KITA tentunya sering menerima undangan, ajakan, himbauan, dan mungkin juga jadwal untuk suatu hajatan, acara, atau kegiatan keagamaan dan sosial. Apalagi bagi yang berdomisili di kompleks perumahan atau perkampungan di pedesaan.
Ajakan-ajakan tersebut semestinya kita hadiri, sekalipun mungkin ada saat kita uzur (berhalangan), tetapi apabila lebih banyak yang bisa kita hadiri ketimbang yang tidak, maka kita patut bersyukur, karena memang demikianlah seharusnya kita lakukan dalam kedudukan kita sebagai bagian dari komunitas sosial, dan pastikan bahwa kita belum pernah merespons ajakan kebaikan itu dengan respon negatif walau hanya sekali.
Baca juga: Belajar Memahami Kehidupan
Sepintas memang ajakan kebaikan itu adalah bentuk kepedulian sesama terhadap kita yang menjadi bagian dari komunitas sosial kemasyarakatan, tidak lebih dari itu, sehingga sering kali hasrat dan kesempatan untuk harus hadir senantiasa tarik menarik dengan ego dalam diri, yang lebih sering secara enteng dimenangkan oleh kenyamanan untuk tidak hadir.
Penting untuk kita ingat, bahwa semua ajakan yang kita terima, baik undangan, himbauan, pengumuman, apalagi jadwal merupakan magnet khusus yang akan menarik kita ke gerbong kebenaran. Bersengaja untuk menolak, sengaja untuk tidak hadir, atau sengaja tidak merespons, padahal kita sebenarnya memiliki waktu dan kesempatan untuk tidak berhalangan (uzur), sungguh sikap itu tanpa disadari, bahwa kita ibarat mempertemukan kutub magnet yang sama, sehingga ajakan kebaikan itu tolak menolak dengan ego diri.
Kita tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk mengetahui latar belakang dari penyebab hadirnya ajakan atau undangan dan jadwal itu datang kepada kita, bisa jadi itu bagian dari cara Tuhan dalam menyayangi kita sebagai hamba-Nya, sehingga digerakkan ajakan kebaikan itu mengarah kepada kita.
Sikap terbaik dalam merespons setiap ajakan kebaikan adalah bersegera untuk berbaik sangka—bahwa Tuhan sengaja memilih kita untuk menerima ajakan kebaikan, agar kesempatan kita untuk berbuat baik dalam hidup ini tidak terlewatkan. Ingatlah bahwa perjalanan waktu yang memberikan kesempatan untuk kebaikan, seirama dengan perjalanan masa, jika ia telah berlalu, maka ia pantang untuk berputar arah.
Selagi kita masih memiliki waktu, luangkanlah diri ini untuk menghadiri setiap ajakan kebaikan dalam bentuk apa pun dan yang datang dari siapa pun. Mumpung kita masih sehat dan masih memiliki kesempatan. Lawanlah ego diri yang menahan langkah dan kesiapan asa, agar kita dapat merenggut berkah dari ajakan kebaikan.
Yakinlah, dengan memenuhi ajakan kebaikan, tenaga ini akan terpulihkan energinya jika telah berada di dalam majelis-majelis kebaikan, begitu pula pendengaran dan penglihatan akan tersegarkan fungsinya oleh aura kebaikan yang kita datangi. Bangkitlah dari rasa malas dan enggan untuk meraup hikmah yang memancar dari ajakan kebaikan.
Ajakan kebaikan itu biasanya datang oleh karena ada unsur kebaikan yang terpancar dari dalam diri, sehingga orang-orang di sekitar kita percaya dan dengan yakin membawakan kita ajakan kebaikan, kesadaran ini hendaknya menjadi penyemangat diri untuk merespons setiap ajakan kebaikan itu, dengan tindakan nyata dan tidak menolak dengan tindakan berdiam pasif dalam aktivitas semu yang diadak-adakan.
Sadarkah kita, bahwa kebanyakan dari kita-kita ini sering enggan dalam merespons ajakan kebaikan, karena dihalangi hanya oleh alasan yang kita rencanakan sendiri, padahal merencanakan untuk tidak mengikuti ajakan kebaikan, sama maknanya merencanakan kerugian yang besar bagi diri sendiri.
Baca juga: Roadmap Perjalanan Hidup Manusia
Menuju kebaikan itu memang banyak tantangannya, namun tantangan itu bukan untuk dipasrahi menjadi abai, tetapi harus ditaklukkan dan dikalahkan. Ibarat berjalan menelusuri semak belukar, ia menjadi tantangan dan penghalang untuk melangkah menuju tujuan, maka untuk mendapatkan jalan sampai tujuan, semak belukar harus dibabat, agar tidak menjadi penghalang.
Tuhan menjelaskan iktibar betapa beratnya tantangan menuju kebaikan itu dengan memberi ibarat menuju surga, di dalam surah al Baqarah ayat 214, “Am ḥasibtum an tadkhulul-jannata wa lammā ya`tikum maṡalullażīna khalau ming qablikum, massat-humul-ba`sā`u waḍ-ḍarrā`u wa zulzilụ...”. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan).
Jalan menuju kebaikan saat ini tidak sesulit apa yang dialami umat terdahulu, kita hanya butuh kesadaran diri dan butuh berdamai dengan ego diri, sehingga setiap ajakan kebaikan itu bukan sebagai beban yang mengganggu.
Mulailah menformulasi orientasi kerja dan aksi kita dalam hidup ini, bekerja dan berikhtiarlah dalam hari-hari yang kita jalani dengan aksi-aksi yang mendatangkan keuntungan hidup di dunia, dengan orientasi seakan-akan kita hidup untuk selama-lamanya.
Namun penting pula melakukan aksi-aksi nyata dalam hubungannya dengan keuntungan ukhrawi melalui kerelaan diri menerima setiap ajakan kebaikan, dengan orientasi seakan-akan kita akan menghadap Tuhan esok pagi.
Kumpulkanlah bekal sebanyak-banyaknya, tentunya sesuai standar dari dua orientasi hidup yang kita jalani, sebagai jaminan bahwa kita dapat menjalani kehidupan di dunia dalam waktu yang panjang, dan jaminan kesiapan dalam diri apabila tiba-tiba kematian datang menjemput kita.[]

Dosen UIN Mataram




