Digitalisasi Ruang Kelas Pasca Pandemi

TULISAN ini berangkat dari sebuah perdebatan sengit antara penulis dengan dua orang pimpinan sekolah yang merasa terusik dengan pesan yang secara iseng penulis kirim di sebuah WhatsApp grup: “Layanan yang sangat dibutuhkan dalam kegiatan KBM adalah tersedianya layanan internet yang mumpuni. Bukan yang lemot”. Kalimat tersebut memancing respons dari pimpinan yang tidak terima bila ketersediaan fasilitas internet di sekolahnya yang lemot.

Dalam tulisan sederhana ini, penulis tidak bermaksud “curhat” apalagi mengajak berdebat pembaca yang budiman. Penulis merasa cukup sampai di sini saja perdebatannya tentang isi WhatsApp tersebut. Kita fokus saja untuk mempelototi tentang ruang-ruang kelas yang masih perlu didesain ulang pasca pandemi ini, tentu dengan desain-desain teknologi digital.  

Pendidikan merupakan jalan ikhtiar untuk menyiapkan peserta didik menghadapi masa depan sehingga mereka dapat menjalani kehidupan ini dengan baik. Saat ini, kita sudah melewati berbagai fase kehidupan sehingga sudah banyak terjadi perubahan dalam kehidupan.

Baca juga: Ke Mana Arah Pendidikan Kita?

Dulu, jika kita ingin memperoleh makanan harus mendatangi warung atau restoran, kini kita cukup menggunakan aplikasi tertentu dengan cara meng-searching makanan yang ingin dipesan melalui gadged, maka dalam waktu beberapa menit saja, makanan pun datang melalui jasa kurir.

Dahulu pengiriman uang harus melalui Wesel Pos, yang masa pengirimannya berhari-hari sesuai jarak dan tentu saja mengeluarkan banyak tenaga dan materi yang tidak sedikit, namun kini cukup dengan memanfaatkan sebuah aplikasi E-Banking, maka dalam hitungan detik uang sudah sampai pada penerima.

Bila dulu kita harus bersurat kepada sanak famili atau keluarga untuk menyampaikan berita, tapi kini cukup melalui pesan singkat melalui layanan SMS, WhatsApp, atau facebook, dalam hitungan menit berita itupun sudah tiba kepada penerima pesan.

Fase-fase perubahan kehidupan kini terus berlomba dengan ruang dan waktu, sehingga batas-batas kehidupan itupun seakan tak ada jarak yang memisahkan. Pergeseran perubahan perilaku masyarakat ini tampak sangat jelas ketika Pandemi Covid-19 melanda dunia. Munculnya wabah Pandemi Covid-19 ini telah menyadarkan umat manusia bahwa perkembangan teknologi komunikasi melalui digitalisasi begitu pesat dan terlalu dini merealisasikannya dalam kehidupan nyata.

Berkembangnya gaya hidup dan perubahan perilaku masyarakat yang sudah tidak lagi mengenal tempat dan batas waktu, berakibat pada kemudahan masyarakat dunia menerima digitalisasi. Faktanya, pada saat ini masyarakat begitu dengan mudah melakukan apa pun, di mana pun, dan kapan pun berkat kemudahan akses internet.

Baca Juga  Puasa sebagai Sarana Tazkiyatun Nafs

Berdasarkan hasil survei Bank Indonesia, menunjukkan adanya peningkatan transaksi berbasis daring per Agustus 2022, dengan pertumbuhan 43,24% (yoy) mencapai Rp35,5 triliun dan nilai transaksi digital banking meningkat 31,40% (yoy) menjadi Rp 4.557,5 triliun. Data ini menunjukkan bahwa telah terjadi adaptasi transaksi jual beli melalui jejaring internet yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia yang membuka ruang bagi industri kreatif untuk memanfaatkan momen ini.

Baca juga: Wacana Lain Pendidikan Karakter di Indonesia

Pertanyaannya sekarang, akankah dunia pendidikan sudah melangkah ke sana? Untuk menjawab itu, kita perlu mencermati bahwa kita tidak bisa menyalahkan pola dan gaya hidup masyarakat masa lalu karena fasilitas-fasilitas semacam itu belum ada.

Namun, patut disayangkan bahwa kelas-kelas yang ada di lembaga pendidikan kita saat ini – dengan teknologi yang sudah dibekali dengan fasilitas-fasilitas yang serba canggih – belum membekali anak didik dengan persiapan untuk menghadapi masa depannya.

Hal ini, sebagai bukti nyata dari ketidaksiapan kita menyiapkan anak didik tersebut adalah ketika kita kelabakan dan sangat kewalahan dalam melangsungkan kegiatan pembelajaran berbasis online baik sebelum Pandemi Covid-19 maupun sesudahnya.

Semestinya kita tidak perlu menyalahkan wabah Pandemi Covid-19 yang menjadi biang terjadinya learning loss pada peserta didik. Namun yang patut direnungi bersama dan kita jawab bersama adalah pertanyaan: mengapa kita mengalami banyak problem ketika pembelajaran daring? Apakah materinya berubah? Apakah kurikulumnya berubah? Apakah gurunya berubah antara masa sebelum kemunculan Pandemi Covid 19 dan sesudah kedatangan Pandemi Covid 19 yang melanda ruang-ruang kelas kita? Kenapa bisa terjadi learning loss?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menjadi pukulan telak bagi kita untuk menjawabnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya menyadarkan kita dan merubah cara berpikir kita yang cenderung keliru menilai bahwa teknologi itu membawa dampak negatif.

Maka sejak saat ini, kita perlu meluruskan mindset bahwa teknologi digital itu penting dipergunakan dalam ruang-ruang kelas. Hal ini penting untuk dilakukan demi menyiapkan anak didik untuk menghadapi berbagai tantangan di dunianya.

Miris rasanya, bila kita menengok pada hasil survei sebuah lembaga di Inggris yang menyatakan bahwa kesiapan anak Indonesia dalam menghadapi abad ke-21 baru bisa dikuasai pada abad ke-31. Tesis ini, diajukan sejak Tahun 2018. Ini berarti bahwa skill (keterampilan) dan keahlian siswa di Indonesia yang belajar dan mengenyam pendidikan saat ini dalam hal penguasaan teknologi sangat lamban. Bayangkan saja, keterampilan abad-21 yang seharusnya dikuasai oleh siswa saat ini baru bisa dikuasai pada abad ke-31. Berarti jaraknya 1.000 tahun siswa-siswa kita baru menguasai teknologi abad-21 yang ada saat ini.

Baca Juga  Negotiating Patriarchy: Relasi Kuasa, Kekerasan Epistemik, dan Agensi Perempuan

Saat ini pun, ketika pelaksanaan pembelajaran dilakukan secara tatap muka, ada kecenderungan guru-guru ingin kembali lagi melaksanakan kegiatan pembelajaran sama dengan kegiatan pembelajaran sebelum terjadi pandemi. Banyak ditemukan guru-guru yang beranggapan bahwa penggunaan teknologi berbasis internet hanya dipergunakan saat pandemi dan dinilai sangat tidak efektif.

Padahal gawai yang ada saat ini adalah alat kerja yang dipergunakan oleh hampir seluruh umat manusia yang ada di permukaan bumi saat ini. Mau kerja sebagai driver ojek online saja mengharuskan penggunaan gawai sebagai alat informasi dan komunikasi dengan pelanggannya guna memperlancar pekerjaannya, padahal itu pekerjaan seadanya. Belum lagi pekerjaan-pekerjaan lain di dunia industri yang menuntut skill dan keterampilan tingkat tinggi dari pekerjanya tersebut.

Bila peserta didik yang ada di kelas-kelas itu tidak mempergunakan teknologi digital dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, berarti kita tidak mempersiapkan anak didik kita untuk menghadapi masa depannya. Mau tidak mau atau suka tidak suka dengan keberadaan teknologi digital saat ini, sedikit demi sedikit kita perlu berubah dengan terus memanfaatkan dan menggunakan teknologi digital sebagai media pembelajaran guna mempersiapkan dan membekali peserta didik menghadapi dunianya (Abad 21). Bukan dunia kita yang dulu.[]


Daftar Bacaan
[1] https://bdkbandung.kemenag.go.id/berita/dampak-positif-negatif-pendidikan-di-masa-pandemi.
[2] https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2425322.aspx.
[3] Rismauli pangaribuan menilai bahwa dampak kemunculan Pandemi Covid 19 bagi dunia Pendidikan tidak sekedar negatif, tetapi juga memiliki banyak dampak positif, salah satunya adalah memicu percepatan transformasi Pendidikan. Baca https://www.stit-alkifayahriau.ac.id/dampak-positif-pandemi-covid-19-terhadap-dunia-pendidikan/.


Ilustrasi: Pinterest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *