Di tengah krisis lingkungan yang semakin nyata mulai dari perubahan iklim, pencemaran, hingga menurunnya kualitas ekosistem, dunia pendidikan tidak lagi cukup hanya mengajarkan pengetahuan tentang alam. Pendidikan dituntut mampu melahirkan kesadaran, karakter, dan tindakan nyata dalam merawat bumi. Kesadaran ekologis harus ditanamkan sejak dini sebagai bagian dari pembentukan kepribadian peserta didik. Kepedulian terhadap alam bukanlah sekadar aktivitas sosial atau gerakan lingkungan, melainkan bagian dari ibadah yang berakar pada keimanan. Inilah yang dikenal sebagai ekoteologi, yaitu cara pandang yang menempatkan hubungan manusia dengan alam sebagai bagian dari relasi spiritual dengan Allah Swt.
Madrasah Alamtara Islamic School (AIS) menghadirkan pendekatan tersebut melalui Program ASRI yang menjadi bagian integral dari Mata Muda (Masa Ta’aruf Murid Madrasah), yakni program orientasi penyambutan murid baru. Berbeda dengan kegiatan orientasi yang umumnya berfokus pada pengenalan lingkungan sekolah, tata tertib, dan budaya akademik, Mata Muda di AIS dirancang sebagai ruang pembentukan cara pandang (worldview) peserta didik terhadap kehidupan. Sejak hari pertama memasuki lingkungan madrasah, anak-anak diajak memahami bahwa belajar bukan hanya membaca buku, tetapi juga membaca alam sebagai ayat-ayat Allah yang terbentang di semesta. Program ini tidak hanya mengenalkan sekolah sebagai tempat memperoleh ilmu, tetapi juga sebagai ruang bertumbuhnya kesadaran ekologis, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial.
Program ASRI adalah sebuah gerakan pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan aksi nyata menjaga lingkungan. Melalui kegiatan ini, peserta didik diajak melakukan praktik langsung menghidupkan lingkungan sekitar dengan pendekatan yang sederhana namun sarat makna. Anak-anak AIS bersama para guru menyusuri kawasan Kalikuma, mengumpulkan berbagai barang bekas yang selama ini dipandang tidak bernilai seperti botol plastik, kaleng bekas, ember rusak, dan berbagai wadah yang sudah tidak digunakan. Barang-barang tersebut kemudian dibersihkan, dirancang ulang, dan disulap menjadi media tanam yang produktif.
Proses ini mengandung pesan pendidikan yang sangat mendalam. Anak-anak belajar bahwa sesuatu yang dianggap sampah ternyata masih memiliki nilai kehidupan ketika disentuh oleh kreativitas dan kepedulian. Mereka diperkenalkan pada prinsip dasar ekonomi sirkular sekaligus diajak memahami bahwa Islam tidak mengenal budaya mubazir. Segala sesuatu yang masih dapat dimanfaatkan sepatutnya dihidupkan kembali agar memberikan manfaat bagi makhluk lain. Dengan demikian, aktivitas mendaur ulang bukan hanya praktik pengelolaan sampah, tetapi juga latihan membangun cara berpikir ekologis yang menghargai setiap ciptaan Allah.
Setelah media tanam selesai dibuat, kegiatan dilanjutkan dengan menanam berbagai jenis tanaman pangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Anak-anak menanam okra, kacang panjang, sawi, labu, bayam, tomat, cabai, dan timun. Pemilihan tanaman ini bukan tanpa alasan. Selain mudah dibudidayakan, tanaman-tanaman tersebut merupakan sumber nutrisi yang menopang kebutuhan energi keluarga. Dengan demikian, peserta didik diperkenalkan bahwa ketahanan pangan dimulai dari halaman rumah, dari kebiasaan sederhana menanam, merawat, dan memanen hasil sendiri.
Di sinilah pendidikan ekologis bertemu dengan pendidikan kemandirian. Anak-anak belajar bahwa makanan tidak hadir begitu saja di atas meja makan, tetapi lahir dari proses panjang yang melibatkan tanah, air, sinar matahari, kesabaran, serta kerja keras manusia. Mereka mulai memahami bahwa setiap butir sayuran adalah hasil kolaborasi antara rahmat Allah dan ikhtiar manusia. Kesadaran seperti ini menumbuhkan rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap sumber-sumber kehidupan yang sering kali dianggap biasa.
Yang menarik, seluruh aktivitas tersebut tidak berhenti pada praktik bercocok tanam. Setiap tahapan selalu diiringi dengan proses refleksi keislaman. Para guru mengajak peserta didik merenungkan sabda Rasulullah saw.:
“Man ahyā al-arḍa ba‘da mawtihā fahiya lahu.”
“Barang siapa menghidupkan tanah yang mati (tandus), maka tanah itu menjadi miliknya.”
Hadis ini tidak dimaknai secara sempit sebagai persoalan kepemilikan lahan, tetapi dipahami sebagai spirit Islam untuk menghadirkan kehidupan pada sesuatu yang sebelumnya tidak produktif. Tanah tandus menjadi simbol dari segala bentuk ruang yang kehilangan fungsi kehidupan, sementara menghidupkannya merupakan bentuk pengabdian manusia sebagai khalifah di muka bumi. Melalui refleksi tersebut, anak-anak belajar bahwa menanam pohon, menghijaukan lingkungan, memperbaiki tanah yang rusak, hingga merawat tanaman merupakan bagian dari sunnah Nabi Muhammad saw.
Pemahaman inilah yang menjadi inti internalisasi nilai ekoteologi di AIS. Ekoteologi bukan diajarkan dalam bentuk teori yang rumit, melainkan dihadirkan melalui pengalaman langsung. Anak-anak tidak hanya mendengar bahwa menjaga alam adalah ibadah, tetapi mereka merasakan sendiri proses menjadi bagian dari kehidupan itu. Tangan mereka menyentuh tanah, mata mereka menyaksikan benih tumbuh, hati mereka belajar bersabar menunggu tanaman berkembang, dan pikiran mereka memahami bahwa setiap kehidupan membutuhkan perawatan.
Program ASRI juga memperlihatkan bahwa pendidikan lingkungan di AIS dibangun di atas relasi yang utuh antara manusia, alam, dan Tuhan. Alam tidak diposisikan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai mitra kehidupan yang harus dihormati. Hubungan manusia dengan objek semestinya selalu dinaungi oleh kesadaran spiritual sehingga aktivitas terhadap alam tidak pernah terlepas dari tanggung jawab moral kepada Sang Pencipta.
Dalam kerangka tersebut, menanam bukan hanya aktivitas biologis, tetapi juga aktivitas teologis. Menyiram tanaman bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan latihan menghadirkan kasih sayang terhadap seluruh makhluk hidup. Membersihkan lingkungan bukan hanya menjaga estetika sekolah, tetapi merupakan bentuk syukur atas amanah bumi yang Allah titipkan kepada manusia. Anak-anak dibimbing untuk memahami bahwa setiap tindakan terhadap alam akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah karena manusia diangkat sebagai khalifah fil ardh, penjaga keseimbangan bumi.
Program ASRI sesungguhnya sedang membangun karakter generasi yang memiliki kesadaran keberlanjutan (sustainability consciousness). Di tengah budaya instan dan konsumtif yang berkembang saat ini, anak-anak diajak mengenal nilai kesabaran melalui proses bertani. Mereka belajar bahwa kehidupan memerlukan waktu untuk tumbuh. Tidak semua hasil dapat diperoleh secara cepat. Sebagaimana benih membutuhkan proses sebelum berbuah, demikian pula ilmu, iman, dan akhlak memerlukan ketekunan untuk berkembang.
Proses tersebut sekaligus membangun tanggung jawab kolektif. Tanaman yang telah ditanam tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Anak-anak bergiliran menyiram, membersihkan gulma, mengamati pertumbuhan tanaman, hingga akhirnya menikmati hasil panen bersama. Dari sinilah mereka belajar bahwa keberhasilan bukan hasil kerja individu semata, melainkan buah dari gotong royong dan kepedulian bersama.
Yang paling penting, Program ASRI menanamkan filosofi sederhana namun sangat kuat: “Siapa yang menanam, dialah yang memanen.” Kalimat ini tidak hanya berbicara tentang hasil pertanian, tetapi juga menjadi metafora kehidupan. Siapa yang menanam kebaikan akan memanen keberkahan. Siapa yang menanam kepedulian akan menuai kasih sayang. Siapa yang menanam ilmu akan memetik kebijaksanaan. Dan siapa yang menanam kehidupan bagi bumi akan memperoleh pahala yang terus mengalir selama kehidupan itu memberikan manfaat bagi makhluk Allah.
Selama masa orientasi peserta didik tidak cukup hanya mengenalkan ruang kelas, guru, dan aturan sekolah. Orientasi sejati adalah memperkenalkan posisi manusia di tengah semesta sebagai hamba Allah sekaligus penjaga bumi. Program Mata Muda melalui ASRI berhasil menghadirkan orientasi semacam itu. Murid baru tidak hanya diperkenalkan dengan identitas Madrasah Alamtara Islamic School, tetapi juga diperkenalkan dengan identitas dirinya sebagai manusia yang memiliki amanah ekologis.
Program ASRI menunjukkan bahwa pendidikan terbaik adalah pendidikan yang mampu menyatukan iman, ilmu, dan amal dalam satu pengalaman hidup. Ketika anak-anak mengubah barang bekas menjadi media tanam, mereka sedang belajar tentang kreativitas. Ketika mereka menanam sayuran, mereka sedang belajar tentang ketahanan pangan. Ketika mereka merawat tanaman, mereka sedang belajar tentang tanggung jawab. Dan ketika mereka merefleksikan hadis Nabi tentang menghidupkan tanah yang mati, mereka sedang belajar bahwa setiap aktivitas menjaga bumi adalah bagian dari ibadah kepada Allah Swt.
Di Madrasah Alamtara Islamic School, melalui Program ASRI dalam Mata Muda, dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki hati yang peka terhadap alam, tangan yang terampil merawat kehidupan, serta jiwa yang meyakini bahwa memakmurkan bumi adalah bagian dari memakmurkan iman.[]

Dosen STIPAR Soromandi, Bima.





