Nawal El Saadawi; Dari Kekejaman Rezim hingga Perempuan di Titik Nol

Salah satu tokoh yang paling lantang menyuarakan dan memperjuangkan keadilan bagi perempuan, yaitu Nawal El-Saadawi, seorang dokter sekaligus penulis asal Mesir yang sangat gigih memperjuangkan keadilan bagi perempuan Arab, khususnya di Mesir melalui keindahan karya sastranya. Karya sastranya yang begitu tinggi menjadi media yang cukup mutakhir untuk mendobrak kesenjangan dan kekejaman pada perempuan di Mesir pada masa itu yang masih sangat konservatif.

Sebagai gambaran, sebuah laporan PBB pada April 2013 menyebutkan bahwa 99,3% perempuan dan anak perempuan di Mesir menjadi korban pelecehan seksual.

“Penerimaan sosial akan pelecehan seksual harian berdampak pada semua perempuan di Mesir, terlepas dari usia, profesi atau latar belakang sosial ekonomi, status pernikahan, pakaian atau perlakuan,” kata Noora Flinkman dari kelompok kampanye Mesir HarrassMap.

Baca juga: Perempuan yang Menyuluh Obor: Tribute untuk Atun Wardatun

Saadawi mulai menyadari ketimpangan antara laki-laki dan perempuan pada saat ia berumur 6 tahun di saat ia menjadi korban sunat perempuan atau Female Genital Mutilation (FGM). Pengalaman kelamnya ini didokumentasikan dengan sangat jelas dalam bukunya, The Hidden Face of Eve yang terbit di Indonesia dengan judul Perempuan dalam Budaya Patriarki. Saadawi menjalani prosedur yang menyakitkan itu di lantai kamar mandi bersama ibunya yang mendampinginya.

Saadawi menentang keras praktik sunat perempuan ini dan menganggap bahwa praktik tersebut adalah cara laki-laki untuk menindas perempuan.

Sebelumnya, Saadawi pernah menjabat sebagai Direktur Kesehatan Masyarakat untuk Pemerintah Mesir namun pada tahun 1972, ia harus dipecat akibat mengutuk praktik sunat perempuan melalui buku nonfiksinya yang berjudul Women and Sex. Setahun setelahnya, majalah Health yang sempat didirikannya harus ditutup juga.

Selain dipecat, Saadawi ditangkap dengan tunduhan sebagai salah satu pembangkang pemerintahan di masa pemerintahan Anwar Sadat pada tahun 1981 dan menjalani hukumannya di dalam penjara selama 3 bulan.

Alih-alih kapok, Saadawi merasa semakin tertantang. Didekam dalam penjara tidak memadamkan semangat perjuangannya, di dalam penjara Saadawi tetap menulis menggunakan pensil alis yang berhasil diseludupkan oleh pekerja seks yang juga ditahan di dalam penjara.

Menurut Saadawi, ketimpangan ini berasal dari kebijakan pemerintah yang ditopang oleh pemahaman terhadap teks agama yang selalu menyudutkan peran perempuan. Oleh karena itu Saadawi berpikir dirinya perlu menjadi pembangkang untuk menuntut kesetaraan gender dalam negaranya.

Puncak dari semua ini, Saadawi masuk dalam daftar nama-nama yang harus dibunuh, beberapa kali ia mendapat ancaman pembunuhan dan dibawa ke pengadilan sampai pada akhirnya harus diasingkan ke Amerika Serikat.

Baca juga: Perempuan Penerang Islam dari Maroko

Karya sastranya yang brutal dan dedikasinya yang tak tergoyahkan menjadi sorotan dunia dan mengundang kemarahan beberapa kelompok tertentu hingga membuatnya harus mendekam di balik jeruji besi. sekaligus juga menghantarkannya pada beberapa penghargaan.

Saadawi dianugerahi gelar kehormatan di tiga benua. Pada tahun 2004, ia memenangkan North-South Prize dari Majelis Eropa. Pada tahun 2005, ia memenangkan Penghargaan Internasional Inana di Belgia, kemudian pada tahun 2012, ia dianugerahi Penghargaan Perdamaian Sean MacBride 2012 oleh Biro Perdamaian Internasional. Selain itu. pada tahun 2020, majalah Time menobatkannya sebagai salah satu dari 100 Women of the Year dan mendedikasikan sampul depan untuknya.


Walaupun pada awalnya buku-buku karya Saadawi dilarang karena terlalu keras dalam menentang penindasan perempuan dan menyudutkan beberapa kelompok, pada akhirnya karya-karyanya tersebut diakui di banyak negara sehingga diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa.

Keseluruhan karyanya cenderung monoton, memiliki maksud yang sama yaitu menyoroti kegelisahan hidup sebagai seorang perempuan, hal ini yang membuat tidak seorang pun dapat tersenyum atau tertawa saat membaca karya-karyanya. Gaya penulisan sastranya terkesan terlalu menampakkan hidup adalah sebuah penderitaan semata yang tiada akhir.

Dari sini kita mulai menemukan bahwa di balik perjuangan Saadawi melawan penindasan terhadap hak-hak perempuan di negaranya, ditemukan juga beberapa cara berpikirnya yang cukup berbahaya. Salah satunya dari karya-karyanya yang tanpa disadari mempengaruhi pembaca, membangkitkan jiwa-jiwa pemberontak dengan bahasanya yang terkesan memprovokasi.

Terlebih lagi, karya-karya Saadawi juga terlihat menyudutkan agama, bukan hanya Islam, namun seluruh agama. Saadawi beranggapan bahwa agama adalah alasan utama penindasan terhadap perempuan, laki-laki dengan pemahaman agama tinggi memiliki potensi lebih besar dalam melakukan penindasan terhadap perempuan karena teks-teks agama serta tafsiran terhadapat teks tersebut membolehkan tindakan tersebut.

Bahkan sampai pada titik Saadawi secara jelas mengungkapkan dalam salah satu karyanya yang berjudul Perempuan di Titik Nol, di dalamnya Saadawi menyebut pelacur adalah profesi yang diciptakan laki-laki untuk memaksa perempuan agar mau memberi harga pada tubuhnya dan harga dirinya, dan menurutnya tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh seorang istri.

Perjuangan Saadawi dalam mendobrak budaya patriarki layak untuk diapresiasi, ia seperti pahlawan tak kenal lelah dan tak takut mati, seberapapun rintangan dan ancaman yang datang, Saadawi tetap kokoh berdiri tak gentar demi memperjuangkan hak perempuan.

Baca juga: Perempuan yang Menangis di Pusara Suamiku

Tetapi seribu sayang, keberaniannya itu juga yang membuatnya tak gentar untuk melewati batasan agama yang tak seharusnya dilanggar. Tak jarang, para pembaca menganggapnya sebagai nonmuslim karena tulisan-tulisan dan cara berpikirnya yang terlalu brutal, ditambah dengan dirinya yang tak mau memakai hijab, lagi-lagi karena baginya hal tersebut adalah cara agama mengekang perempuan.

Setiap pembaca karya tulisan Saadawi dituntut untuk pintar memilih dan memilah antara semangat juang menuntut keadilan yang patut ditiru dan cara berpikir sekuler yang harus dihindari.

Ilustrasi: Republika.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.