SAMPAI saat ini, saya masih menganggap bahwa kehadiran sebuah event budaya di daerah kecil seperti Dompu dan Bima–entah itu ajang literasi, Mbojo Writers Festival, Festival Rimpu atau apa pun–masih merupakan sebuah “kemewahan”.
Itu karena saking langkanya, kegiatan-kegiatan semacam itu. Itu alasan lain mengapa saya selalu antusias dan berusaha keras untuk hadir.
Saya sendiri bukan budayawan, sejarawan atau seniman melainkan saya memilih hadir sebagai cara untuk berbagi nafas.
Saya berkeyakinan bahwa kebutuhan menghidupkan kebudayaan–sebagai ekspresi manusia–itu sama pentingnya dengan kebutuhan akan oksigen dan pangan.
Mustahil manusia hidup dalam ruang kosong dan tanpa kebudayaan. Kalau pun bisa itu adalah kehidupan yang hampa, hambar, dan tanpa makna.
Tidak terbayangkan jika aktivitas dan siklus kehidupan manusia hanya berputar “dari tangan ke mulut” atau sekadar urusan perut dan di bawah perut. Atau hanya disibukkan dengan kontestasi elektoral seperti Pemilu dan Pilkada. Kita akan mengalami alienasi.
Dengan kesadaran seperti di atas, maka Kulturahmi di Kalikuma Library and Educamp, Ule, Kota Bima kemarin (15/4/2024) adalah bagian kecil dari kemewahan yang dimaksud.
Di tengah gemuruh mesin-mesin ekonomi modern atau hiruk-pikuk politik nasional dan lokal, maka event budaya adalah bahasa cinta yang disukai banyak orang.
Event budaya adalah semacam margarin yang mampu meluruhkan sekat-sekat geografis, politis, ekonomis, status sosial dan ideologis dari pelaku yang terlibat di dalamnya.
Ia adalah magnet yang bisa menarik semua orang berkumpul, berekspresi atau sekadar ngopi bersama sembari meluapkan emosi dan cinta secara konstruktif dan produktif.

Kulturahmi adalah istilah nyentrik dari Ridwan Manantik, pelukis asal Bima yang kini bermukim di Jakarta. Kulturahmi adalah silaturrahim kebudayaan yang mempertemukan para pegiat budaya dalam momen Lebaran kali ini.
Penggagasnya adalah pemikir dan aktivis sosial Prof. Abdul Wahid dan istrinya Prof. Atun Wardatun, Pendiri Komunitas Kalikuma dan Alamtara Institute ini. Berbagai kalangan hadir di sini: mulai dari pejabat daerah (Pj. Wali Kota Bima, H. Muhammad Rum, kepala dinas beberapa instansi), penulis, seniman, sastrawan, akademisi, guru, pegiat budaya, pengusaha, dan lainnya.
Kulturahmi diisi beberapa kegiatan seperti melukis bersama di atas kanvas, akustik, pembacaan puisi, dan pembacaan beberapa penggalan novel oleh penulis atau lainnya.
Kulturahmi menjadi oase di tengah dua gegap-gempita yang menyesakkan tapi gersang: polarisasi politik dan gugatan sengketa Pilpres 2024 di Mahkamah Konstitusi dan kemeriahan Idulfitri.
Mirip seperti perayaan Agustusan, prahara dan drama politik-keagamaan tersebut, menghasilkan efek yang sama: ramai dan meriah sesaat lalu hening. Nyaris tanpa makna apa pun.[]
Ilustrasi: Kalikuma Studio
Foto: Ilyas Yasin dan Ompu Raka

Akademisi, mantan wartawan kampus, dan pengagum Gandhi, “Plain Living High Thinking”.




