Iqra’ Kitabaka: Membaca Diri Sejak Dini

BACALAH kitabmu, seru Tuhan kepada kita melalui kalam yang tegas di surah ke 17 ayat 14. Kitab yang dimaksud itu dimaknai oleh kita-kita ini sebagai buku catatan amal yang akan kita terima dan masing-masing diri membaca sendiri di hari yang adil nanti di tanah lapang yang bernama Mahsyar sebagai titik kumpul. Lalu Tuhan melanjutkan firmannya di ayat yang sama yang penting untuk kita renungkan dalam-dalam; “ cukuplah dirimu sendiri sebagai penghisab atas dirimu”.

Sungguh sangat indah pesan Tuhan, Iqra’ Kitabaka – perintah yang amat singkat tetapi terkesan tidak bertuah di telinga pembacanya sehingga tidak banyak mendapat respon betapa membaca kitab itu sangat penting dan sangat pantas untuk kita lakukan.

Jika pemahaman kita tentang “kitab” yang harus kita baca itu adalah kitab yang kita terima nanti di akhirat dan membacanya juga harus nanti, alangkah kelirunya kita ini. Coba kita renungkan baik-baik dengan mengedepankan logika yang sehat bahwa yang menjadi isi kitab yang Tuhan perintahkan kepada kita untuk membacanya adalah intisari dari amalan-amalan yang kita kumpulkan selama berada di cosmos yang fana ini. Baik itu amalan yang bagus maupun amalan yang jelek, semua intisarinya tercatat dan terekam dengan sangat teliti dan tidak ada yang terlewat walau sebesar biji zarrah. Demikian cara Tuhan menjaga wibawanya di hadapan umatnya. Baca surah ke 36 ayat 54, “bahwa pada hari itu, tidak ada seseorang yang dirugikan sedikitpun dari apa yang sudah dikerjakan”.

Dengan memahami sumber dari isi Kitab yang akan kita baca itu, maka sangat keliru apabila kita menunggu datangnya waktu ujian di mahsyar nanti untuk membacanya. Ingatlah, hahwa sebagian dari kita pernah menulis karya akhir berupa karya tulis di perguruan tinggi, entah namanya makalah atau risalah, skripsi, tesis, dan disertasi. Karya tulis itu idealnya harus kita baca semenjak memulai menulisnya dan terus kita baca berulang-ulang hingga terasa titik jenuh dalam diri ini dan kondisi itu harus kita abaikan agar kita menguasainya dengan penuh pemahaman dan keyakinan tatkala nanti berada di hadapan penguji. Jika kita harus menunggu membaca karya tulis itu nanti tatkala berada di meja ujian, maka fatallah upaya itu, bisa jadi sia-sia dan berujung malapetaka.

Demikian i’tibar yang bisa kita rujuk untuk memahami perintah “Iqra’ kitabaka” bacalah kitabmu. Jangan kita pahami perintah membaca itu harus kita lakukan nanti tatkala di mahsyar. Tidak! Bacalah isinya dari sekarang, tatkala kita sedang menulis isi kitab itu dengan amalan-amalan yang kita kerjakan setiap waktu, setiap saat, dan setiap hari. Karena apa yang disebut kitab itu tidak lain cerminan diri ini, lembaran-lembaran kitab itu adalah keseharian kita di cosmos ini. Maka bacalah diri ini mulai pagi hingga esok paginya, tentunya dengan bacaan yang teliti dan hati-hati, karena apa yang kita baca tentang diri ini itulah isi kitab yang akan kita terima nanti.

Rasul SAW telah memberikan kita kunci untuk membaca diri melalui sabda beliau “Man kana yaumuhu khairan min amsihi fahua rabihun, waman kana yaumuhu mitsla amsihi fahua magbunun, waman kana yaumuhu syarran min amsihi fahua mal’unun”. Barang siapa yang harinya sekarang lebih baik dari kemarin  maka dia beruntung, barang siapa yang harinya sekarang sama dengan kemarin maka dia orang yang merugi, dan barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek dari kemarin maka dia mendapat laknat.

Sudah jelas sekali isyarat yang diberikan Nabi kepada kita sebagai umatnya, bahwa membaca diri barometernya hanya sehari yakni hari ini, maka setiap diri yang mempu menulisi lembaran-lembaran hidupnya dengan amalan-amalan terbaik hari ini, kemudian membacanya  dengan seksama pada hari itu juga,  maka seluruh lembaran hidupnya dijamin akan baik.

Wajar jika Tuhan mengatakan bahwa “Kamu adalah umat terbaik dari golongan manusia”. Yakni yang mampu dan bersedia melakukan bacaan terhadap dirinya, terhadap amalannya, semenjak mereka menulis amalan-amalan itu setiap hari dalam hidupnya. Dan konon Tuhan memilah penerima kitab itu nanti menjadi tiga golongan yakni golongan yang menerima kitabnya dari kanan, golongan yang menerima kitabnya dari kiri, dan golongan yang menerima kitabnya dari belakang (dari arah punggungnya).

Orang yang menerima kitab amalannya dari arah kanan, itulah orang selalu membaca dirinya, membaca amalan yang ditulisnya didalam kitab amal itu semasa hidupnya. Sementara orang yang menerima kitab amalannya melalui kiri dan arah belakang, itulah orang yang enggan dan bahkan tidak pernah membaca dirinya, tidak pernah membaca amalan yang ditulisnya didalam kitab amal semasa hidupanya. Tuhan pantang mengingkari janji, bahwa hambanya yang dijamin untuk optimis menerima kitabnya melalui tangan kanannya sebagai perlambang kemuliaan di hadapan pengadilan Tuhannya adalah hamba yang berkenan membaca dan mengevaluasi catatan amalnya sendiri semenjak dia menulisnya semasa hidup di dunia. Camkan baik-baik apa kata Tuhan; “… cukuplah dirimu sendiri sebagai penghisab atas dirimu”.[]  

                                                                                                                               Ilustrasi: pixabay.com

1 komentar untuk “Iqra’ Kitabaka: Membaca Diri Sejak Dini”

  1. Nanda Zahratu Raudah

    Allahu Akbar…..alhmdulillah pencerahan yang super untuk pagi ini, sebagai pengingat diri sndiri untuk trus belajar dan berusaha melakukan yg terbaik untuk diri sndiri, kluarga dan ummat…..???
    Mengisi….menulis kitab kita hari demi hari dengan kebaikan di cosmos yg fana ini ??aamiin ??

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *