Politik Hajar Al Aswad, Belajar Kepada Nabi

Politik sering dipahami sebagai ruang perebutan pengaruh, kekuasaan, dan kepentingan. Karena itu, keputusan politik tidak jarang melahirkan pihak yang menang dan pihak yang merasa dikalahkan. Padahal, politik pada hakikatnya tidak selalu harus berakhir pada pertarungan menang dan kalah. Politik juga merupakan seni menemukan jalan keluar ketika berbagai kepentingan bertemu dan berpotensi melahirkan konflik.

Salah satu teladan menarik tentang hal tersebut dapat dilihat dalam peristiwa peletakan Hajar Al Aswad. Kisah ini kembali saya ingat ketika mendampingi Prof. Ahmad M. Sewang ke kampus Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) dalam rangka kuliah umum yang beliau sampaikan. Di lingkungan UIN Alauddin Makassar, Prof. Sewang merupakan panggilan akrab yang biasa digunakan oleh teman-teman sesama tenaga pengajar.

Dalam kuliah umum tersebut, banyak pemikiran Prof. Sewang yang membuka cara pandang baru dalam memahami agama secara lebih holistik. Salah satu yang menarik adalah ketika beliau mengaitkan sejarah kehidupan Nabi dengan persoalan kehidupan hari ini. Nabi bukan hanya teladan dalam ucapan dan ibadah, tetapi juga dalam menghadapi persoalan sosial, termasuk bagaimana menyelesaikan konflik di tengah masyarakat.

Peristiwa Hajar Al Aswad merupakan salah satu contoh yang menarik. Ketika masyarakat Quraisy hendak mengembalikan Hajar Al Aswad ke tempatnya setelah Ka’bah direnovasi, muncul persoalan tentang siapa yang berhak meletakkan batu tersebut. Hajar Al Aswad memiliki kedudukan penting dan nilai simbolik yang tinggi. Karena itu, setiap kabilah merasa memiliki kehormatan untuk mengangkat dan menempatkannya kembali.

Persoalan menjadi rumit karena para kepala kabilah sama-sama merasa paling berhak. Tidak ada yang bersedia mengalah. Masing-masing mempertahankan kehormatan kelompoknya. Jika tidak segera ditemukan jalan keluar, persoalan yang semula sederhana dapat berubah menjadi konflik antarkabilah.

Dalam situasi yang hampir buntu itulah Muhammad tampil sebagai penengah. Saat itu beliau belum diangkat menjadi rasul, tetapi telah dikenal sebagai Al-Amin, orang yang terpercaya. Kepercayaan tersebut menjadi modal sosial yang sangat penting. Ketika berbagai kepentingan sulit dipertemukan, masyarakat justru menyerahkan persoalan itu kepada seseorang yang dipercaya oleh semua pihak.

Baca Juga  Tentang Waktu (Catatan Singkat)

Nabi sebenarnya memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri. Masyarakat Quraisy telah memberikan kepercayaan kepadanya. Namun, Nabi tidak menggunakan kepercayaan tersebut untuk menunjukkan kekuasaan pribadi. Beliau justru mencari cara agar semua pihak tetap mendapatkan ruang.

Nabi kemudian membentangkan sehelai kain dan meletakkan Hajar Al Aswad di tengahnya. Masing-masing kepala kabilah diminta memegang ujung kain. Mereka bersama-sama mengangkat batu tersebut menuju tempatnya. Setelah sampai, Nabi mengambil dan meletakkannya sendiri pada posisi semula di Ka’bah.

Cara tersebut sederhana, tetapi sangat cerdas. Persoalan yang hampir menjadi konflik berhasil diselesaikan tanpa mempermalukan siapa pun. Tidak ada kabilah yang merasa dikalahkan. Semua memperoleh peran. Semua merasa dihargai. Dengan cara itu, Nabi tidak sekadar menyelesaikan masalah, tetapi juga menyelamatkan kehormatan semua pihak.

Di sinilah kita dapat melihat secercah politik ala Nabi. Politik bukan sekadar kemampuan memenangkan pertarungan kepentingan, tetapi kemampuan menemukan jalan keluar yang dapat diterima bersama. Nabi tidak menghapus perbedaan antar kabilah. Beliau mengelola perbedaan itu menjadi kekuatan untuk menyelesaikan persoalan.

Kisah tersebut juga menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu identik dengan penggunaan otoritas. Seorang pemimpin memang memiliki kewenangan untuk menentukan keputusan, tetapi kewenangan tidak harus digunakan dengan cara meminggirkan orang lain. Pemimpin yang cerdas justru mampu mengakomodasi berbagai kepentingan tanpa kehilangan arah dan prinsip.

Dalam konteks kehidupan hari ini, teladan tersebut terasa semakin relevan. Banyak persoalan sosial dan politik muncul bukan karena tidak ada solusi, melainkan karena setiap kelompok ingin menjadi pihak yang paling menentukan. Kepentingan kelompok sering lebih kuat daripada kepentingan bersama. Akibatnya, keputusan mudah berubah menjadi pertarungan tentang siapa yang paling berkuasa.

Di sinilah kita membutuhkan politik yang tidak hanya cerdas secara individual, tetapi juga cerdas secara sosial. Pemimpin tidak cukup hanya pandai mengambil keputusan. Ia harus mampu mendengar, mengajak berbagai unsur untuk terlibat, menghargai perbedaan, dan mencari titik temu yang membawa kemaslahatan bersama.

Baca Juga  Visi-Misi Islam dan Agenda Strategisnya

Hajar Al Aswad mengajarkan bahwa sebuah keputusan akan lebih mudah diterima ketika orang-orang yang terlibat merasa menjadi bagian dari keputusan tersebut. Nabi menunjukkan bahwa melibatkan banyak pihak bukan tanda kelemahan seorang pemimpin. Sebaliknya, pelibatan merupakan bentuk kecerdasan dalam mengelola masyarakat yang beragam.

Politik ala Nabi bukan politik yang menjadikan satu pihak sebagai pemenang dan pihak lain sebagai pecundang. Politik Nabi adalah politik yang menjaga kehormatan, membuka ruang partisipasi, dan menghadirkan kemaslahatan bersama. Dalam kehidupan politik yang sering diwarnai tarik-menarik kepentingan, teladan Hajar Al Aswad mengingatkan kita bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang siapa yang paling kuat menentukan, melainkan siapa yang paling mampu menemukan jalan keluar yang dapat diterima bersama.

Mungkin inilah secercah politik ala Nabi yang dapat kita baca dari Hajar Al Aswad, pemimpin yang cerdas bukan yang mengambil semua peran, tetapi yang mampu membuat banyak orang merasa memiliki peran dalam sebuah keputusan.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *