Roadmap Perjalanan Hidup Manusia

ROADMAP adalah peta yang berfungsi sebagai petunjuk arah, berisi gambaran besar tahapan-tahapan untuk membantu proses aksi dalam melaksanakan suatu aktivitas. Tujuannya sebagai panduan yang sistematis dalam seluruh proses, mulai awal hingga program dinyatakan sukses, dan sebagai kerangka kerja untuk masa depan yang jelas dan terukur.

Dalam kehidupan yang kita jalani, Tuhan telah membuatkan roadmap yang terang dan jelas, sebagai peta yang akan kita tempuh, agar aktivitas yang kita jalankan tidak salah arah. Roadmap itu telah Tuhan firmankan di surah al Baqarah ayat 28: “Kaifa takfurụna billāhi wa kuntum amwātan fa aḥyākum, ṡumma yumītukum ṡumma yuḥyīkum ṡumma ilaihi turja’ụn”. Bagaimana kamu ingkar kepada Tuhan, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

Pesan dari ayat di atas, bahwa Tuhan telah merinci tahapan roadmap perjalanan hidup yang akan kita lalui, agar tidak salah langkah dan salah jalan. Paling tidak ada lima tahapan yang pasti akan kita lewati, dan kebutuhan kerja yang harus persiapkan dari kelima tahapan itu sudah terukur.

Roadmap pertama, “Wa kuntum amwātan“, bahwa pada awal mula penciptaan kita adalah berasal dari bahan baku yang mati yakni mani yang menempel, berubah menjadi daging dan tulang belulang. Lalu ditempatkan di satu tempat yang kokoh dan aman, yakni rahim ibu. Di sanalah kita menempel layaknya benda mati yang tidak memiliki kemampuan dan kekuatan.

Roadmap kedua, “fa aḥyākum“ di dalam rahim ibu, Tuhan hidupkan benda yang menempel itu, lalu ditiupkan ruh dan kita mulai merasakan kehidupan. Menurut sumber yang terpercaya, pada masa 4 bulan berada di dalam rahim, kita ditiupkan ruh sambil mengambil perjanjian berupa pengakuan serius atas kekuasaan dan kemahabesaran Tuhan, yang diabadikan dalam surah al A’raf ayat 172, “Alastu birabbikum, qālụ balā syahidnā“. Bukankah Aku ini Tuhanmu? Kita saat di rahim menjawab, betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.

Saat kalimat “Alastu birabbikum” diucapkan Tuhan, sembari  memperlihatkan betapa luas, tinggi dan besar kekuasaan yang dimiliki-Nya, maka kita terperangah penuh keheranan, lalu menjawab “balā syahidnā”, benar kami menyaksikan.

Masa kehidupan yang kita jalankan sekarang, inilah bagian dari konsekuensi dari kalimat “balā syahidnā”  yang harus kita jalankan dengan patuh dan tunduk hanya kepada Tuhan. Cerminan kepatuhan dan ketundukan itu harus nampak dalam sikap hidup dan sikap ibadah yang diridai-Nya.

Kata ulama, siapa yang menjalankan kehidupan dengan komitmen “balā syahidnā” yakni menjalankan syariat yang diturunkan melalui Nabi-Nya dengan benar, maka dia akan menemukan kehidupan indah dan damai pada roadmap berikut, dan ingatlah, bahwa aktivitas apa saja yang kita jalankan pada roadmap kedua ini, akan berimbas pada tahapan roadmap kehidupan ketiga dan seterusnya.

Roadmap yang ketiga, “ṡumma yumītukum”, kita dimatikan untuk menjalani proses pada alam berikutnya yakni Barzakh. Barzakh artinya batas, yakni tapal batas antara kehidupan yang kita jalani sekarang di dunia dengan kehidupan yang akan kita jalani di akhirat. 

Di tapal batas inilah roadmap ketiga akan kita jalani, dengan berbagai macam soal terkait dengan pertanggungjawaban komitmen dari “balā syahidnā” pada roadmap kedua.

Penting kita renungkan, bahwa di tapal batas negara saja, banyak soal yang akan kita selesaikan untuk masuk ke negara lain, apalagi mau memasuki alam lain, tentu berbagai macam soal harus tuntas di tapal batas ini, seperti pertanyaan yang dibacakan saat talqin, merupakan contoh soal yang akan kita hadapi,  “Man rabbuka wan man nabiyyuka wa ma dinuka wa ma imanuka wa ma qiblatuka wa man ikhwanuka?”.

Pertanyaan di atas hanyalah kisi-kisi soal yang jawabannya adalah praktik nyata yang kita jalankan selama berada pada tahapan roadmap kedua, bukan pertanyaan dengan jawaban lisan, karena saat itu fungsi lisan telah dibekukan oleh Tuhan, sebagaimana yang tertera dalam surah Yasin ayat 65.

Roadmap yang keempat, “ṡumma yuḥyīkum”, kita dihidupkan dan dibangkitkan dari istirahat panjang di kehidupan barzakh, untuk menuju satu titik kumpul yang bernama Mahsyar, di sinilah janji Tuhan akan nyata, “In aḥsantum aḥsantum li`anfusikum, wa in asa`tum fa lahā” Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri. (QS. Al Isra’: 7)

Roadmap kelima, “ṡumma ilaihi turja’ụn”, kita akan kembali kepada Tuhan, yang dulu saat di dalam rahim kita pernah berjanji di hadapan-Nya, dengan persaksian dan komitmen yang serius “balā syahidnā”.  Saat inilah Tuhan akan menagih janji dan persaksian yang serius itu, untuk kita pertanggungjawabkan, dan saat inilah ujian yang sebenar-benarnya.

Kita kembali kepada-Nya untuk bercerita seluruh rangkaian perjalanan dari roadmap yang sudah ditetapkan Tuhan, kita bertemu dengan-Nya untuk mengurai seluruh proses panjang dari kehidupan yang kita lalui.

Dapat dibayangkan, seperti apa rasanya di hadapan Robbul alamin, saat itu mulut terkunci, seluruh anggota badan melapor apa yang pernah dilakukan, sekecil dan sekelumit apa pun yang telah kita perbuat, semuanya akan terlapor dengan terang benderang.

Maka marilah kita perhatikan roadmap kehidupan ini dengan sebaik-baiknya dan berusaha melakukan aktivitas yang pantas, agar kita tidak malu di hadapan Tuhan nanti.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.