Barangkali tidak ada ironi yang lebih menyakitkan daripada melihat seorang petani kelaparan di tengah hamparan sawah yang menghijau. Tanahnya subur, airnya melimpah, matahari bersinar sepanjang tahun, tetapi dapurnya tetap mengepul tipis karena kemiskinan. Persoalannya bukan karena alam berhenti memberi, akan tetapi karena potensi yang tersedia tidak pernah benar-benar diolah.
Ironi itulah yang sesungguhnya sedang kita alami saat ini. Kita hidup di zaman yang mungkin merupakan masa “paling subur” dalam sejarah peradaban manusia. Belum pernah sebelumnya ilmu pengetahuan begitu mudah dijangkau. Belum pernah teknologi membuka pintu kesempatan sedemikian lebar. Dalam satu genggaman saja kita dapat membaca ribuan buku, berdiskusi dengan kecerdasan buatan, mengikuti kuliah dari tokoh terbaik dunia, membangun bisnis lintas negara, bahkan menciptakan lapangan kerja tanpa harus memiliki kantor.
Namun, mengapa di tengah kelimpahan peluang itu justru semakin banyak orang merasa kehilangan arah?
Al-Qur’an telah lama menegaskan bahwa perubahan tidak pernah lahir semata-mata dari keadaan, melainkan dari kesediaan manusia untuk membenahi dirinya. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11). Ayat ini mengingatkan bahwa kesuburan tanah, kecanggihan teknologi, atau melimpahnya kesempatan hanyalah potensi, namun yang menentukan hasil akhirnya adalah kualitas ikhtiar kita.
Mengapa kecemasan menjadi epidemi baru? Mengapa produktivitas kalah oleh distraksi? Mengapa begitu banyak orang sibuk sepanjang hari, tetapi sedikit sekali yang benar-benar menghasilkan karya?
Inilah paradoks terbesar abad ke-21. Kita hidup di tengah banjir informasi, tetapi mengalami kekeringan kebijaksanaan. Kita memiliki internet yang mampu menghubungkan seluruh dunia, tetapi hubungan antarmanusia justru semakin rapuh. Kita rajin memperbarui gawai, tetapi lupa memperbarui cara berpikir. Kita kaya akses, tetapi miskin kapasitas.
Fenomena ini mengingatkan kita pada seorang petani yang memiliki lahan luas, benih unggul, air yang melimpah, dan cuaca yang bersahabat, tetapi enggan turun ke sawah. Ia lebih sibuk menghitung hasil panen daripada menanam benih. Akhirnya, bukan karena tanahnya tandus ia menjadi miskin, melainkan karena potensi yang dimilikinya dibiarkan mengering.
Bukankah itu gambaran sebagian besar masyarakat modern? Dalam dunia pendidikan, misalnya, ruang kelas berubah semakin canggih. Kampus berlomba melakukan transformasi digital, jurnal ilmiah terbuka bebas, perpustakaan dunia dapat diakses hanya melalui layar telepon genggam, akan tetapi semua kemajuan itu belum tentu melahirkan manusia yang lebih bijaksana.
Masih banyak peserta didik yang belajar demi angka, bukan demi ilmu. Mereka mengejar ijazah, tetapi melupakan kompetensi. Mereka bangga mengoleksi sertifikat, tetapi miskin keterampilan. Mereka ingin cepat terkenal, tetapi enggan menjadi benar-benar berkualitas.
Albert Einstein pernah mengingatkan bahwa pendidikan bukanlah proses menghafal fakta, melainkan melatih manusia untuk berpikir. Pernyataan itu terasa semakin relevan pada era digital. Sebab persoalan utama kita hari ini bukan kekurangan informasi, melainkan kekurangan kemampuan untuk memilah, memahami, dan mengolah informasi menjadi kebijaksanaan.
Pendidikan yang hanya melahirkan lulusan pandai menghafal tetapi takut bertanya sesungguhnya sedang menghasilkan petani-petani baru: memiliki lahan yang luas, tetapi tidak pernah benar-benar mengelolanya.
Fenomena serupa juga tampak dalam kehidupan sosial. Media sosial membuat kita memiliki ribuan teman, tetapi semakin sedikit orang yang benar-benar mau saling mendengarkan. Kita mahir membangun citra, tetapi sering lupa membangun karakter. Kita mengukur keberhasilan melalui jumlah pengikut, jumlah “like”, dan jumlah tayangan, seolah-olah nilai manusia dapat dihitung oleh algoritma.
Sosiolog Zygmunt Bauman menyebut kondisi ini sebagai liquid society, masyarakat yang serba cair. Hubungan menjadi rapuh, komitmen mudah berubah, dan identitas dibentuk oleh tren yang terus berganti. Dalam dunia yang serba cair itu, manusia mudah hanyut jika tidak memiliki nilai yang kokoh sebagai jangkar kehidupan.
Ironi yang lebih dalam lagi terjadi ketika agama pun kadang hanya berhenti sebagai simbol. Kesalehan diukur dari penampilan, bukan dari manfaat. Padahal Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa “sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. Pesan ini menggeser orientasi keberagamaan dari sekadar ritual menuju kebermanfaatan sosial. Sebab iman yang sejati selalu menghadirkan kasih sayang, kepedulian, dan kemaslahatan bagi sesama.
Generasi digital sesungguhnya memiliki modal yang tidak pernah dimiliki oleh generasi-generasi sebelumnya. Mereka tumbuh bersama teknologi, cepat beradaptasi terhadap perubahan, berani menyampaikan gagasan, kreatif dalam menciptakan inovasi, serta mampu membangun kolaborasi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Namun, setiap keunggulan selalu membawa ujian. Teknologi dapat menjadi jalan menuju ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat menghabiskan waktu pada hal-hal yang tidak produktif. Media sosial dapat memperluas jejaring dan kolaborasi, tetapi juga dapat menyeret seseorang ke dalam budaya membandingkan diri, mengejar pengakuan, dan kehilangan fokus terhadap tujuan hidupnya.
Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Tantangan terbesar generasi digital bukanlah kekurangan kesempatan, melainkan kemampuan mengelola kesempatan. Dunia telah menyediakan begitu banyak pintu, tetapi tidak semua orang mampu memilih pintu yang tepat untuk dimasukinya. Kesempatan yang dipilih dengan bijak harus diwujudkan dalam tindakan yang produktif. Sebab, nilai sebuah peluang tidak ditentukan oleh seberapa banyak peluang itu tersedia, melainkan oleh manfaat yang berhasil dilahirkan darinya.
Rasulullah saw. menggambarkan produktivitas sebagai amal yang terus bernilai. Beliau bersabda, “Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu dimakan manusia, burung, atau binatang, melainkan menjadi sedekah baginya” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Menanam dalam perspektif Islam bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi simbol peradaban: bekerja hari ini untuk menghadirkan manfaat yang mungkin baru dinikmati oleh generasi sesudah kita.
Ungkapan “petani miskin di negeri yang subur” pada akhirnya bukanlah kritik terhadap alam, melainkan kritik terhadap cara berpikir manusia. Jangan sampai kita hidup pada zaman dengan teknologi paling maju, tetapi memiliki mentalitas paling pasif. Jangan sampai kita dikelilingi ilmu pengetahuan, tetapi kehilangan rasa ingin tahu. Jangan sampai kita memiliki kebebasan memilih, tetapi kehilangan keberanian untuk bertanggung jawab atas pilihan itu sendiri.
Sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang hanya mengagumi kesuburan tanah. Sejarah selalu ditulis oleh tangan-tangan yang berani mencangkul, menanam, merawat, lalu bersabar menunggu panen. Sebab negeri yang subur hanya menyediakan kemungkinan; manusialah yang menentukan apakah kemungkinan itu akan berubah menjadi kemajuan atau sekadar menjadi cerita tentang kesempatan yang terbuang.
Gambaran itu sejalan dengan perumpamaan Al-Qur’an tentang manusia yang memberi manfaat. Allah Swt. berfirman, “Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap musim dengan izin Tuhannya” (QS. Ibrahim [14]: 24–25). Peradaban yang besar selalu tumbuh dari manusia-manusia yang berakar kuat pada nilai, menjulang dalam cita-cita, dan tidak pernah berhenti menghadirkan buah bagi sesamanya.
Sebagai catatan pinggir, bahwa tragedi terbesar sebuah bangsa bukanlah ketika ia miskin sumber daya, akan tetapi ketika ia kaya potensi, tetapi miskin ikhtiar; melimpah peluang, tetapi kekurangan keberanian untuk berkarya. Sebab pada akhirnya, peradaban yang besar tidak dibangun oleh tanah yang subur semata, melainkan oleh manusia-manusia yang memiliki karakter kuat, akal yang tercerahkan, dan hati yang selalu terdorong untuk menanam kebaikan bagi masa depan.[]

Dosen UIN Mataram



