Songga; Pohon Endemis yang Kritis

Seperti apakah pohon endemis NTB ini ke depan, jika praktik legal maupun illegal logging terus terjadi? Dalam hal ini yakni alih fungsi lahan hutan menjadi ladang jagung. Juga perilaku oknum yang hanya mengambil kayu dan menebang pohon songga untuk kepentingan bisnis semata. Di mana kayu songga dijual bebas ke luar daerah, bahkan ke luar negeri untuk dijadikan obat.

Perburuan pohon ini terus berlanjut hingga detik ini tanpa ada kesadaran menanam kembali pohon yang bernama botani Strychnos Lucida atau Strychnos Lingustrina ini. Sering disebut juga sebagai kayu ular.

Ekspedisi saya kali ini di pandu oleh kawan-kawan dari komunitas konservasi lingkungan bernama Nusa Tenggara Lestari (NTL), dalam misi: riset kondisi pohon songga di habitat aslinya. Riset ini juga bertujuan menyukseskan program komunitas NTL dalam membantu budidaya pohon songga itu sendiri.

Program ini tergolong unik, karena sedikit yang memberi perhatian ke pohon endemis NTB ini. Bukan rahasia lagi, bahwa ancaman kepunahan pohon songga di habitat aslinya sudah di depan mata. Kerusakan hutan berat di NTB mencapai 78%. Kerusakan terparah terjadi di Pulau Sumbawa. Memang, keseluruhan hutan di NTB mencapai sekitar 1.071.000 ha. Namun dari angka itu, sebagian besar dalam keadaan kritis.

Sembari berjalan di antara ladang jagung yang makin meluas. Saya menggali beberapa informasi dari kawan-kawan komunitas yang beranggotakan alumni mahasiswa pecinta alam yang berada di wilayah Bima-Dompu. Dari ketuanya, Dion Damansari mengungkapkan bahwa: pohon songga di Kecamatan Madapangga mengalami pengurangan jumlah. Dari data komunitas sekitar 65% telah ditebang dalam tempo dua tahun terakhir.

“Orang tua kami pernah berkata: pohon songga dulunya tumbuh di belakang rumah-rumah warga. Namun sekarang, untuk menemui pohon ini harus mendaki gunung dua sampai tiga jam lamanya”. Tutur  Dion.

Memang, pohon songga yang ditebang akan tumbuh lagi batang primer baru, tapi mengingat pertumbuhan pohon songga yang sangat lambat, dikhawatirkan pohon ini akan stres pascapenebangan dan mati. Hal itu terbukti di beberapa titik hutan di desa Dena. Pohon songga yang mati pasca ditebang ada 7 pohon dari 11 pohon yang berdiameter batang bawah di atas 15 cm. Sisanya berhasil menumbuhkan kembali batang barunya.

Perkembangbiakan  pohon songga sangat sulit, mengingat buah pohon ini pahit dan tidak digemari oleh kelelawar atau burung yang membantu perkembangbiakan pohon secara alami. Hanya biji yang jatuh di bawah pohon induklah yang berhasil tumbuh.

“Itupun sekitar 30% yang berhasil tumbuh, dan sekitar 5 – 7% saja yang menjadi pohon besar. Mengingat kompetisi akar dengan pohon lain dan sesama anakan pohon songga.” Ungkap Dion.

Biji akan tumbuh sekitar radius 10 meter dari pohon induk searah ke elevasi di bawahnya. Biji dikotil yang matang akan berusaha tumbuh menjadi pohon di akhir ia menggelinding. Biji yang dihasilkan sangat terbatas, karena gencarnya aktivitas penebangan pohon berbuah. Dari musim gugur buah, kebanyakan buah tidak berhasil tumbuh menjadi pohon, karena kompetisi akar tadi. Buah songga rusak dan hanya menjadi pupuk kompos untuk tanah sekitarnya.

Untuk itulah, setiap musim gugur buah songga, sekali dalam satu tahun, komunitas NTL membuat program mendaki gunung untuk mengontrol dan memungut biji benih songga dan menyemainya menjadi bibit pohon. Lalu sekitar umur anak pohon 2 sampai 3 bulan akan ditanam kembali ke lahan-lahan hutan yang sudah gundul. Terutama di pinggir jalan kawasan ladang jagung di Desa Dena.

Karena anggota komunitas tersebar di Bima-Dompu, penanaman bibit pohon songga juga dilakukan di titik gunung lain di luar desa Dena. Seperti di beberapa desa di Kecamatan Bolo dan di Kabupaten Dompu. Dengan membagikan bibit pohonnya secara sukarela. Komunitas konservasi ini juga mulai membangun komunikasi dengan komunitas masyarakat setempat untuk memperketat kembali pintu masuk hutan-gunung yang terdapat pohon songga-nya.

Tujuannya agar penebangan liar pohon ini dapat ditekan. Sebut saja komunitas Gerobak. Komunitas pecinta sekaligus peternak kuda di Desa Dena ini juga mengelola transportasi hasil ladang yang menjadi akses masuk ke lokasi hutan di mana pohon songga berada. Dengan adanya awig-awig Komunitas Gerobak untuk tidak bebas membiarkan kendaraan mesin dan orang asing masuk ke wilayah mereka. Maka dengan sendirinya oknum penebang pohon songga di wilayah mereka terpantau dan dapat diminimalisir. Ini menjadi gerakan grass root yang patut diacungi jempol.

Program Komunitas Nusa Tenggara Lestari yang melakukan reboisasi dengan pohon endemis NTB ini baiknya mendapat dukungan agar menjadi program bersama. Tentu saja agar program ini terintegrasi dan berkelanjutan sampai menjadi bisnis yang berdampak lingkungan sekaligus ekonomi bagi masyarakat.

Mengingat 40% warga NTB masih tinggal di wilayah hutan dan banyak yang berada di bawah garis kemiskinan. Masyarakat lingkar hutan bisa menjadi bagian dari program pemerintah yang membuka perhutanan sosial menjadi hutan masyarakat, hutan desa, izin mengelola Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), dll. Masyarakat awam dan yang terdesak kebutuhan hidup sering menjadi pelaku illegal logging di wilayah hutan lindung sekitar tempat tinggal mereka.

Kerja sama dua komunitas masyarakat ini juga  baiknya ditiru oleh komunitas lain yang sejalan. Diharapkan menjadi kekuatan baru yang menunjang program kelestarian lingkungan. Agar pohon endemis NTB ini tetap lestari di daerah tercinta kita dan keberadaannya dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia, baik untuk obat, komoditi bisnis brand asli NTB, maupun untuk menjaga fungsi ekologis dan hidrologis hutan yang jumlahnya berkurang 1,4% setiap tahunnya.

Lebih setelah hampir dua jam perjalanan menanjak, terbayarkan setelah bertemu pohon songga di habitatnya. Kami membawa pulang data-data yang kami butuhkan dan beberapa biji pohon songga untuk dibudidaya kawan-kawan komunitas. Walau berbeda misi, namun tujuannya tetap sama; agar terwujud NTB yang lestari, alamnya terkelola dengan baik dan bebas bencana akibat kerusakan lingkungan. Terutama banjir bandang yang melanda Kabupaten/Kota Bima dan Dompu hampir di setiap musim penghujan.

Ilustrasi: Trubus-online.co.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.