebut manusia, kata ini berulang disebut dalam Al-Qur’an sebanayak 8 kali. Bani Adam secara lebih spesifik menginterpretasikan manusia sebagai keturunan atau anak cucu Adam yang tercipta dari tanah, ini mengindikasikan bahwa ketika Al-Qur’an menggunakan diksi ini untuk menyebut manusia maka ia menghendaki asal usul materi diciptakannya manusia (makhluk yang diciptakan dari unsur tanah).

Adam merupakan homo sapiens (Animal Rasional/Hayawan An-Natiq) baru yang tercipta dari tanah liat (أدم الأرض) Allah menciptakannya untuk menjadi pengganti khalifah bumi dari spesies-spesies sebelumnya sebagaiamana komentar Rasyid Ridha dalam tafsirnya yang berjudul “Al-Manar”. Dan manusia-manusia setelahnya disebut dengan Bani Adam yaitu Animal Rasional yang lahir dari homo sapiens Adam sebagai generasi penerus estapet tonggak juang Adam yang menjadi Khalifatul Ardhi dan penegak amanat-amanat Tuhan yang maha agung.

Menurut Thabathaba’i, sebagaimana disampaikan oleh Ramayulis dalam bukunya “Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya” istilah “Bani Adam” dalam Al-Qur’an Merujuk kepada manusia secara universal. Penggunaan istilah ini menggarisbawahi tiga aspek penting: anjuran untuk berbudaya sesuai dengan tuntunan Allah, seperti perintah menutup aurat; peringatan kepada seluruh keturunan Adam agar tidak terperdaya oleh rayuan setan yang mengarah pada kekafiran; dan kewajiban untuk memanfaatkan sumber daya alam semesta sebagai sarana ibadah dan pengesaan Allah.

5. Al-Ins

Selain empat terminologi di atas, Al-Qur’an juga menggunakan kata “Al-Ins” untuk menyebut manusia. Penyebutan kata Al-Ins terdapat dalam Al-Qur’an sebanyak 18 kali dan selalu disandingkan dengan kata “Al-Jin”. Ini memberikan sebuah indikasi bahwa manusia, sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah, dapat terlihat oleh indra secara fisik, sementara jin adalah makhluk yang tidak tampak dengan indera manusia, sehingga mereka dikategorikan sebagai makhluk metafisik, sesuai dengan arti dasar kata “Al-Jin” yaitu tertutup, hilang dan pergi, artinya jin itu tertutup, hilang, pergi dan jauh dari penglihatan manusia atau akhluk hidup secara umum.

Pengkolerasian kata “Al-Ins” dan “Al-Jin” ini juga memberikan makna bahwa manusia dan jin adalah dua makhluk Tuhan yang diberikan beban/amanat syari’at secara khusus, maka keduanya sering disebut juga dengan istilah “الثقلين” yang berarti dua makhluk yang diberikan beban amanat hukum olehTuhan. Dia berfirman “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembahku”-(Adz-Dzariyat:56) sehingga dari mereka ada yang taat dan ada yang ingkar terhadap amanah Tuhan itu, yang menjalankan amanahnya akan di Surga sedangan yang menelantarkannya akan di Neraka.

Inilah Terminologi manusia dalam Al-Qur’an yang penulis jelaskan secara singakat, tulisan ini penulis peras dari buku-buku Tafsir, Hadist, Lughoh dan kajian-kajian terkait dalam bentuk buku dan jurnal. Tentu tulisan ini masih jauh dari kata khompresnship dalam menkaji terminologi manusia dalam Al-Qur’an, oleh karena itu penulis menganjurkan untuk pembaca agar tidak mencukupkan diri dengan tulisan yang sederhana ini. Teruslah gali dan komparaiksan dengan tulisan-tulisan lain.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *