Ilyas Yasin

Akademisi, mantan wartawan kampus, dan pengagum Gandhi, "Plain Living High Thinking".

Politik Media: Penebar “Harapan” atau “Ratapan” ?

Beberapa tahun lalu saya mengenal baik seorang pegawai pada sebuah instansi pemerintah di Kabupaten Dompu. Karena kami tinggal satu desa bahkan di dusun yang sama hubungan kami sangat akrab. Sebelum meninggal pada 2010 karena kecelakaan dia sempat bercerita tentang pengalamannya sebagai bendahara pada salah satu proyek di tempatnya bekerja.Cerita yang sampai hari ini masih membekas …

Politik Media: Penebar “Harapan” atau “Ratapan” ? Selengkapnya »

HMI dan Para “Malin Kundang” Itu

Setiap kader HMI pasti selalu punya narasi dan memori indah tentang himpunan ini. Sebagai organisasi kemahasiswaan HMI menawarkan sensasi dan ‘rasa’ yang berbeda. Ada banyak hal yang didapatkan di sini: tentang kepemimpinan, keorganisasian, kepedulian sosial, nasionalisme, wacana keislaman dan paling penting atmosfir intelektual yang khas.Baca juga: Pergulatan Menjadi HMISaya sendiri bukanlah kader inti di HMI, …

HMI dan Para “Malin Kundang” Itu Selengkapnya »

Menepis Mitos Menjadi Penulis

HAMPIR  dalam setiap pelatihan dan lokakarya kepenulisan hal pertama yang sering dikeluhkan peserta adalah kebingungan cara memulai menulis atau perasaan malu dengan mutu tulisan yang dihasilkan.Keluhan yang sama muncul dalam acara “Workshop Pengembangan Metodologi Penelitian Dosen” STIT Sunan Giri Bima yang diselenggarakan di Kalikuma Educamp and Libarary, Bima, Sabtu (23/1/2021). Bagi para pemula keluhan dan …

Menepis Mitos Menjadi Penulis Selengkapnya »

Imaji Kebangsaan Kaum Muda

MEMBINCANG Sumpah Pemuda berarti kita berbicara tentang memori dan narasi. Yakni, memori dan narasi perjuangan tanpa lelah dari kaum muda dalam menyusun aneka puzzle keragaman hingga membentuk sebuah bangunan kebangsaan bernama Indonesia. Pernahkah kita membayangkan, bagaimana preseden historis dalam mengumpulkan dan merajut kepingan-kepingan identitas suku, budaya, bahasa dan agama itu hingga terjalin sebuah bangsa besar …

Imaji Kebangsaan Kaum Muda Selengkapnya »

Perkenalkan, Saya Juga Orang Pesantren!

SAYA cukup ‘asing’ dengan institusi pesantren baik berinteraksi secara langsung maupun yang diakses melalui publikasi media. Kecuali pada beberapa keluarga yang secara tradisional memasukan anaknya di pesantren, hingga awal 1980-an, ketika saya duduk di sekolah dasar, nama pesantren masih samar-samar dibandingkan madrasah. Kebetulan saya menempuh pendidikan dasar pada lembaga terakhir tersebut. Jelang akhir 80-an nama …

Perkenalkan, Saya Juga Orang Pesantren! Selengkapnya »

Merokok dan Kelas Bawah

PAGI-PAGI seorang peminta-minta datang ke rumah. Seorang pria paro baya. Saya yang sedang handukan mau mandi terpaksa menyambutnya. Usai menjawab salam, saya persilakan masuk tapi dia menolak. Dia memilih berdiri santai di depan pintu sambil mengisap rokok. Asap tebal mengepul. Saya segera memberinya sedekah. Sambil mengucapkan terima kasih mulutnya komat-kami merapalkan doa. Jarinya masih mengapit rokok yang …

Merokok dan Kelas Bawah Selengkapnya »

Ironi Setetes Mani

WAJAH Tsania Marwa terlihat sembab. Sesekali ia menyeka air matanya. Meski ia berusaha keras menutupi kesedihannya,  akhirnya tumbang  juga. Sebelumnya ia selalu terlihat tegar menghadiri persidangan dan mediasi panjang yang melelahkan di pengadilan untuk mendapatkan hak asuh kedua anaknya. Buah cinta pernikahannya dengan Attalarik Syah. Dia juga rajin mendatangi KPAI agar kedua buah hatinya kembali ke …

Ironi Setetes Mani Selengkapnya »

‘Melawan’ Cak Nur

PALING tidak tercatat dua kali gagasan pembaruan Cak Nur (Nurcholish Madjid) menimbulkan heboh intelektual yakni pada 1970-an dan awal 1990-an. Heboh intelektual pertama dipicu oleh beberapa gagasannya seputar seruan ‘sekularisasi’ dan slogan ‘Islam Yes Partai Islam No”. Ketika  banyak  tokoh politik  Islam sedang berjuang keras membujuk rezim Orde Baru  untuk  merehabilitasi  Masyumi, atau setidaknya reinkarnasi …

‘Melawan’ Cak Nur Selengkapnya »

Tikar Kebangsaan yang Masih Harus Dianyam

“AGAMA itu apa sih, Pak Kyai?” tanya salah seorang santri. Bukannya menjawab, sang kyai malah meraih biola di sampingnya dan menggeseknya sehingga lamat-lamat terdengar nada dengan ritme pelan dan indah. Para santri pun menikmati alunan nada itu, bahkan di antaranya terbuai dan memejamkan mata. Mereka tersentak setelah sang kyai menghentikan gesekan senar biolanya sembari bertanya “Gimana …

Tikar Kebangsaan yang Masih Harus Dianyam Selengkapnya »