Saatnya Memerdekakan Hati

Tuhan menjelaskan dalam firman-Nya bahwa dalam kelahiran manusia secara bertahap diaktifkan tiga kemampuan yang menjadi bekal mengarungi kehidupan baru di planet bumi pasca kehidupan di alam rahim, yakni kemampuan mendengar, kemampuan melihat dan kemampuan untuk paham dengan keaktifan hati nurani.

Kemampuan pertama yang diaktifkan Tuhan adalah kemampuan mendengar, itulah yang melatari adanya tuntunan dalam agama untuk memperdengarkan suara dari kalimat panggilan Tuhan (azan dan iqomah) sebagai materi pertama yang harus diperdengarkan kepada seorang bayi yang baru lahir.

Baca juga: Kurban: Pembebasan dari Rasa Memiliki

Setelah itu Tuhan aktifkan kemampuan melihat sebagai pelengkap dari kesempurnaan mendengar. Setelah kemampuan mendengar dan melihat telah berfungsi secara sempurna, Tuhan sempurnakan fitrah bawaan itu dengan mengaktifkan kemampuan hati nurani untuk memahami obyek pendengaran dan pengelihatan, dan pada perkembangan selanjutnya hati nurani diberi kemampuan sensorik untuk memposisikan pendengaran dan pengelihatan selalu berada pada ranah yang benar.

Masing-masing dari tiga kemampuan besar yang Tuhan anugerahkan kepada kita memiliki ruang dan fungsi yang sangat strategis dan tentunya proporsional, namun diantara tiga kemampuan besar itu, nurani atau hatilah yang memiliki kedudukan paling sentral, karena didalamnya Tuhan titip amanah untuk menjadi sensor dan muara atas baik—buruk dan benar—salah.

Nurani menjadi anugerah terindah dan termahal yang harus dijaga dengan baik. Salah satu cara menjaga dan melindunginya adalah jangan sampai semua obyek pengelihatan dan pendengaran dibawa dan dimasukkan ke dalam hati. Tuhan menginginkan agar masing-masing kita sudi untuk memilah obyek-obyek mana saja dari tangkapan pendengaran dan pengelihatan yang pantas untuk di bawa ke hati atau nurani. “Walaa taqfu maa laisa laka bihi ‘ilmun”. Janganlah kamu turuti sesuatu yang kamu tidak memiliki pemahaman (yang cukup tentang obyek tersebut).

Baca juga: Hijrah: Perubahan Mulai dari Diri Sendiri

Efek dari kealpaan dan keteledoranan kita yang enggan atau bahkan tidak melakukan pememilahan sama sekali terhadap obyek pendengaran dan pengelihatan yang sampai ke hati, akan mengakibatkan kelelahan hati nurani dalam menjalankan fungsi essensinya sebagai sensor, sehingga kemampuan untuk menggiring kita pada prilaku orisinil dan obyektif akan melemah.

Jadi tidak semua obyek pendengaran dan pengelihatan harus dikirim ke dalam hati dan dipaksa untuk direspon. Dan ini sering menjadi bagian dari kebiasaan kita-kita dalam menjalani hidup ini. Apa yang kita dengar atau kita lihat, langsung kita kirim ke hati, dicerna sebagai obyek yang harus direspon dan disikapi, padahal kebiasaan seperti ini akan melemahkan fungsi hati, akan menghilangkan kemampuan sensorik atas obyek baik—buruk dan benar—salah.

Jika hati telah lelah atau melemah fungsinya akibat dipaksa merespon semua obyek yang ditangkap oleh pendengaran dan pengelihatan tanpa sortir, maka lama kelamaan hati ini akan rentan untuk berpenyakit. Oleh Hamka menjelaskan, bahwa hati yang mengalami kelelahan diibaratkan seperti cermin yang tidak pernah dibersihkan, akan berdebu dan lama kelamaan akan buram tidak mampu menangkap gambar dengan jernih. Qur’an membahasakannya dengan “Maradh” didalam surah ke dua ayat 10 “Fi qulubihim maradhun…”, Dalam hati mereka ada penyakit (berupa keragu-raguan dan kemunafikan yang menyebabkan sakit atau lemahnya hati mereka).

Coba kita refleksi beberapa gejala yang kita alami dalam kehidupan kita. Berapa banyak dari kita-kita ini yang menjadi manusia pendendam sebagai efek dari obyek pendengaran dan pengelihatan digeret secara utuh menjadi ranah hati. Berapa banyak dari kita-kita yang menjadi lawan atas teman yang lain akibat dari obyek pendengaran dan pengelihatan yang kita masukkan menjadi obyek hati tanpa saringan. Berapa banyak dari kita-kita menjadi khianat disebabkan oleh obyek pendengaran dan pengelihatan masuk ke hati dengan fulgar.

Kita memang sembrono didalam urusan pendengaran, pengelihatan, dan hati nurani. Apa yang kita dengar dimasukkan ke dalam hati, apa yang kita lihat dimasukkan ke dalam hati, sehingga semua obyek ditampung oleh hati. Sembrononya kita dalam menggunakan fungsi ketiga kemampuan yang kita miliki itu dengan tidak semestinya, membawa kita ke posisi makhluk yang tidak memiliki kemampuan untuk paham, sebagaimana dinukilkan dengan jelas di surah ke 7 ayat 179: “Lahum qulụbul lā yafqahụna bihā wa lahum a’yunul lā yubṣirụna bihā wa lahum āżānul lā yasma’ụna bihā”. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk faham, mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya (dengan semestinya) sebagai media pengelihatan, dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya (secara proporsional) untuk media pendengaran.

Baca juga: Reaktualisasi Spirit Maja Labo Dahu dalam Bermasyarakat

Intinya, mari kita membiasakan diri untuk tidak memasukkan semua obyek yang ditangkap oleh pendengaran dan pengelihatan ke dalam hati. Peliharalah, lindungilah, dan jagalah hati kita agar tetap sehat dan tak kehilangan fungsi sensornya, dengan cara memilah dan menyaring obyek-obyek yang ditangkap oleh pendengaran dan pengelihatan. Pilahlah obyek yang mana yang  harus sampai ke dalam hati dan obyek apa yang harus kita protek untuk sampai ke dalam hati. Dengan begitu insya Allah hati ini akan merdeka dalam menjalankan fungsinya dan akan memberikan ketenangan terhadap jiwa dan raga.            

1 komentar untuk “Saatnya Memerdekakan Hati”

  1. Bismillahirrahmanirrahim….
    Pasti Banyak penyakit hati yang akan timbul efek dari pendengaran dan penglihatan yang kita biarkan masuk ke hati dengan mudahnya. Naudzubillahi min dzalik….,Alangkah indahnya jika hidup penuh dengan ketenangan Jiwa dan raga 😇😇😇semoga Allah menguatkan dan menjauhkan kita semua dari segala macam penyakit hati yg menyesatkan… Aamiin, jazakallah ayahndaku, barakallahu fii umrik aby…… 🥰🙏🙏🙏

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *