Tentang Shalawat, Thariqat, dan Haqiqat (2)

SHALAWAT itu sebab penting seorang hamba mendapatkan nafahat (hadiah istimewa dari Allah) dan futuhat rabbaniah (penyingkapan ilahiah). Yakni dibukakan hubungan dekat dengan Allah, dengan Nabi SAW, ahlul bait dan sahabat Nabi SAW yang fulan rindui. Futuhat rabbaniah ini didapatkan dari isytighal (menyibukkan diri dengan shalawat).

Di dalam thariqat, seorang mursyid dianggap pemegang amanah untuk menyampaikan seorang hamba Allah kepada futuhat rabbaniah atau hadrah ilahiah. Yakni ada dan intensnya interaksi ketuhanan dalam diri seorang hamba. Tidaklah seorang mursyid kecuali ia arifin billah (memiliki ilmu penyingkapan tentang Allah) dan muwassilin billah (memiliki derajad yang mengantar seseorang lebih mendekat kepada Allah).

Tidaklah seorang mursyid thariqah mendirikan majlis seminggu dua kali atau seminggu sekali, melainkan ruh Nabi SAW, sahabatnya, dan ahlul bait hadir di majlis atau hadroh tersebut. Karena itu, banyak muridin apabila tinggal dekat rumah mursyid atau syekh murabbi tempat majlis itu diadakan, selalu menyempatkan diri untuk hadir, demi meneguk masyrab (minuman rohani) ini. Mereka kemudian mengambil thariqat sebagai jalan beragama.

Untuk mengambil thariqat itu tidak disyaratkan harus menjadi ahlil ilmu terlebih dahulu. Karena orang mengambil syekh mursyid dan thariqah itu untuk wuslah (sampai kepada Allah dan Nabi SAW). Ini semata-mata tanda ketawadlu’an seorang hamba bahwa ia fakir (kurang ilmu dan kedekatannya kepada Allah). Dalil atas perilaku beragama cara ini, tidak bisa wuslah melainkan dengan thariqat atau mengambil perantaraan mursyid.

Orang mungkin sehari bisa ber-umrah berkali-kali, atau shalat sekian banyak rakaat, tetapi dengan semata taatnya yang banyak itu, belum tentu menyampaikannya kepada Allah. Karena, orang yang melakukan banyak taat kepada Allah tetapi ruhnya belum marbut (terhubung) kepada wali qutub (pendiri thariqat), maka ketaatannya bisa terkena ujub (merasa bangga) dan riya’ (pamer). Ini yang sering terjadi pada ahli taat yang tidak mengambil thariqah atau mursyid.

Baca Juga  Menjadi Perpanjangan Tangan Tuhan

Seorang muridin yang ruhnya sudah benar benar terhubung dengan syekh mursyid dan wali qutub thariqat, apabila ia istiqomah melakukan taat seperti menjalani wirid, puasa, dan lain-lain, ia tidak bisa membanggakan diri, karena ia yakin bahwa ketaatan itu semata-mata disebabkan taufiq dari Allah melalui faidh (bantuan) Rasulullah, wali qutub thariqat, dan syekh mursyid.

Namun, dalam berthariqah ada juga hajiz, yakni keadaan jiwa yang mem’blok’ untuk berbuat sesuatu. Hajiz itu penghalang seorang hamba dalam mendekati orang-orang sholih atau para muwassil billah wa bi rasulillah. Hajiz berasal dari hawa nafsu yang didukung oleh setan. Setan tidak mau orang wusul kepada Allah dan Rasulullah. Karena itu, dihalangilah seorang hamba untuk menghadiri majlis para arifin.

Pernah terjadi para tabi’in (orang yang hidup setelah masa Sahabat) senang bertandang (sowan) ke rumah Saidina Hasan bin Ali karena mencintai Rasulullah. Sebagian tabi’in terkena godaan hajiz, tidak pernah bertandang karena malas, ada urusan yang masih belum selesai, dan lain-lain. Padahal, ia memiliki keluangan dan dekat rumahnya dengan rumah cucu Rasullah itu.

Di zaman para wali qutub juga banyak terjadi hajiz. Ketika Syekh Abdul Qadir Jailani baru mendirikan zawiah (pondok) ia sering berdiri di depan zawiah-nya dan berteriak,’”Tafadol, yang hendak makan dan minum, zawiah terbuka untuk siapapun!” Itu ketika Syekh Abdul Qadir Jailani belum terkenal, banyak orang terkena hajiz. Tidak menghiraukan seruan itu.

Sebagian orang yang mendengar nama Syekh Abdul Qadir Jailani mengajak teman-temannya yang lain, “Saya dengar Syekh Abdul Qadir Jailani orang shalih dari Persia pindah ke kota kita ini yakni Baghdad, Iraq. Ayo kita kunjungi beliau!” Sebagian orang tidak menerima ajakan ini, karena alasan malas, sebagian karena takut. Padahal itu adalah hajiz yang berasal dari hawa nafsu dan setan.

Baca Juga  Puasa: Resonansi "Aku", "Kamu", "Dia", "Kami" dan "Kita"

Shalawat itu sendirilah cara paling ampuh menghilangklan hajiz. Dengan istiqomah menyibukkan diri dengan bershalawat, maka “ruang setan” dalam diri seorang hamba menjadi hampa. Kemudian kehampaan itu diiisi kembali dengan Allah dan kesadaran tentang Rasulullah. Bukan hanya baca shalawat, melainkan istiqomah memperbanyak shalawat.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *