NAMANYA adalah Nur yang artinya cahaya. Hanya Nur, tidak Nurhayati, Nurjannah ataupun Nurmala. Ibunya sengaja memberi nama itu, karena berharap semoga hidup putrinya akan bercahaya seperti arti nama tersebut. Nur lahir pada malam dua puluh satu Ramadan, bersamaan pada malam Lailatul Qadr. Karena lahir pada waktu istimewa, ibunya memberi nama itu.
Tapi sayangnya menginjak usia empat tahun, ibunya meninggal dunia. Maka Nur dibesarkan oleh Bi Jannah, adik ibu Nur paling bungsu. Kehidupan Nur yang ia jalani tidak seperti harapan ibunya, dipenuhi cahaya seperti arti nama yang diberikan. Semua berbanding balik, Nur seperti hidup dalam kegelapan. Orang-orang selalu menghindar dan mencemooh dirinya aneh, hanya Bi Jannah yang baik dan memahami apa yang terjadi pada diri anak itu.
Nur memiliki kelebihan atau kekurangan, sungguh sulit dikatakan yang mana. Sesuatu yang langka terjadi sejak usianya menginjak enam tahun, kini usia gadis kecil itu sudah enam belas tahun. Pasalnya Nur bisa melihat wajah-wajah berbeda setiap manusia. Ia bahkan tahu mana wajah manusia yang berpura-pura baik, pembohong, hingga yang benar-benar tulus. Tapi tidak dengan dirinya sendiri, Nur tak bisa melihat perubahan apa pun di wajahnya ketika ia berbohong ataupun berbuat baik.
Mulanya gadis itu sangat ketakutan dan sering jatuh sakit karena melihat sesuatu yang berbeda di wajah setiap orang. Menjerit tidak karuan sehingga temannya takut. Hingga usianya menginjak dua belas tahun, Nur paham dan mulai terbiasa dengan keadaan itu. Wajar saja setiap kali ia berteman terkadang Nur tahu jika temannya ingin bermain curang dan menjahilinya, bahkan suatu hari ia pernah menyaksikan Salma teman satu kelas Nur semasa di kelas satu SMA. Gadis itu diajak oleh sekelompok pria dari kelas lain, Nur melihat wajah lelaki itu penuh darah dan luka-luka, sungguh menyeramkan.
Melihat gambaran itu, Nur menyimpulkan bahwa Salma dalam bahaya dan mungkin akan dibunuh, apalagi dari senyum para pria itu, dari mulut mereka mengalir cairan hitam bercampur nanah, sesuatu yang buruk akan terjadi. Mereka berbohong mengatakan kepada Salma bahwa selepas sekolah akan ada kerja acara di rumah Iwan dan lelaki itu, salah satu komplotan pria yang membujuk Salma datang. Karena Salma sudah lama menyukai Iwan, mendapat perlakuan yang berbeda dari orang yang disukai, Salma setuju saja.
Selepas sekolah Nur mendatangi Salma dan mengatakan apa yang diucapkan Iwan itu bohong. Tapi Salma tidak menggubris malah mengatakan ia gadis aneh dan selalu ikut campur. Nur berusaha sekuat tenaga melarang tapi Salma akhirnya pergi juga. Benar juga dugaan Nur, Salma ditemukan tak bernyawa pada malam harinya di sungai dalam keadaan tubuh banyak luka.
Hasil autopsi juga mengatakan bahwa perempuan itu diperkosa. Keluarga Salma syok dan ingin menuntut sekelompok Iwan yang menjebak anaknya, tapi lelaki itu entah kabur ke mana, jejaknya belum diketahui. Nur pun sedih melihat kenyataan demi kenyataan bahwa teman-teman dan kebohongan mereka terjadi, bahkan orang-orang mengatakan kematian dan kesialan mereka disebabkan karena pikiran aneh Nur. Gadis itu tak tahu harus bagaimana cara menghilangkan penglihatan anehnya itu terhadap wajah-wajah berdosa, ia pun tak ingin seperti itu.
***
Nur sudah biasa sendirian, ketika teman-temannya takut untuk mendekatinya. Suatu hari seorang perempuan dari sekolah pindahan masuk ke sekolah Nur sebagai murid baru dan satu kelas bersamanya. Perempuan itu bernama Ayu, ia memiliki sifat ramah dan baik hati, tidak perlu waktu lama bagi Ayu untuk beradaptasi di sekolah tersebut, orang-orang menyukai Ayu. Teman-teman sekelas Nur memberitahu kepada Ayu untuk tidak berteman dengannya, sebab Nur dianggap sedikit tidak waras dan orang-orang akan mengalami hal sial jika mendekatinya. Serta mengatakan hal aneh ke wajah-wajah teman-temannya.
Kadang Nur berteriak tiba-tiba tanpa sadar ketika melihat wajah temannya yang berubah wujud berbagai bentuk. Ayu hanya tersenyum datar menanggapi ucapan teman-teman barunya. Sepertinya perempuan itu tidak terpengaruh dan ia mendekati Nur yang selalu diasingkan. Ayu mulai memperkenalkan diri dan mengajak Nur berteman, untuk pertama kalinya ada seseorang yang mau mengajaknya berteman lebih dahulu setelah sekian lama. Nur menyambut uluran tangan perempuan itu dengan bahagia, tapi ia terkejut saat melihat wajah Ayu berubah menjadi serigala dan bertaring, hendak menerkamnya. Spontan saja tanpa sadar Nur melepas uluran tangan Ayu dengan kasar, tentu saja gadis itu kebingungan. Nur segera mengendalikan diri dan mengatakan bahwa ia terlalu senang kemudian berlalu cepat meninggalkan kelas.
“Lihatlah sifat anehnya itu, siapa yang akan berteman dengan orang seperti itu,” Ucap yang lainnya dengan diiringi tawa mengejek, Ayu hanya tersenyum sinis sambil menatap ke arah pintu kelas. Di toilet Nur sedang membasuh wajah dan memarahi dirinya yang tidak mengendalikan diri. Ia mencoba mengatur napas dan degupan dadanya yang tak beraturan
“Ayu adalah gadis licik penuh rencana jahat, ia ingin jadi penguasa dan menjadikan teman-temannya menghormati dan melayaninya.”
Ayu bergumam menafsirkan isi hatinya, kesimpulan gambaran yang ia lihat, tiba-tiba saja Ayu masuk dan mengagetkannya
“Siapa yang ingin jadi penguasa?” Tanya Ayu sambil tersenyum manis, ia mencuci tangan dan memperbaiki poni sambil tersenyum puas, Nur terpaku menatap wanita itu
“Tidak ada,” Jawab Nur canggung
“Mari ke kelas bersama, bukankah kita berteman, mari saling membantu,” Ajaknya sembari menggandeng tangan Nur untuk mengajaknya masuk ke kelas
“Tidak akan ada yang jadi penguasa, kita akan berteman dengan baik dan saling membantu,” Ucap Ayu dengan lembut penuh ketulusan, sedangkan Nur hanya menatap ekspresi itu dengan canggung, ia tahu ada ratusan kebohongan di dalam diri wanita tersebut. Anehnya adalah kenapa wajah perempuan itu berubah menjadi serigala dan hendak menerkamnya.
***
Dugaan Nur benar, setelah beberapa bulan Ayu menjadi murid di sekolah itu, sikapnya berubah dan angkuh. Bahkan ia membentuk geng untuk menghina beberapa teman yang miskin dan lemah di mata mereka. Kejadian demi kejadian setiap hari membuat guru kian kewalahan, kelas Nur terutama dicap kelas paling buruk. Karena setiap hari ada saja masalah yang timbul, setiap korban tidak berani mengatakan bahwa pelakunya adalah Ayu.
Tapi gadis itu malah menyalahkan para korbanlah yang saling berkelahi dan menyebabkan masalah, sedangkan Ayu ingin sekali melerai. Kebohongan itu membuat para guru simpati terhadapnya. Para korban tetap bungkam, tidak berani berkata sebab mereka diancam dengan sadis. Bahkan ada sebagian punggungnya digosok dengan setrika panas akibat mengadu. Ayu adalah anak pemilik sekolah tersebut, sebagian anak yang jadi korban adalah orang miskin, karena mendapat beasiswa mereka bisa masuk ke sekolah tersebut, termasuk Nur.
Nur sudah pernah mengatakan kepada teman-temannya untuk berhati-hati kepada Ayu, sebab perempuan itu tidak tulus dan licik. Mendengar pernyataan itu mereka semua malah menganggap Nur iri karena dirinya tidak ada yang mau menemani. Karena tidak dipercayai teman-teman, Nur hanya bisa bungkam beberapa saat. Hingga suatu hari sebuah kejadian di luar kendali, salah satu murid yang biasa jadi bahan ejekan oleh Ayu dan sekelompoknya bunuh diri. Gadis itu terjun dari atap lantai empat sekolah mereka, tentu hal itu membuat gempar seisi sekolah.
Nur kian geram, ia tahu bahwa sebelum Manisa memutuskan bunuh diri, perempuan itu dirundung oleh Ayu dan sekelompoknya. Karena Manisa berniat ingin mengadukan perbuatan Ayu dan sempat ia rekam, tapi semua rencana itu diketahui oleh Ayu, gadis itu marah besar lalu menyeret Manisa ke kamar mandi, kemudian ditelanjangi dan beberapa pria diperintahkan oleh Ayu untuk menikmati tubuh gadis tersebut. Nur mendapati Manisa yang tersandar lemah di dinding kamar mandi, dengan pakaian sekolahnya yang kini acak-acakan. Nur membawa Manisa keluar ke klinik untuk istirahat lalu beranjak menuju kelas. Tapi kemudian tangan Nur dicegat oleh perempuan itu, ia meletakkan sebuah memori, Nur bingung dan bertanya apa itu.
“Ini adalah bukti perbuatan Ayu dan sekelompoknya, aku mohon ungkapkan kebenaran ini dan berikan kepada kepala sekolah, hanya kau yang bisa aku percaya. Semua orang takut dengan gadis itu, aku mohon hentikan semua ini, biarkan aku korban terakhir jangan sampai ada lagi,” Ucap Manisa lemah. Nur kembali duduk di sisi ranjang, ia menatap sedih ke wajah Manisa yang pucat dan bibirnya terluka.
“Apa kau barusan dirundung dan ..”
Manisa tergugu, air matanya berderai.
“Mereka memperlakukanku seperti binatang, hidupku sudah hancur dan bahkan aku sudah tidak …” Manisa tak sanggup lagi berkata, ia menangis tersedu-sedu, Nur menjadi geram.
“Dasar biadab, aku akan memberikan bukti ini segera,” Ucap Nur dengan tekad, ia memeluk Manisa menguatkan gadis tersebut untuk bertahan sebentar, mereka bertangisan. Lalu Nur pergi menuju ruang kepala sekolah, tapi ia terkejut saat melihat murid lainnya berlari heboh. Di halaman depan suasana menjadi riuh, bahkan beberapa guru juga meninggalkan kantor. Nur melihat hal itu juga ikut dan betapa terkejutnya ia, saat menyaksikan bahwa Manisa sudah tergeletak tak bernyawa di halaman depan dengan kepala bersimbah darah.
***
Sejak peristiwa itu, Nur semakin tidak tahan. Keesokan paginya ia sudah menyerahkan hasil rekaman percakapan waktu mereka merundung Manisa. Ayu diinterogasi dan bersikeras tidak mengaku. Melihat keberanian Nur melawan Ayu yang ditakuti banyak orang, beberapa murid lainnya mulai angkat suara dan membenarkan perbuatan jahat Ayu hingga diiringi oleh lainnya. Bahkan sekelompok Ayu juga kini berubah, mereka mengaku bahwa diancam sadis seperti yang lainnya jika tidak mengikuti perintah gadis itu. Karena cukup bukti, Ayu akhirnya dikeluarkan dari sekolah dan diproses secara hukum. Meskipun ia adalah anak dari pemilik sekolah tersebut, orang tuanya tidak bisa berbuat banyak.
Ayu menatap nyalang ke arah Nur dengan tatapan penuh dendam, sedangkan teman-temannya berterima kasih kepada Nur yang berani mengungkapkan kebenaran itu. Masih dalam keadaan sama, tidak banyak berubah. Nur melihat bermacam-macam wajah temannya, ada yang berdarah, berlubang, dipenuhi ulat dan penuh bisul. Ada juga sebagian menjadi lebih bersih, sepertinya beberapa orang mulai melihat Nur dengan berbeda, meski tidak semua. Nur mengerti untuk berbuat baik tidak perlu demi manusia, pada dasarnya mereka akan kembali kepada naluriah sebagaimana manusiawi. Kadang ada juga yang tidak berubah dan berpura-pura. Seperti ucapan Bi Jannah kepadanya, bahwa setiap kebaikan akan kembali kepada yang berbuat baik.
Ada beberapa temannya Nur, wajahnya terlihat berjerawat batu. Itu menandakan bahwa dari mereka masih memiliki simpati tapi tidak sepenuhnya, masih ada menyimpan rasa tidak suka, hanya memerlukan di saat butuh. Ada satu wajah yang tidak pernah berubah dari sejak ia kecil, Nur dapat membaca ketulusan perempuan satu ini, wajahnya selalu bersinar putih. Ia adalah Bi Jannah, Bibinya yang merawat dirinya sejak kecil hingga sekarang, perempuan itu layaknya sebagai ibu bagi Nur. Menyayanginya dengan tulus hingga hari ini. Nur kembali ke rumah, ia menatap Bibinya yang sedang memotong sayuran. Gadis itu menatap berbinar kepada Bi Jannah dan memeluknya tanpa berkata, melihat hal demikian membuat perempuan itu terheran dan tertawa kecil
“Apakah sesuatu yang buruk sedang terjadi?”
Nur hanya menggeleng, dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja
“Terima kasih sudah mencintaiku dengan tulus Bi.”
Bi Jannah menjentik dahi Nur, gadis itu mengaduh kecil lalu berpura-pura cemberut
“Ganti baju, ayo makan bersama, Bibi tunggu,” Ucap perempuan itu sambil menata makanan
“Siap bos.”
Nur berlalu, lalu mengecup sekilas pipi bibinya, perempuan itu hanya menggeleng-geleng sambil tersenyum tipis. Lalu memandang Nur dengan perasaan lega, ia senang Nur dapat melewati segalanya dengan baik meski tidak mudah.[]
Riau, 2023
Ilustrasi: Tribunnews.com

Berdomisili di Riau kabupaten Indragiri hilir. Karyanya termuat ke dalam media cetak dan online seperti Klasika kompas, Babel post, Merapi, Nusa Bali, Waspada Medan, Serawak Malaysia, Suara Merdeka, Lombok post, Magrib id, Cendana News, Dunia santri, Barisan co, Metafor id, Ayo Bandung.com, Bali politika, Majalah elipsis, Hadila, semesta seni. Juga di antologi seperti (FISGB 2022), (Hari Puisi Indonesia, Masyarakat Jember 2022), (Suatu hari dari balik jendela rumah sakit, Bali 2021), (Dokterku Cintaku, Denpasar 2022), (100 Tahun Chairil Anwar, 2022), (Madukoro Baru 1, 2022), (Negeri poci 12. Raja kelana, 2022), (puisi sepanjang zaman, Satria Publisher 2022), (Sebagai juara satu dalam lomba tingkat Nasional, Jakarta dan Kolaburasi), (Peraih Anugerah sebagai puisi terbaik, Negeri kertas 2022), (kategori puisi terbaik nasional oleh penerbit Alqalam batang dan Salam Pedia, 2021). Alamat Facebook Ri-Ana, Instagram riskawidiana97.





