Definisi dan Asal Usul Bahasa

Kridalaksana (1993: 21) dan Depdikbud (1997: 77) berpendapat Bahasa merupakan sistem bunyi yang sistematis, Arbitres (manasuka) yang digunakan untuk berkomunilkasi, berintraksi dan mengidentifikasi diri. Definisi bahasa di atas menjadi sumber hakikat sebuah bahasa yang dapat memberikan makna.

Aristoteles (W. 322 SM) Mendefinisikan Bahasa sebagai alat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan manusia. Definisi ini menjelaskan bahwa bahasa adalah cara untuk mengungkapkan isi hati dan otak, dengan kata lain pikiran dan rasa adala pemeroduk bahasa itu sendiri. Definis Aristoteles ini kemudian hari dikutip oleh Sultan Ali Syahbana pada tahun 1952.

Seorang sastrawan Muslim yang hidup sekitar abad 3 menjelang 4 Hijriah bernama Utsman bin Jinny Al-Musily atau yang lebih populer dengan nama Ibnu Jinny beliau di dalam bukunya yang berjudul “Al-Khasais” mendifinisikan bahasa sebagai:

هِيَ الْأَصْوَاتُ الَّتِيْ يُعَبِّرُ بِهَا كُلُّ قَوْمٍ عَنْ أَغْرَاضِهِمْ

Artinya: “Bahasa adalah suara-suara simbolik yang digunakan oleh setiap kelompok manusia untuk mengungkapkan tujuan dan maksud mereka”

Al-Jurjani mendefinisikan bahasa dengan bahasa yang lebih jeneral dari Ibnu jinny yaitu:

هِيَ مَا يُعَبِّرُ بِهَا كُلُّ قَوْمٍ عَنْ أَغْرَاضِهِمْ

Artinya: “Bahasa adalah segala sesutau yang digunakan oleh setiap kelompok manusia untuk mengungkapkan tujuan dan maksud mereka” Al-Jurjani tidak membatasi bahasa hanya pada suara akan tetapi segala sesuatau yang bisa menjadi media untuk saling memahami adalaha bahasa.

Soenjono  Dardjowidjojo,  bahasa  adalah  seperangkat  simbol  verbal sewenang-wenang   yang   digunakan   orang-orang   dalam   komunitas   linguistik   untuk   terlibat   dan berkomunikasi  satu  sama  lain  berdasarkan  budaya  bersama.

Bahasa, menurut Gorys Keraf (W. 1997) adalah sistem lambang bunyi yang dihasilkan oleh manusia dan berfungsi sebagai alat komunikasi sosial. Bahasa memungkinkan kita untuk berpikir dan berinteraksi dengan orang lain. Bahasa dan budaya memiliki hubungan yang erat, di mana bahasa mempengaruhi cara berpikir seseorang.

Noam Chomsky berpendapat bahwa bahasa adalah bagian dari pikiran yang dideskripsikan sesuai dengan daya pikiran dan sistem kognitif manusia. Sementara itu, Leonard Bloomfield, seorang ahli bahasa, menyatakan bahwa bahasa memungkinkan seseorang untuk memberikan respons terhadap rangsangan yang diterima dari orang lain.

Dari berbagai definisi yang diungkapkan oleh para pakar bahasa di atas, maka bahasa tentu memiliki rancangan/rukun untuk terbentuk sebagai sebuah bahasa yang diakui dan disepakati oleh satu kelompok tertentu.

Secara sistematis hakikat bahasa dibagi menjadi dua, yaitu bunyi dan makna.

Bunyi yang dimaksudkan iyalah setiap bunyi yang keluar dari sesuatu, secara khusus yang keluar dari mulut manusia, seperti bunyi A B C D sampai Z, semua bunyi ini tidak akan dikatakan bahasa apabila tidak teratur, contoh pada bunyi berikut ( X D P T H ). Gabungan daru beberapa Bunyi XDPTH akan sulit diucapkan karena tidak teratur, dalam ilmu balaghoh ini dikenal dengan “STIQOL” (berat). Kemudian bunyi tersebut dapat dikatakan bahasa apabila dia teratur, contoh pada kumpulan bunyi berikut (A B D U L H A L I M) apabila digabung menjadi Abdul Halim, maka bunyi yang seperti ini dapat dikatakan bahasa karena keteraturannya.

Sedangkan secara makna, bunyi yang teratur akan dikatan bahasa apabila memenuhi kaidah bahasa “SPOK” seperti YANI (s) MAKAN (p) NASI (o) “yanimakannasi”. Setiap bunyi yang terarut sebagai Subjek, Pekerjaan dan Objek disamping sudah memberikan makna kepada yang mendengar dan membacanya. Kedua unsur ini, baik bunyi maupun makna akan mwnjadi bahasa bila keduanya sudah tersistematis.

  1. Arbitrer (manasuka).

Arbitrer atau manasuka bagian kedua dari hakikat bahasa ini menjadi penting karena akan tercipta melalui kesepakan. Contoh pada bunyi ( ANJING, ACONG, BASONG, DOG, ASU, كلب ) bunyi-bunyi ini tidak akan ada apabila setiap “orang didaerahnya tidak menyepakatinya”, atau seperti bunyi (LOAS, BUSUK, DEDES, BINGKALAN, BANGKAHAN). semua ini tentu tidak akan menjadi bahasa bila tidak ada kesepakatan.

Bunyi yang tidak menyinngung seseorang (berkaidah), secara aturan bunyi tersebut memanusiakan manusia.

Bagian terakhir ini Hubungan antara Subjek dengan Objek. Dimana subjek berhak memberikan simbol secara bahasa sesuatu yang dia temukan. Seperti Bunyi “SENDOK”. Orang yang mendengar bunyi ini secara langsung akan membayangkan sesuatu yang biasa digunakan untuk makan, modelnya begini-begini.

Baca Juga  Imaji Kebangsaan Kaum Muda

Adapun teori tentang asal-usul bahasa ini, terbagai menjadi tiga aliran madhzhab sebagaimana yang dijelaskan oleh Jalaluddin As-Syuthy di dalam bukunya “Al-Iqtirah Fi Ushul An-Nahwi”

  1. Madzhab Al-Asy’ary

Madzhab Al-Asy’ari ini berpendapat bahwa bahasa adalah murni pemberian Tuhan kepada makhluk-makhluknya yang berfungsi sebagai alat komunikasi untuk saling memahami satu sama lain. Kemudian para penganut aliran ini, berbeda perspektif pada aspek mekanisme Tuhan menciptakan dan mengajarkan bahasa kepada makhluk-makhluknya.

  • Tuhan menyampaikan dan mengajarkan bahasa melalui wahyu kepada para nabinya (Adam) yang kemudian mengajarkan bahasa kepada anak keturunannya. Pendapat ini dianggap yang paling kuat karena berlandaskan pada sumber pedoman kehidupan (Al-Qur’an) surat Al-Baqarah ayat, 31 yaitu;

وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَاۤءَ كُلَّهَا

Artinya: “Dan dialah (Allah) yang mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya.”

Ibnu Abbas berpendapat bahwa Allah mengajarkan kepada Adam seluruh nama-nama dan bendanya, hingga nama kertas, ukuran, takaran, bahkan suara kentut yang besar dan yang kecil. Ibnu Abi Hatim di dalam tafsirnya menukil riwayat lain dari Ibnu Abbas bahwa dalam ayat tersebut, Allah mengajarkan kepada Adam tentang nama-nama (jenis, ras, suku, kebangsaan, bahasa dan lain-lain) manusia dan hewan.

Para penganut aliran ini berkata; isi ayat tentang Allah yang mengajarkan kepada Adam Al-Asma’ ini menunjukan bahwa bahasa murni dari Allah, dan dia menyampaikannya dalam bentuk wahyu kepada para nabinya. Ibnu Jinny sepakat dengan pendapat ini dan beliau menukil pendapat gurunya Abu Ali Al-Farisi, dan  mereka berdua adalah orang mu’tazilah.

  • Tuhan mengadakan bahasa dengan cara menciptakan simbol suara pada sebagian anggota tubuh manusia yang mengindikasikan cikal bakal adanya bahasa, kemudian suara-suara itu diperdengarkan dan disebar luaskan secara turun-temurun yang membentuk bahasa.
  • Tuhan mengadakan bahasa dengan menciptakan Ilmu DhoruriI (naluriah/intuisi)/kemampuan khusus pada sebagian makhluk (manusia) untuk berkomunikasi dan berintraksi dengan kemampuan tersebut, lalu kemudian mereka saling mengajarkan satu sama lain dengannya dan membentuk bahasa.
  1. Madzhab Istilahiyah

            Madzhab Istilahiyah ini memiliki perspektif bahwa bahwa bahasa adalah bentuk             kesepakatan yang dibuat oleh manusia. Oleh sebab itu aliran ini mempercayai      bahwa bahasa bukan dari Tuhan, akan tetapi murni dibuat oleh manusia. Madzhab           ini  menyikapi ayat pada surat Al-Baqarah di atas dengan mentakwilnya menjadi;           Allah memberikan kemampuan kepada manusia (Adam) untuk menciptakan      bahasa. Pendapat ini juga dipelopori oleh Ibnu jinny.

            Kata sebagian penganut aliran ini barang kali cara manusia membentuk bahasa   adalah dengan berkumpulnya para pemuka suatu kelompok satu, dua, tiga orang atau lebih yang menyepakati lafaz-lafaz untuk menjelaskan suatu benda atau            kerja. Kemudia lafaz-lafaz itu disebarkan luaskan dan diketahui secara umum dan    selanjutnya disepakati oleh khalayak umum.

            Sebagian Penganut aliran ini juga berpendapat bahwa asal usul seluruh bahasa   adalah simbol suara yang dapat didengar oleh telinga, seperti hembusan angin,    petir, aliran air, suara gagak, rintihan kuda, suara keledai dan lain-lain. Suara-         suara tersebut yang diserap dan dibentuk menjadi bahasa oleh manusia. Pendapat ini dianggap baik oleh Ibu Jinny.

  1. Madzhab Al-Waqfu

            Madzhab ini diam tanpa komentar tentang asal usul bahasa, karena untuk             menentukan bahasa diciptakan oleh tuhan atau manusia itu belum ditemukan dalil           yang valid dan terverifikasi secara pasti. Oleh sebab itu madzhab ini memilih diam         tanpa komentar. Ibnu jinny diakhir pendapatnya memilih aliran ini.

Noam Chomsky ikut berkomentar tentang asal usul bahasa yaitu, bahasa pada dasarnya bersifat alamiyah dan berfungsi secara alamiyah pula. Lebih jauh dia berkata bahwa pada diri setiap insan daya bahasa yang pada dasarnya adalah kekayaan berumpun  walaupun selanjutnya dalam perkembangannya membentuk pola-pola berbeda yang dipengaruhi oleh lingkungan diamana bahasa itu tumbuh dan berkembang. Orang-orang Arab berkata:

Baca Juga  Merariq sebagai Perekat Sosial

اللُّغَةُ تَنْمُوْ لَا تَتَجَمَّدُ

Artinya: “Bahasa itu berkembang dia tidak beku (stagnan)”

Mark Müller memperkenalkan Ding-dong Theory atau disebut juga nativistik theory. Teori ini tidak bersifat imitasi atau interyeksi. Teoriya didasarkan pada konsep mengenai akaryang lebih bersifat tipe fonetik. Teori ding-dong menyebutkanbahwa bahasa berasal dari upaya manusia untuk meresponsbunyi-bunyi yang dihasilkan alam.

Untuk menyikapi semua perbedaan teori di atas dari beragam perspektif dan aliran, ada pandangan dari Abu Al-Hasan Al-Akhfas yang mempertemukan benang merah di anatara seluruh teori diatas dengan menyatakan “Semua bahasa dalam bermacam perspektif dan aliran yang ada, tidak terbentuk dan tercipta dalam satu waktu. Akan tetapi bahasa tercipata secara berkala dan berporoses step bay step).

Selanjutnya Al-Akhfas menjelaskan bahwa keberagaman bahasa yang ada, pada dasarnya bersmuber dari bahasa yang terbentuk dengan istilah dan nomenkelatur yang pertama kali diciptakan dalam bentuk berbeda-beda, kemudia dengan berkembangnya zaman maka manusia memunculkan hal-hal baru, baik dalam bentuk benda ataupun kerja yang butuh untuk diberikan bahasa/istilah. Maka istilah atau bahasa baru itu tidak terlepas dari analogi bahasa sebelumnya atau yang pertama kali dibuat dan disepakati.

Al-Akhfas juga memiliki hipotesa bahwa bisa jadi bahasa pada mulanya diciptakan dalam satu bentuk ragam kata. Kemuadia setelah manusia beranak pinak dan berketurunan maka mereka (anak-anak/keturunan) membuat sebuah terminology dan nomenkelatur baru yang disepakati. Mereka membuat komponen bahasa baru yang sama seperti analogi bahasa sebelumnya. Al-Akhfas juga berkata, bisa jadi pada mulanya bahasa itu beragam dan bermacam dan kemudian setalah berkembangnya zaman dan kebutuhan manusia maka sebelumnya diubah dengan bahasa baru yang disepakati dan susuai dengan perkembangan zaman.

Selanjutnya setelah berbagai macam teori tentang Asal usul bahasa disampaikan. Maka sampailah manusia pada abad ke 19 disini kemudia asal-usul bahasa secara modern diperkenalkan yaitu; Pencarian asal-usul bahasa diera modern ini dilakukan melalui pendekatan Antropologi dimana “bahasa tidak bisa berdiri sendiri tanpa ada sandarannya”. Dalam arti bahasa tidak akan ada apabila yang berbahasa (manusia) tersebut tidak ada. Teori ini juga sebagai bentuk penyederhanaan semua teori-teori yang ada sebelumnya.

Sebagai Penutup: “Saya tidak dapat meragukan bahwa bahasa berasal dari imitasi dan modifikasi, dibantu oleh isyarat dan gerakan, terhadap berbagai suara alam, suara binatang lainnya, dan teriakan naluriah manusia sendiri”

—Charles Darwin, 1871. The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex. [35]

Masih banyak penelitian, persfektif dan teori-teori tentang asal usul lahirnya bahasa yang tidak penulis cantumkan. Oleh sebab itu untuk para pembaca agar tidak merasa cukup dengan tulisan ini.

 

Sumber Referensi

Utsman bin Jinny Al-Musily, Al-Khasais (Mesir, Al-Hayah Al-Misriyah Al-Ammah Li Al-kitab 2003)

Jalauddin As-Syuthy, Al-Ikhtirah Fi Ushul An-Nahwi (Beirut, Darol Beiruty, 2006)

Ali bin Muhammad Al-Jurjani, At-Ta’rifat (Al-Haramain, 2008)

Ar-Rhazi Ibnu Abi Hatim, Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim (Al-Mamlakah Al-Arabiyah. Maktabah nizar Musthafa Baz 1998)

Wati Susiawati, Al-Jurjani versus Chomsky (DKI Jakarta, Publica Insitute Jakarta. 2020)

Muhammad Thariq Aziz, Asal Usul Bahasa Dalam Perspektif Al-Qur’an Dan Sains Modern (Utile Jurnal Kependidikan)

Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat Indonesia, Asal Usul Bahasa Menurut Perspektif Al-Qur’an (Jurnal Religion: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya https://maryamsejahtera.com/index.php/Religion/index P-ISSN : 2962-6560 , E-ISSN : 2963-7139)

Ening Herniti, Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, BAHASA DAN KELAHIRANNYA (Adabiyyāt, Vol. 9, No. 1, Juni 2010)

AsalMulaBahasa. id.wikipedia.orgdiskusi.bizthis.ggkarir.comwiki.edunitas.com, dan lain sebagainya.

Mahmuddin Siregar, SEJARAH BAHASA DAN HUBUNGANNYA DENGAN AL-QUR’AN (al-Maqasid Volume 2 Nomor 1 2016)

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *