Refleksi Pemilukada NTB, 2020: Perempuan, Kemampuan atau Keturunan? (2)

DINASTI pasti berpengaruh, tetapi tidak berdiri sendiri dan bukan yang utama. Ada faktor lain yang dimiliki IDP yaitu kerja sama yang baik antara dinasti dengan melankolia politik yang dimainkan dan dirawat dengan apik oleh keluarga besar maupun pendukung dan simpatisan. Melankolia politik yang dimaksud adalah majunya IDP sejak periode pertama, sampai sekarang pun menggunakan cerita sedih meninggalnya suaminya yang saat itu sedang menjabat bupati, dan jenis dinasti yang dimaksud bukan sekedar dinasti politik tetapi juga dinasti ‘darah biru’ (istana) yang memunculkan romantisme masa lalu.

Klaim tentang melankolia politik ini tentu memerlukan analisis yang lebih seksama. Apa yang menyebabkan faktor ini terus bisa memberikan pengaruh signifikan? Tentu salah satunya dan bisa dikatakan sebagai yang utama adalah komunikasi politik yang dimainkan. Bagaimana mereka menghadirkan fakta yang sebenarnya hanya masa lalu ini menjadi kenangan yang  menyentuh dan berpengaruh adalah bukti dari kemampuan komunikasi, verbal (retorika) maupun non-verbal.

Mengapa pula dinasti kesultanan masih terus bisa dijadikan modal oleh IDP pada konteks masyarakat Bima yang dalam banyak hal tidak sepenuhnya sami’na wa atha’na terhadap kesultanan? Banyak sejarah resistensi terhadap istana dari wilayah-wilayah tertentu di Bima. Bahkan pada saat bupati Ferry masih hidup, perlawanan terhadap kebijakan-kebijakan dia yang bupati sekaligus sultan pada waktu itu juga cukup tajam dan memakan korban misalnya peristiwa Lambu dan Parado, dan pada dua kecamatan ini, IDP mampu meraup suara tertinggi bersama dengan 12 kecamatan lain dari 18 kecamatan yang berada di Kabupaten Bima. Sekali lagi ini memerlukan kemampuan retorika yang memadai yang berhasil memasuki relung psikologi massa.

Selain itu posisi IDP yang senyatanya sekarang adalah single parent, perlu menjadi unit analisis tersendiri. Kekuatan dinasti tentu ada. Tetapi sekali lagi, kedinastian IDP tidak terlalu dekat dibandingkan dengan yang dialami oleh para perempuan yang para pendukung utamanya (suami dan saudaranya) masih hidup dan bisa langsung mendukung proses berdarah-darah mereka. Belum lagi jika dikaitkan dengan isu yang dimainkan oleh publik bahwa IDP hanyalah seorang “permaisuri” yang tidak murni berdarah Bima. Beliau lahir dan besar di Dompu, kabupaten tetangga dan berbahasa yang sama dengan masyarakat Bima,  sebelum menikah dengan mendiang Ferry Zulkarnain. Tapi toh IDP lebih beruntung daripada para perempuan tersebut di atas. Hal-hal yang tersebut memerlukan kemampuan komunikasi yang baik agar memastikan modal yang memang sudah ada dapat memberikan efek yang lebih besar bagi kemenangan IDP.

Dari segi pengalaman, mereka semua hampir setara. Perempuan-perempuan tersebut di atas juga bukan hanya ibu rumah tangga sebelumnya; Selly di Mataram pernah menjabat Pjs Walikota Mataram dan mengepalai berbagai dinas sebelum maju. Demikian pula Lale di Lombok Tengah yang juga sudah lama mengarungi dunia birokrasi. Eri Aryani, Calon Bupati Dompu memang bukan perempuan karir tetapi ia telah 10 tahun mendampingi suaminya menjadi bupati dua periode sebelumnya. Posisi yang notabene sama dengan IDP saat maju periode pertama dulu, bermodal pengalaman mendampingi suami yang menjadi bupati walaupun tidak genap 10 tahun. Perbandingan ini perlu dianalisis untuk meletakkan secara jernih bagaimana kemampuan personal dan komunikasi politik bisa dilihat sebagai faktor utama kemenangan.

Bagaimana dengan calon Wakil Bupati Sumbawa yang merupakan adik kandung orang nomor satu di Provinsi NTB saat ini. Dia adalah orang baru, tidak didengar sepak terjangnya di dalam dunia politik sebelumnya. Tetapi dia juga bekerja di dunia publik, dari guru lalu alih profesi sebagai pegawai di Pemprov NTB, sekarang. Jika memang dinasti menentukan, tentu Dewi tidak perlu tegang dan khawatir menunggu hasil akhir real count dari KPU, karena jaminan posisi kuat kakak kandungnya yang memenangkan pemilihan Gubernur NTB 2018 lalu dengan perolehan suara 31.80%. Selain menjadi tokoh politik, Zulkiflimansyah dan keluarganya juga merupakan tokoh pendidikan yang telah berjasa bagi masyarakat Kabupaten Sumbawa dengan mendirikan Universitas Tehnologi Sumbawa (UTS) dan institusi pendidikan lain dalam berbagai level. Jika Dewi pada akhirnya menang, bisa jadi faktor dinasti memang ada, tetapi tetap bukan juga menjadi faktor utama.  

Dewi dan IDP sama sama satu-satunya perempuan, di antara lima pasangan di Sumbawa dan tiga pasangan di Bima. Keduanya berhasil meraih suara yang lumayan walaupun untuk Dewi bukanlah yang terbanyak untuk sementara ini. Jadi asumsi bahwa keperempuanan mereka juga berkontribusi sebagai faktor kemenangan menjadi faktor yang penting kedua setelah kemampuan komunikasi. Bandingkan juga dengan kemenangan AKJ-Syah di Dompu yang merupakan kuda hitam dan tidak pernah disangka. Faktor kemenangan mereka ditopang dengan baik juga oleh istri paslon ini yang di dalam kampanye-kampanyenya selalu tampil dengan pidato, ngaji, dan do’a yang menyentuh disertai tangisan pula. Jangan anggap remeh tangisan karena ini salah satu cara komunikasi politik yang sangat menyentuh. Foto tangisan IDP pada periode pertama dulu juga dijadikan model komunikasi yang merawat melankolia politik sebagaimana disebut di atas juga sangat berperan. Ingat, masyarakat kita masih masyarakat melankolis

Di Dompu dan di Kota Mataram ada dua pilihan perempuan walaupun satunya calon nomor satu dan yang lain calon nomor dua. Dan dua-duanya tidak berhasil. Tetapi di Lombok Tengah, Lale adalah satu-satunya calon perempuan tetapi tidak berhasil seperti Dewi dan IDP di Sumbawa dan Bima, dan hanya mendapatkan suara 13.3%, atau urutan keempat dari lima paslon yang berlaga. Bisa jadi faktor keturunan memegang peranan untuk perempuan di Sumbawa tetapi tidak untuk pulau Lombok. Faktor dinasti ternyata tidak melintasi ruang dan waktu, di mana posisi suami Lale yang sedang aktif menjadi Sekda dan merupakan keturunan terhormat bergelar Lalu dalam strata sosial masyarakat Sasak tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Jadi secara kumulatif, aspek keturunan mendapatkan sandaran data yang paling minimal dan tidak kuat dalam perhelatan Pemilukada 2020 ini.

Berdasarkan analisis di atas, bisa dikatakan bahwa penentuan kemenangan perempuan untuk konteks Pemilukada 2020 di NTB bisa diurut dari segi kemampuan komunikasi di faktor yang paling utama. Selanjutnya fakta bahwa mereka satu-satunya perempuan pada deretan paslon yang berlaga, di mana mungkin lebih eye catching bagi banyak pemilih milenial dan floating mass. Terakhir adalah faktor keturunan yang juga harus diakui memberikan kontribusi bagi strategi menggaet suara massa.

Jadi, mengapa perempuan terpilih? Ya karena mereka memiliki kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya maupun kesempatan yang ada semaksimal mungkin.[]

Ilustrasi: satunama.org

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *