Takbir yang menggema di langit-langit masjid kini perlahan menjauh seperti gema rindu yang ditelan angin. Jalanan yang dipenuhi senyum, aroma sate, suara pisau yang beradu dengan talenan, dan tangan-tangan yang saling berbagi, kini kembali seperti biasa. Semua tampak selesai, tetapi sesungguhnya ada sesuatu yang belum selesai di dalam dada manusia, yakni perenungan tentang hidup yang begitu singkat, dan tentang betapa kecil sebenarnya pengorbanan yang Tuhan minta dari hamba-Nya.
Tuhan tidak meminta kita berqurban setiap hari, tidak pula setiap pekan, dan bahkan tidak setiap bulan. Ia hanya meminta untuk berqurban sekali dalam setahun. Dan itu pun bukan seluruh kekayaan yang kita punya, bukan seluruh tabungan kita, bukan pula seluruh sawah kita, bukan seluruh hasil kerja keras kita, dan bukan juga seluruh isi rumah kita, akan tetapi hanya sedikit saja, hanya secuil dari rezeki yang diam-diam sesungguhnya juga berasal dari-Nya. Namun anehnya, manusia tetap merasa berat.
Kita sering lebih mudah menghabiskan uang untuk hal-hal yang memuaskan gengsi, dibanding mengeluarkannya untuk sesuatu yang menghidupkan nurani. Kita tidak terlalu banyak berpikir saat membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, tetapi menjadi sangat perhitungan ketika Tuhan meminta sebagian kecil nikmat-Nya dikembalikan untuk mereka yang lapar dan jarang menikmati daging.
Padahal qurban bukan soal daging.
Qurban adalah tentang hati yang sedang diuji, masihkah hati kita mencintai Tuhan melebihi cintanya kepada kepemilikan?
Qurban adalah tentang hati yang sedang diuji, masihkah hati kita mencintai Tuhan melebihi cintanya kepada kepemilikan?
Jalaluddin Rumi pernah menulis kalimat yang sangat indah, “Why are you so busy with this or that or good or bad? Pay attention to how things blend.” Mengapa manusia begitu sibuk dengan urusan dunia, sampai lupa bahwa hidup ini sedang bergerak menuju satu titik yang pasti, yakni ”pulang”. Dan qurban sesungguhnya adalah pengingat tentang kepulangan itu.
Lihatlah hewan-hewan yang kemarin disembelih, mereka semua rebah dalam iringan suara takbir. Dari sana Tuhan seperti sedang berbicara perlahan kepada kita: ”Sungguh suatu hari nanti, engkau pun akan rebah.” Bedanya, hewan qurban masih diiringi takbir dan tangan-tangan manusia. Sedangkan kematian kita belum tentu disaksikan oleh banyak orang. Bisa jadi sunyi, bisa jadi mendadak, dan bisa jadi ketika semua rencana belum selesai. Karena hidup memang tidak pernah memberi kepastian selain kefanaan.
Kita sering berkata, “InsyaAllah tahun depan saya berqurban.” Kalimat itu memang indah. Tetapi sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu apakah dirinya masih akan hidup hingga tahun depan. Banyak orang tahun lalu masih berdiri di shaf salat Idul Adha, masih menggenggam tali hewan qurbannya, masih tersenyum bersama keluarga. Namun hari ini nama mereka hanya tinggal doa di batu nisan. Begitulah hidup, ia tidak selalu memberi tanda sebelum mengambil seseorang untuk pergi.
Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa dunia ini hanyalah “bayangan yang lewat.” Kita mengiranya menetap, padahal ia sedang bergerak menjauh sedikit demi sedikit. Umur manusia seperti es batu yang perlahan mencair tanpa suara. Kita merasa masih memilikinya, padahal setiap detik sesungguhnya sedang kehilangan.
Karena itu, qurban bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah cara Tuhan mendidik manusia agar tidak terlalu mencintai dunia, sebab manusia yang terlalu mencintai dunia akan sulit mengulurkan tangannya untuk memberi. Dan manusia yang sulit memberi, biasanya bukan karena tidak punya, melainkan karena takut kehilangan dan kekurangan.
Padahal bukankah selama ini Tuhan yang mencukupi? Bukankah selama ini kita berkali-kali selamat dari kesulitan yang tidak pernah kita bayangkan jalan keluarnya? Tetapi kita memang sering aneh. Ketika kita butuh, kita meminta kepada Tuhan, dan sangat percaya bahwa Tuhan itu Maha Kaya. Namun ketika diminta berbagi karena Tuhan, kita sering mendadak merasa diri akan jatuh miskin.
Di situlah qurban menjadi cermin, bahwa ia memperlihatkan siapa diri kita sebenarnya. Apakah harta yang kita miliki telah berada di tangan, atau justru telah masuk terlalu jauh ke dalam hati?. Sebab sesuatu yang berada di tangan masih mungkin untuk bisa dilepaskan. Tetapi sesuatu yang telah bersarang di hati akan sangat sulit dikorbankan.
Dan yang paling menyentuh dari semuanya adalah: Tuhan sebenarnya tidak membutuhkan qurban kita, daging itu tidak sampai kepada-Nya, darah itu tidak naik ke langit. Yang sampai hanyalah ketakwaan, keikhlasan, dan cinta seorang hamba yang rela melepaskan sesuatu karena Tuhannya.
Itulah sebabnya mengapa qurban selalu terasa romantis dalam makna spiritualnya. Ia seperti percakapan sunyi antara manusia dan Tuhan. Tidak semua orang mampu memahami rahasia keindahannya. Sebab di dalam qurban ada bahasa cinta yang tidak selalu bisa diterjemahkan dengan logika.
Dan seorang hamba yang mencintai Tuhan akan rela memberi demi Tuhannya. Dan qurban sejatinya bukan tentang kehilangan, melainkan tentang membuktikan cinta.
Namun kawan, ada satu hal yang sering terlupakan setelah Idul Adha berlalu: waktu menuju qurban berikutnya ternyata sangat panjang, tetapi umur kita bisa sangat pendek. Bisa jadi kita masih sempat bertemu Ramadhan berikutnya—bisa juga tidak. Bisa jadi kita masih mendengar takbir tahun depan—bisa juga tidak. Dan bila ternyata Tuhan memanggil kita sebelum musim qurban berikutnya tiba, maka penyesalan tidak lagi berguna.
Coba kita renungkan hadis Nabi SAW: ”Man wajada sa‘atan fa lam yudhahhi, fala yaqrabanna mushallānā.” Barangsiapa memiliki kelapangan rezeki tetapi tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami. (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini bisa saja menjadi peringatan bagi hati yang masih hidup, akan tetapi ia menjadi tamparan bagi hati yang mulai mati rasa terhadap panggilan Tuhan.
Mengapa Nabi SAW sampai menggunakan kalimat sekeras itu? Karena qurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan. Qurban adalah ujian tentang siapa yang lebih kita cintai: Tuhan atau kepemilikan.
Orang-orang Arab memiliki ungkapan yang begitu dalam: qad jaffa al-qalam — pena telah kering. Artinya, keputusan Tuhan telah selesai ditulis, tidak ada lagi tambahan waktu, tidak ada lagi kesempatan mengulang hidup, tidak ada lagi kesempatan berkata, “Tunggu sebentar, saya ingin bersedekah dulu… saya ingin lebih baik dulu… saya ingin memperbaiki diri dulu…” Sebab kematian tidak selalu datang setelah kesiapan. Kadang kematian itu datang justru ketika manusia sedang menunda-nunda kebaikan.
Karena itu, jangan terlalu percaya pada kata “nanti.” Kata “Nanti” adalah kata yang paling sering menipu manusia. Nanti kalau kaya saya akan berbagi, nanti kalau mapan saya akan rajin ibadah, nanti kalau ada waktu saya akan pulang menemui orang tua, nanti kalau umur panjang saya akan berqurban. Padahal banyak manusia yang hidupnya justru selesai sebelum “nanti” itu tiba.
Sebagai catatan pinggir, Ali ibn Abi Talib pernah berkata dengan sangat indah, “Dunia sedang pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat sedang datang mendekat.” Tetapi kita sering berjalan sebaliknya: mengejar dunia sepenuh hati sambil melupakan akhirat yang diam-diam semakin mendekat.
Maka setelah qurban ini usai, jangan hanya menyimpan foto dan kenangan. Simpan juga getaran kesadaran, bahwa hidup ini sebentar, harta hanyalah titipan, apa yang kita makan akan habis. Yang kita simpan bisa diwariskan, akan tetapi yang kita berikan karena Tuhan, itulah yang akan tinggal menemani perjalanan panjang setelah kematian.
Dan jika suatu hari nanti ternyata kita tidak sempat bertemu Idul Adha berikutnya, setidaknya pernah ada seekor hewan qurban yang menjadi saksi bahwa kita pernah mencoba mencintai Tuhan dengan ikhlas, walau hanya melalui secuil pengorbanan.[]

Dosen UIN Mataram





