Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi yang Tidak Gentar Berdebat

ULAMA-ulama besar Nusantara memiliki kontribusi penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Di antara ulama yang memiliki kontribusi terhadap Indonesia, adalah Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Sejumlah nama besar ulama pernah berguru dan menimba ilmu padanya waktu di Mekah, mulai KH. Muhammad Dahlan, Agus Salim, hingga KH. Hasyim Asy’ari.

Hal ini terjadi setelah ia diangkat sebagai Imam, dan khatib Masjidil Haram oleh penguasa  Haramaih. Tidak heran, ia merupakan ulama nusantara terkemuka sekaligus mufti mazhab  Syafi’i pada akhir abad ke-19, dan awal abad ke-20.

Setelah diangkat sebagai imam dan khatib di Masjidil Haram, dan karena keluasan ilmu yang dimiliki, membuat sebagian ulama Mekah tidak menyukainya. Ia dianggap sebagai orang Melayu yang tidak cakap  dalam urusan agama. Diketahui, Ahmad Khatib ketika itu, sebagai imam dan khatib Masjidil Haram non Arab pertama, dan ia juga dikenal ulama non Arab yang bermukim di Mekah. Hal ini mendapat perhatian tersendiri dari Muhammad Sa’id Babsil, seorang ulama Arab, mufti mazhab Syafi’i dan guru di Masjidil Haram.

Said Babsil tidak senang dengan prestasi yang dicapai oleh Ahmad Khatib karena ia ulama non Arab yang mendapatkan privilege sebagai tenaga pengajar di Masjidil Haram. Namun, karena  mendapat izin langsung dari Imam besar Masjidil Haram Syarif Ainur Rafiq, membuat Babsil segan padanya.

Syekh Ahmad Khatib, meski menetap di Mekah, ia selalu aktif mengikuti perkembangan wilayah Nusantara, terutama daerah Minangkabau. Ia kerap berdiskusi dengan sejumlah ulama  Nusantara mulai dari niat shalat, shalat Jumat di masjid baru di Palembang, sampai masalah Tarekat Naqsabandiyah di Minangkabau.

Ia dikenal sangat tegas terhadap praktek-praktek tarekat nasqabandiyah al-Khalidiyah, dan hukum waris yang berdasar adat. Syekh Ahmad Khatib pernah terlibat perdebatan sengit hingga muncul polemik, setelah Ahmad Khatib secara terbuka menentang tarekat tersebut. Polemik itu muncul usai ia menyampaikan kritikannya lewat sebuah tulisan dalam kitab Izhharu Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bish Shadiqin.

Kitab ini selesai ditulis tahun 1906. Isinya sebagian besar mengkritik praktek tarekat naqsabandiyah. Kritikannya tersebut tidak hanya menyulut emosi di internal tarekat naqsabandiyah tapi penganut tarekat lain juga ikut marah.

Tulisan Ahmad Khatib pada perkembangannya menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Salah satunya berupa protes keras yang disampaikan oleh Syekh Muhammad Sa’ad Mangka, seorang guru tarekat naqsabandiyah yang merupakan rekan seperjuangan Ahmad Khatib. Sa’ad Mangka menulis kitab Irhgamu Unufi Muta’annitin fi Inkarihim Rabithatil Washilin yang rampung tahun 1907.

Selain terlibat polemik pemikiran dengan Syekh Muhammad Sa’ad Mangka, ia juga melibatkan beberapa ulama Minangkabau yang kemudian melahirkan sejumlah kitab yang ditulisnya dalam bahasa Melayu. Ia tidak menolak tarekat, tapi ia hanya meluruskan pemahaman dan praktek tarekat yang dilakukan masyarakat Minangkabau yang kurang tepat.

Polemik perdebatan masalah tarekat naqsabandiyah terungkap saat muridnya bernama Syekh Abdullah Ahmad menulis surat kepadanya, yang berisi permintaan fatwa terkait tradisi tarekat naqsabandiyah yang berkembang di Minangkabau. Kepada muridnya, Ahmad Khatib menjelaskan istilah-istilah dalam tarekat seperti syariat, tarekat dan hakikat.

Ia juga menjelaskan pengertian tarekat yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, yaitu: kesesuaian antara syariat dan tarekat. Menurutnya para ulama sufi memberikan 9 wasiat, antara lain: taubat, qana’ah, zuhud, belajar ilmu syariat, menjaga sunah dan adab Nabi SAW baik lahir maupun batin. Selain itu, tawakal, ikhlas, ‘uzlah dan menjaga waktu yang diberikan dalam ketaatan secara totalitas.

Ahmad Khatib dalam masalah tersebut menekankan bahwa tarekat yang benar adalah tarekat Nabi, sahabat dan ulama-ulama terdahulu yang mengedepankan syariat dalam tarekat. Hal ini berbeda  dengan tarekat nasqabandiyah yang berkembang di Minangkabau, yakni lewat cara mereduksi makna dan pengalaman dalam bentuk baiat dan wirid seperti yang diajarkan guru tarekat kepada murid dengan mengesampingkan syariat.

Ahmad Khatib menilai beberapa ajaran dan amalan tarekat nasqabandiyah berkembang di Minangkabau, sebagai bid’ah dan syirik. Perdebatan masalah tersebut meluas ke wilayah nusantara lainnya, bahkan berlangsung lama sehingga tidak sedikit syekh-syekh Naqsabandiyah terus menerus melakukan sanggahan terhadap kritikan Ahmad Khatib sampai tahun 1980-an.

Polemik lain yang melibatkan Ahmad Khatib, yaitu masalah masjid yang akan digunakan untuk shalat Jumat. Awal muncul polemik tersebut bermula saat seorang tokoh Palembang bernama Masagus Abdul Hamid, mendirikan masjid Jami’ tahun 1890-an. Ia mendirikan masjid itu untuk shalat Jumat selain masjid lama, yaitu masjid Agung Kesultanan. Ketika itu, muncul perbedaan pendapat di antara ulama Palembang soal boleh tidaknya masjid baru sebagai tempat shalat Jumat.

Polemik soal shalat Jumat di masjid Jami’ begitu sengit sampai-sampai penghulu Muhammad Aqil kirim surat ke Mufti Batavia bernama Sayyid Ustman. Ustman menjawabnya dengan menulis buku yang berjudul: Menyenangkan hati yang bimbang di dalam perihal Jum’at di masjid baru. Masagus juga kirim surat ke Ahmad Khatib perihal shalat Jumat di masjid baru dan jawabannya membolehkan shalat Jumat di masjid baru itu. Masagus belum puas dengan jawaban Ahmad Khatib, ia kemudian bersurat ke Ustman, dan sebagai jawabannya Ustman menulis buku yang menyatakan bahwa jawaban Ahmad Khatib itu keliru, karena berdasar informasi pertanyaan yang salah.

Jawaban Usman dikirim kembali ke Ahmad Khatib, dan Jawabannya dengan menulis buku, hingga terjadi perdebatan panjang. Kedua tokoh agama  ini saling mempertahankan argumen, hingga terjadi perdebatan sengit saling bantah  lewat buku yang mereka tulis. Namun,dibalik adanya perbedaan pendapat berujung polemik yang berkepanjangan, justru memicu munculnya gerakan-gerakan di tanah Minang untuk maju meninggalkan keterbelakangan.[]

Ilustrasi: surau.co

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *