Membaca Arah NU dalam Prisma Gus Dur

Hari ini, 26 Agustus 2026, suasana Nahdlatul Ulama mulai tertuju ke Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Rangkaian Muktamar ke-35 NU telah dimulai dengan registrasi peserta dan Istighotsah Kubro. Besok, 27 Agustus, Muktamar secara resmi dibuka dan akan berlangsung hingga 31 Agustus 2026. Salah satu agenda pentingnya adalah menentukan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU untuk masa khidmah 2026–2031.

Muktamar tentu bukan hanya tentang memilih siapa yang akan memimpin NU. Lebih dari itu, Muktamar adalah momentum untuk membaca kembali perjalanan NU sekaligus menentukan arah khidmah organisasi lima tahun ke depan.

Dalam momentum seperti ini, menarik untuk kembali membaca Gus Dur. Bukan sekadar untuk mengenang seorang tokoh besar NU, tetapi menjadikan pemikirannya sebagai salah satu prisma untuk membaca NU hari ini.

Gus Dur terlalu besar jika hanya dibaca dari satu sisi. Membaca Gus Dur secara parsial akan mudah membawa kita pada pemahaman yang keliru. Ada yang mengenalnya hanya sebagai tokoh kontroversial, mantan presiden, pembela kelompok minoritas, atau tokoh NU. Padahal, dalam diri Gus Dur bertemu berbagai unsur: tradisi pesantren, pemikiran Islam klasik, wawasan modern, demokrasi, pluralisme, nasionalisme, kebudayaan, dan kemanusiaan.

Karena itu, Gus Dur harus dibaca secara utuh.

Salah satu gambaran menarik tentang orientasi pengabdian Gus Dur pernah disampaikan oleh Alissa Wahid, putrinya. Dalam pelayanan dan perhatian, Gus Dur menempatkan agama atau keislaman, kemudian Indonesia atau keindonesiaan, NU, dan terakhir keluarga.

Urutan tersebut menunjukkan sebuah cara pandang yang khas. Keislaman menjadi sumber nilai, Indonesia menjadi ruang pengabdian, NU menjadi wadah perjuangan, dan keluarga menjadi ruang personal yang tetap memiliki tempat penting.

Islam yang dipahami Gus Dur bukanlah Islam yang berhenti pada simbol dan identitas. Islam harus diterjemahkan menjadi nilai yang menghadirkan kemaslahatan dan kemanusiaan. Karena itu, keberislaman Gus Dur terasa terbuka dan tidak mudah terjebak pada sekat primordialisme.

Salah satu gagasan pentingnya adalah pribumisasi Islam. Gagasan ini menunjukkan bagaimana Islam dapat berdialog dengan kebudayaan lokal tanpa kehilangan substansi ajarannya. Islam tidak harus hadir dengan satu bentuk budaya yang seragam. Ia dapat tumbuh bersama tradisi masyarakat selama nilai-nilai dasarnya tetap terjaga.

Baca Juga  Jalan untuk Politisi Non Partai

Pemikiran tersebut tidak lahir dari ruang kosong. Gus Dur tumbuh dari tradisi pesantren. Ia mengenal khazanah Islam klasik, seperti fikih, tafsir, hadis, tasawuf, dan ilmu bahasa. Pada saat yang sama, pengembaraan intelektualnya membawanya berinteraksi dengan pemikiran modern.

Tradisi menjadi akarnya, sementara wawasan modern menjadi jendelanya.

Dari perpaduan itulah lahir Gus Dur yang sangat Indonesia.

Kecintaannya kepada Indonesia juga tidak dapat dipisahkan dari cara pandangnya terhadap keberagaman. Indonesia bagi Gus Dur adalah rumah bersama. Karena itu, pembelaannya terhadap kelompok minoritas bukan semata-mata persoalan politik, tetapi bagian dari tanggung jawab kebangsaan dan kemanusiaan.

Gus Dur ingin Indonesia tetap menjadi rumah bagi semua.

Di sinilah pemikiran Gus Dur menjadi penting untuk dibaca kembali menjelang Muktamar NU. Sebab NU bukan hanya organisasi yang memiliki akar keagamaan yang kuat, tetapi juga bagian penting dari perjalanan kebangsaan Indonesia.

NU memiliki tradisi yang panjang dalam menjaga keseimbangan antara keislaman dan keindonesiaan. Gus Dur memperluas ruang tersebut dengan memasukkan dimensi kemanusiaan, demokrasi, dan penghormatan terhadap perbedaan.

Lalu bagaimana membaca NU hari ini?

Muktamar ke-35 merupakan momentum penting untuk menjawab pertanyaan tersebut. NU memiliki jumlah kader yang sangat besar. Generasi mudanya juga semakin beragam. Mereka lahir dari pesantren, perguruan tinggi, lembaga pendidikan modern, dunia profesional, organisasi sosial, bahkan ruang digital.

Persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana mencetak kader, tetapi ke mana kader-kader tersebut diarahkan.

Di sinilah prisma Gus Dur relevan.

NU membutuhkan kader yang kuat dalam tradisi, tetapi tidak gagap menghadapi perubahan. Kader yang menguasai khazanah Islam, tetapi mampu berdialog dengan ilmu pengetahuan modern. Kader yang mencintai NU, tetapi tidak menjadikan NU hanya sebagai kepentingan kelompok. Kader yang memiliki wawasan kebangsaan dan mampu melihat persoalan umat dalam perspektif kemanusiaan.

Muktamar juga seharusnya tidak berhenti pada persoalan kontestasi kepemimpinan. Pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU memang merupakan agenda penting, tetapi jauh lebih penting adalah arah yang hendak dibangun setelah kepemimpinan baru terbentuk.

NU hendak menjadi apa dalam lima tahun ke depan?

Bagaimana NU menghadapi perubahan sosial yang begitu cepat? Bagaimana NU memperkuat tradisi keilmuan? Bagaimana NU merespons perkembangan teknologi dan generasi digital? Bagaimana NU tetap menjadi kekuatan moral di tengah tarik-menarik kepentingan politik? Dan yang paling penting, bagaimana NU terus menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan?

Baca Juga  Dou Sampela dan Tragedi Politik

Pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya menjadi bagian dari perenungan Muktamar.

Membaca Gus Dur bukan berarti mengkultuskannya. Gus Dur sendiri adalah seorang pemikir yang terbiasa berdialog, berdebat, dan menerima perbedaan. Karena itu, meneruskan Gus Dur bukan dengan menghafalkan seluruh perkataannya, tetapi dengan meneruskan keberanian berpikirnya.

Berani membaca tradisi secara kritis. Berani menerima perubahan tanpa kehilangan akar. Berani membela kelompok yang lemah. Berani menempatkan kemanusiaan sebagai bagian dari keberagamaan. Dan berani menempatkan Indonesia sebagai rumah bersama.

NU membutuhkan Gus Dur-Gus Dur muda. Mereka tidak harus meniru gaya bicara atau perilaku Gus Dur. Yang dibutuhkan adalah semangat dan visi besarnya: keislaman yang terbuka, keindonesiaan yang inklusif, NU yang berakar pada tradisi sekaligus terbuka terhadap perubahan, serta kemanusiaan yang melampaui batas-batas kelompok.

Muktamar akhirnya bukan sekadar memilih siapa yang akan memimpin NU. Muktamar adalah kesempatan untuk bertanya kembali: NU hendak dibawa ke mana?

Mungkin salah satu cara menjawabnya adalah dengan kembali melihat NU melalui prisma Gus Dur.

Bukan untuk kembali ke masa lalu, tetapi untuk membaca masa depan.

Warisan terbesar Gus Dur barangkali bukan sekumpulan slogan atau kutipan yang terus diulang. Warisan terbesarnya adalah cara melihat agama, manusia, NU, dan Indonesia secara lebih luas.

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, NU membutuhkan akar yang kuat sekaligus pandangan yang luas.

Tradisi menjadi akar, intelektualitas menjadi cahaya, keislaman menjadi nilai, keindonesiaan menjadi ruang pengabdian, dan kemanusiaan menjadi tujuan.

Mungkin di situlah kita menemukan kembali Gus Dur—bukan sebagai masa lalu, tetapi sebagai inspirasi untuk membaca arah NU hari ini dan masa depan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *