Phubbing, Dosa Sunyi dalam Etika Komunikasi

Di tengah derasnya arus digital, ada satu fenomena yang tampak sepele namun perlahan menggerus kualitas relasi antarmanusia, yakni phubbing. Istilah ini merupakan gabungan dari kata phone dan snubbing, yang berarti tindakan mengabaikan orang di hadapan kita, karena lebih sibuk dengan ponsel. Sekilas aktivitas phubbing ini tampak biasa—sekadar mengecek pesan, scrolling media sosial, atau membaca notifikasi, namun jika ditelaah lebih dalam, phubbing bukan sekadar kebiasaan, melainkan problem etika yang menyentuh aspek penghargaan, empati, dan kemanusiaan itu sendiri.

Bayangkan sebuah forum diskusi, seseorang sedang berbicara dengan penuh semangat, menyampaikan gagasan yang telah ia siapkan dengan sungguh-sungguh. Namun di hadapannya, sebagian peserta justru sibuk menunduk, jari-jarinya menari di atas layar, sesekali tersenyum sendiri pada konten yang tidak ada kaitannya dengan konteks pembicaraan. Apa yang sebenarnya terjadi? Secara fisik mereka hadir, tetapi secara mental dan emosional mereka absen. Inilah wajah nyata phubbing—ketidakhadiran dalam kehadiran.
Secara etika, phubbing mencerminkan krisis penghargaan terhadap orang lain. Dalam tradisi etika klasik, mendengarkan adalah bentuk penghormatan paling mendasar. Ketika seseorang berbicara, ia tidak hanya menyampaikan kata-kata, tetapi juga menyerahkan perhatian, waktu, bahkan sebagian dari dirinya. Mengabaikan pembicaraan tersebut sama saja dengan menolak keberadaan dan nilai orang tersebut. Dalam konteks ini, phubbing bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan bentuk ketidakpedulian yang halus namun menyakitkan.

Lebih jauh lagi, phubbing merusak kualitas komunikasi, karena komunikasi itu bukan hanya soal berbicara, tetapi juga tentang mendengar secara aktif. Mendengar aktif berarti hadir sepenuhnya—dengan perhatian, empati, dan respons yang tepat. Ketika seseorang melakukan phubbing, ia kehilangan kemampuan untuk menangkap makna yang lebih dalam dari isi pembicaraan. Ia mungkin mendengar kata-kata, tetapi gagal memahami pesan. Akibatnya, komunikasi menjadi dangkal, relasi menjadi rapuh, dan kepercayaan perlahan memudar.

Dalam forum-forum resmi—baik akademik, keagamaan, maupun sosial—phubbing memiliki dampak yang lebih serius. Forum adalah ruang bersama yang dibangun atas dasar kesepakatan untuk saling menghargai. Setiap orang memiliki hak untuk didengar dan kewajiban untuk mendengarkan. Ketika phubbing terjadi, keseimbangan ini terganggu. Pembicara merasa tidak dihargai, peserta lain terganggu, dan suasana forum kehilangan kesakralannya. Forum yang seharusnya menjadi ruang pertukaran gagasan berubah menjadi sekadar formalitas tanpa makna.

Menariknya, jauh sebelum istilah phubbing dikenal, Islam telah memberikan panduan etika komunikasi yang sangat mendalam. Salah satu contohnya adalah larangan berbicara ketika khutbah Jum’at berlangsung. Dalam hadis disebutkan, bahkan mengatakan “diam” kepada orang lain saat khutbah berlangsung dapat menghilangkan pahala Jumat. Mengapa demikian tegas? Karena khutbah bukan sekadar ceramah, melainkan momen sakral yang menuntut kehadiran jamaah secara utuh—baik secara fisik maupun batin.

Jika kita refleksikan, larangan ini sejatinya adalah bentuk pencegahan terhadap phubbing dalam versi klasik. Berbicara saat khutbah adalah bentuk gangguan, sebagaimana memainkan ponsel saat orang lain berbicara di forum masa kini. Keduanya sama-sama menunjukkan ketidakseriusan dalam mendengar. Islam dengan hikmahnya, mengajarkan bahwa mendengar adalah ibadah, mendengar bukan aktivitas pasif, akan tetapi tindakan aktif yang membutuhkan kesadaran dan penghormatan.

Lebih luas lagi, Al-Qur’an menekankan pentingnya adab dalam berinteraksi. Dalam banyak ayat, manusia diajarkan untuk berbicara dengan baik (qaulan sadidan), mendengar dengan penuh perhatian, dan tidak meremehkan orang lain. Nilai-nilai ini menunjukkan bahwa komunikasi dalam Islam bukan hanya soal isi, tetapi juga soal sikap. Phubbing dalam perspektif ini, jelas bertentangan dengan semangat adab yang diajarkan Islam.

Bahkan dalam surat Luqman ayat 18 yang berbunyi “wa lâ tusha‘ir khaddaka lin-nâsi”. Artinya: Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia. Ayat ini dapat dijadikan alasan bahwa phubbing menjadi suatu keadaan yang bertentangan dengan etika komunikasi.

Kandungan ayat ini bukan sekadar larangan tentang sikap fisik, tetapi peringatan mendalam tentang etika kehadiran dan penghargaan terhadap sesama. Dalam konteks kehidupan modern, phubbing dapat dipahami sebagai bentuk baru dari “memalingkan wajah” tersebut. Bedanya, bukan lagi wajah yang berpaling secara kasat mata, melainkan perhatian yang beralih ke layar. Ketika seseorang lebih sibuk dengan ponselnya saat orang lain berbicara, sejatinya ia sedang mempertontonkan sikap yang tidak hanya mencederai etika, tetapi juga melukai kesehatan komunikasi dan meretakkan relasi kemanusiaan.
Akan tetapi, mengapa phubbing ini begitu mudah terjadi? Salah satu sebabnya adalah desain teknologi itu sendiri. Ponsel dirancang untuk menarik perhatian—dengan notifikasi, warna, suara, dan algoritma yang membuat kita terus ingin kembali. Tanpa kesadaran yang kuat, manusia mudah terjebak dalam siklus ini. Akibatnya, perhatian kita terpecah, dan kemampuan untuk hadir secara utuh menjadi semakin langka.

Di sinilah pentingnya kesadaran etis, bahwa menggunakan teknologi bukan berarti menyerahkan kendali kepada teknologi, kita harus tetap memiliki pilihan; apakah akan menjadi pengguna yang bijak atau justru menjadi “budak layar”. Dalam konteks forum, pilihan ini menjadi sangat krusial. Dengan menyimpan ponsel sejenak, menatap pembicara, dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh adalah tindakan kecil yang memiliki makna besar.

Menghargai orang lain tidak selalu membutuhkan tindakan besar, kadang cukup dengan mendengarkan. Dalam dunia yang semakin bising, menjadi pendengar yang baik adalah bentuk keistimewaan. Ia menunjukkan bahwa kita peduli, bahwa kita menghargai, dan bahwa kita mengakui keberadaan orang lain. Sebaliknya, phubbing adalah tanda bahwa kita lebih memilih dunia virtual daripada realitas di depan mata.

Jika kita ingin membangun budaya komunikasi yang sehat, maka kita perlu memulai dari hal sederhana, yakni hadir seutuhnya dalam setiap percakapan, dalam setiap forum, dalam setiap pertemuan. Hadir bukan hanya dengan tubuh, tetapi juga dengan hati dan pikiran. Ini bukan hanya soal etika sosial, tetapi juga soal kualitas kemanusiaan.
Sebagai catatan pinggir, bahwa phubbing mengajarkan kita satu hal penting, bahwa teknologi tidak boleh mengalahkan nilai. Kita boleh memiliki ponsel canggih, akses informasi tanpa batas, dan koneksi global, tetapi jika kita kehilangan kemampuan untuk menghargai orang yang sedang berada di hadapan kita, maka semua itu menjadi sia-sia. Islam telah memberikan pedoman yang jelas—bahwa mendengar adalah bagian dari adab, dan adab adalah cermin iman.

Maka saat kita berada dalam sebuah forum, mari kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita benar-benar hadir? Ataukah kita hanya sekadar ada, sementara pikiran kita sibuk di tempat lain? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan bukan hanya kualitas komunikasi kita, tetapi juga kualitas diri.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *