Kurban: Pembebasan dari Rasa Memiliki

Rahasia keikhlasan itu adalah membebaskan diri dari rasa kepemilikan terhadap apa saja. Begitu ada rasa memiliki di dalam hati, maka pasti akan diiringi pula oleh rasa kekhawatiran atau ketakutan untuk kehilangan. Leonardo da Vinci dalam kata bijaknya, “He who possesses most must be most afraid of lost”. Dia  yang memiliki paling banyak, pasti takut kehilangan.

Dalam perjalanan kenabian, rasa kepemilikan itu terlebih dahulu dikerdilkan dalam dirinya, sehingga puncaknya adalah rasa keikhlasan. Para nabi dan rasul itu tidak pernah berhajat untuk memiliki semacam jabatan, harta, maupun tahta. Karena mereka semua tahu bahwa rasa memiliki terhadap jabatan, harta, maupun tahta akan menjadikan jiwa dan raga mereka tergadai dan takut kehilangan.

Baca juga: Berkurban, Menuju Kesempurnaan Pendekatan Kepada Tuhan

Lihat saja bagaimana nabi Muhammad yang ditawarkan tahta, jabatan, dan harta dalam perjalanan tugas kenabiannya agar mau meninggalkan tugas dakwah, beliau dengan tegas mengatakan, “andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan agama ini, hingga Tuhan memenangkannya atau aku ikut binasa karenanya, maka aku tidak akan meninggalkannya.” 

Dalam berkurban, para nabi dan rasul tidak pernah bimbang dan rasa setengah hati, mereka all out mengurbankan apa saja dengan sangat ikhlas, karena didalam diri mereka telah sempurna keyakinan bahwa di dalam hati tidak boleh ada rasa memiliki, tidak pula tergantung atau terikat kepada selain Tuhan, dan hanya Dia pemilik segalanya.

Lalu mengapa kita dalam setiap akan melakukan ibadah kurban masih saja hitung-hitungan dengan Tuhan? Jawabannya adalah Ternyata dikarenakan didalam diri kita masih lekat rasa memiliki terhadap harta, uang, dan benda-benda lainnya, sehingga kalau mau berkurban selalu dihantui rasa ketakutan untuk kehilangan.

Didalam berzakat atau bersedekah pun juga demikian, banyak dari kita-kita  enggan berzakat dan bersedekah, karena rasa kepemilikan terhadap harta dan uang itu terlalu tinggi, sehingga timbul rasa ketakutan untuk kehilangan atau berkurang.

Begitu pula dengan tahta dan jabatan, tidak sedikit dari kita-kita ini yang enggan bahkan setress dengan copotnya tahta dan jabatan, oleh karena semenjak awal diamanahkan untuk  memangku sebuah jabatan—ada rasa kepemilikan terhadap tahta dan jabatan tersebut, sehingga didalam hati timbul rasa ketakutan untuk kehilangan tahta dan jabatan.

Syariat agama lewat nabinya mengajarkan bahwa harta, tahta dan jabatan bagi seorang hamba hanyalah titipan Tuhan, hanya sebuah amanah yang diemban dan diijinkan untuk dikelola dalam beberapa waktu, maka kita tidak boleh bergantung kepadanya.

Baca juga: Tarekat Tua dan Idul Adha

Ciri ketergantungan dalam hidup kita adalah adanya pemikiran bahwa kalau tidak memiliki sesuatu—saya tidak bisa tenang menikmati kehidupan ini.  Kalau tidak memiliki tahta—saya tidak dianggap apa-apa oleh orang lain. Kalau tidak memiliki jabatan—saya tidak akan dihormati dan dihargai oleh orang. Jadi rasa kepemilikan yang berlebihan, akan memaksa kita untuk khawatir dan ketakutan yang berlebihan dalam menghadapi kehidupan.

Mari kita camkan peringatan Tuhan dalam surah 57 ayat ke-23 bagaimana Tuhan mengedukasi kita agar tidak berlebihan dalam ketergantungan teradap kepemilikan  apa saja, agar supaya kita bisa legowo atau bisa menerima situasi yang bagaimanapun dalam hidup kita. “Likai lā ta`sau ‘alā mā fātakum wa lā tafraḥụ bimā ātākum,”. Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.

Tuhan ingin agar kita tidak terlalu merasa memiliki yang berlebihan terhadap apa saja, agar kita tidak kehilangan akal sehat. Esensi dari apa yang kita dapatkan adalah hanya sebuah titipan, hak guna pakai—bukan hak milik, sehingga kita tidak boleh terlalu tergantung kepadanya dan tidak pula terlalu khawatir atas ketiadaannya.

Kesadaran seperti itulah yang sesungguhnya ingin Tuhan tanamkan dalam syariat berkurban, agar kita bisa mencapai kesempurnaan dalam mendekatkan diri kepadaNya, maka harus terbebas dari rasa kepemilikan yang disimbolkan dengan menyembelih hewan kurban dengan patuh dan tunduk secara lahir dan batin demi karena Dia dan hanya untuk-Nya.

Itulah makna Kurban sebagai kedekatan atau pendekatan, yang ketika dikaitkan dengan ibadah, maka ia akan memiliki makna “upaya pendekatan diri seorang hamba kepada Tuhannya” yang disimbolkan dengan mengurbankan harta benda dalam wujud hewan kurban.

Jadi dalam upaya mendekatkan diri kepada Tuhan, tidak etik rasanya jika kita memiliki ikatan yang berlebihan kepada apa saja selain Dia. Dan para nabi yang menjadi suri tauladan , telah sukses melakukan metamorfosis yang sempurna untuk merevolusi mentalnya, sehingga ia tidak merasa memiliki terhadap apa saja yang Tuhan berikan kepadanya.

Baca juga: Ramadhan: Relasi Harmonis dengan Tuhan

Dengan demikian dalam menempuh jalan pengurbanan sepanjang masa kenabiannya, para nabi menempuhnya dengan sangat ikhlas dan sabar serta berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan Robbul Malik, penguasa dan pemiliki seluruh alam semesta dan isinya, karena mereka tidak mengikat dan tidak menggadaikan dirinya dengan rasa memiliki. lalu bagaimana dengan kita?

1 komentar untuk “Kurban: Pembebasan dari Rasa Memiliki”

  1. Nanda Zahratu Raudah

    Bismillah…..
    Alangkah indahnya hidup bila selalu dijalani dengan keikhlasan….😇😇👍
    Alangkah merugi rasanya jika ada rasa ketergantungan yg berlebihan atas kepemilikan…naudzubillahi min dzalik 🤲

    Terimakasih ayahanda untuk motivasi hangat hari ini,,, semoga ayahanda n teman2 senantiasa sehat n Allah murahkan rezekinya,,aamiin 🤲😇😇❤❤

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *