Aku Butuh Kejujuranmu

Dalam hidup ini, banyak sekali kisah perjalanan hidup seseorang yang sukses dalam segala bidang walau dengan modal yang pas-pasan.
Dia sebenarnya kurang dalam segala hal, baik ekonomi, materi,  kecerdasan, pendidikan, dukungan, dan “lobi”. Akan tetapi karena kejujurannya, dia menjadi orang nomor satu dan menjadi pemimpin yang hebat dan sukses.

Tapi sungguh disayangkan, banyak juga kisah sebaliknya, banyak orang yang pada awalnya dikenal sebagai orang jujur, polos, bahkan sudah ditokohkan hingga diberi penghargaan karena dikenal sebagai pemimpin, dan pejabat yang jujur, tapi gagal mempertahankan kejujurannya, hingga pada akhirnya, menyebabkan hidup dan karirnya yang telah dia bina puluhan tahun, harus hancur dan akhirnya berantakan.

Mohammad Mustari “ mengatakan bahwa jujur adalah suatu prilaku manusia yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap dirinya maupun pihak lain.

Jujur adalah suatu sikap yang lurus hati, menyatakan yang sebenar-benarnya tidak berbohong atau berkata hal-hal yang menyalahi apa yang terjadi (fakta).

Jujur juga dapat diartikan tidak curang, melakukan sesuatu sesuai dengan aturan yang berlaku dan lain sebagainya. Jujur juga bisa bermakna kesesuaian antara niat dengan ucapan dan perbuatan seseorang.

Kasus ini pernah jadi buah berita besar dan viral tentang adanya Menteri, Gubernur, Bupati dan Walikota, bahkan pejabat karir yang tiba- tiba ditangkap aparatur hukum karena lunturnya dan hilangnya kejujuran ini.

Dalam bahasa sehari- hari, kita sering mendengar ungkapan sederhana yang artinya betapa utama dan penting arti kejujuran tersebut. Ungkapan itu antara lain: “jujurlah walau menyakitkan” atau “yang kubutuhkan bukan hartamu, tapi kejujuranmu”.

Banyak persahabatan yang harus putus, banyak perkawinan yang berakhir dengan perceraian, banyak tokoh dan pejabat yang jatuh, banyak nasabah yang pergi, banyak rekan bisnis dan langganan yang hengkang, dan banyak lagi yang lainnya hilang dan kandas karena adanya ketidak jujuran.

Karena utama dan pentingnya sikap jujur  ini, hingga ditetapkan sebagai sifat yang wajib pada diri Nabi Muhammad Saw yaitu “Ash- Shiddiq” yang berarti jujur.

Dalam hal ini, Allah menegaskan dalam Surat At-Taubah: 119 yang artinya “ Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar (jujur).”

Kejujuran bukan saja harus dimiliki oleh tokoh, pejabat ( Politik, dan Karir/ ASN ), pengusaha, aparat hukum (Hakim, Jaksa, Polisi, dan Pengacara ), pemimpin ( Presiden, Menteri, Gubernur, dan Bupati/ Walikota ), akan tetapi wajib juga dimiliki dan menjadi mereka atau sikap pribadi bagi seorang individu, bawahan, pembantu, siswa, mahasiswa dan lebih sebagai anggota dalam sebuah keluarga (suami, istri, dan anak ).

Beberapa kata mutiara tentang “kejujuran “

Pertama, “Tidak ada warisan yang begitu kaya seperti kejujuran.” – William Shakespeare
Kedua, “Kejujuran lebih dulu; lalu keberanian; kemudian otak – dan semuanya sangat diperlukan.” – Theodore Roosevelt
Ketiga, “Menjalani kehidupan yang jujur dan integritas adalah tanggung jawab setiap orang yang baik.” – Noam Chomsky

Sebelum hidup kita berakhir dan mumpung masih ada umur. Marilah kita menjadi orang jujur pada Tuhan, diri sendiri, keluarga, tempat tugas, lingkungan, anak didik kita, atasan, bawahan, dan pada masyarakat kita sebagai apa pun dan di mana pun kita!

Ilustrasi: Suara Muhammadiyah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *