ANAK-ANAK itu riang gembira, dibungkus tawa dan jingkratan. Bermain sampan-sampanan dari bongkahan kayu, ranting, dan helai-helai daun. Di bawah pohon waru. Di bentangan pasir pantai. Diapit perahu-perahu layar yang siap tempur. Sesekali mereka mencebur diri ke pantai, membasahi baju dan rambut mereka yang kusut oleh pasir dan matahari. Matahari senja.
Tiga gadis kecil berhamburan ke balai-balai darurat tempat kami duduk. Bailai-balai itu menjadi warung ibu-ibu menjajakan kebutuhan kecil para pelancong. Seorang dari gadis kecil itu memesan pop mie dari uang sisa laba ayah-bundanya yang membuka lapak di dermaga. Dermaga yang ramai karena beberapa hari ini ada perayaan, gembira ria.
Gadis-gadis kecil itu, dan sebaya lelaki mereka, menceburkan diri ke tengah para pengunjung asing, yang datang dari luar desa, tanpa canggung. Tenda-tenda para pelancong sudah mulai tegak di atas pasir, seperti jamur merang tumbuh di atas tumpukan jerami. Gadis-gadis dan pria mereka menyapu area perkemahan, ikut mengikat tenda, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan sepele-sepele.
Setelah itu mereka duduk melingkar, siap menerima dongengan dari buku-buku tipis yang dibawa dari kota. Lidah gelombang dari bibir pantai membasahi tumit mereka yang berselonjoran. Mereka tak bergeming.
“Siapa yang mau jadi Kartini?” tanya pendongeng.
“Saya,” kata Inka, yang masih TK.
“Saya,” kata Firman, yang sudah SD.
“Saya juga,” seru Rizki, murid SD.
“Kami saja perempuan yang jadi Kartini,” kata Ifah, murid SMP.
Inka beringsut, berlari dari lingkaran teman-temannya yang duduk di tepi bibir gelombang. Ia mencari ayahnya.

Ditemukan ayahnya tengah menyeruput kopi dan menghisap kretek, di samping perahu yang sedang dibuat. Ayahnya sedang suntuk berbicara kepada para awak perahu layar yang esok hari akan berlaga, menaklukkan Laut Flores. Inka ingin lapor kepada ayahnya, ia ingin seperti Kartini. Pandai menulis surat.
“Itu, ke situ, Nak, belajar nulis sama Aba. Aba ke sini untuk kita,” seru sang ayah. Rambutnya gondrong, seperti para panglima perang dari timur yang melawan kolonial.
“Ayok, sini, anak TK yang pintar,” sela saya yang baru saja menghabiskan potongan keempat dari singkong goreng warung pinggir laut Ibu Lamu. “Sini, uak ceritakan Laksamana Malahayati, ya!”
Kami lalu larut dalam dongengan. Berandai-andai tentang Malahayati. Juga tentang nenek-nenek Pulau Sangiang yang cekatan dan tangguh.
“Ayok, sini, kalian anak lelaki yang cerdas, mari gabung, kita mau dengar lagu-lagu Melayu.” Lalu menggemalah lagu Laksamana Raja di Laut, Bunga Seroja, dan Laila Canggung dari gawai telepon genggam. Anak-anak mulai tepekur, ada juga yang tangannya seperti menari-nari. Malu-malu. Dedaunan waru yang menaungi tenda ikut melambai-lambai.
“Ayok, sana, temuilah Nenek Haji kalian itu, yang pandai mendongeng dan mendendang. Tentang gunung dan laut. Usianya sudah sepuh tapi ingatannya masih utuh,” kata ibu penjual singkong goreng.

Kami beranjak ke sekumpulan ibu-ibu tua di sebuah balai pinggir pantai. Mereka sedang bercengkerama. Memandang laut. Tampaknya mereka bukan memandang laut. Tetapi kepada sebuah pulau teronggok di tengah laut. Tempat sebagian mereka, dan orangtua mereka, dilahirkan. Di bawah dentuman letusan volcano. Gunung Sangiang Api.
Mendongenglah Nenek Haji. Wahai, cucu-cucu, kami ke sini untuk mengenangkan masa-masa sulit, dililit oleh rindu. Paniklah orang-orang pada suatu saat oleh dentuman dan semburan dari puncak gunung. Kampung kami di lereng sebelah barat sana, selamat adanya. Tetapi kerbau, kambing, kuda dan ladang kami di sebelah selatan meranggas dan musnah. Kuda dan kerbau yang cekatan lolos melintasi gelombang maut Selat Gilibanta, lalu terdampar di Pulau Komodo, beranak pinak. Jadi sebab sengketa kelak. Kalian bermusuh-musuhan. Padahal satu dalu saja.
Nenek Haji menyeka keringatnya yang terbit di dahinya yang sudah mengkerut. Ujung sarung Nggoli buah tangannya sendiri dikibas-kibaskan, seperti meniru kibasan layar perahu yang diterpa angin. Tetapi air matanya jua yang mengucur. Ia menyeka air mata itu. Ibu-ibu yang lain mengambil pasir segenggam demi segenggam, lalu dilemparkannya ke bibir pantai. Seorang ibu menusukkan sebatang lidi ke sehelai daun waru yang jatuh entah kapan, lalu pergi membawanya ke pantai. Daun itu segera dilahap oleh gelombang.
Nenek Haji bercerita lagi, kami yang di lereng barat riuh rendah, menanti ombak. Semakin ganas semakin baik. Sebab kami harus segera keluar dari pulau. Para lelaki, yang kelak menurunkan jagoan-jagoan perahu layar itu, bergegas ke pantai, melepas tali sauh perahu-perahu. Semua berhamburan menaiki perahu. Kalau tidak begitu, semua pasti mati.
Orang-orang di daratan resah gelisah. Mereka ikat tali saudara dengan orang-orang Sangiang pulau. Hanya angin musim yang memisahkan. Ketika layar perahu tampak di kejauhan, hati mereka bersenyawa, seperti angin dan udara. Seperti ombak dan gelombang. Batu cadas besar, yang tampak di pelupuk mata, pecah berantakan ditelan rindu.
Maka dengarkanlah dendangan kami. Kami rakit tetarian kami, lakukan ritual, nyanyikan Kalero dan Arugele. Pasti kalian mendapati gubahan yang indah. Tetapi janganlah keliru, kami hanya mengenangkan kepahitan. Duka lara. Dan ketangguhan. Ketika para lelaki kami menciduk laut dengan panci-panci dapur kami, mereka sedang menggiring angin, menampungnya jadi gelombang, lalu ditawan oleh layar perahu. Menyeberanglah kami. Kalian janganlah mati sebelum kami sampai. Baiknya kita mati bersama.
Anak-anak, cucu-cucu mereka, yang dari tadi tepekur, mulai resah gelisah. Mereka berhamburan, ke arah sebuah perahu kecil, yang teronggok di tumpukan pasir. Nenek Haji menarik nafas, lalu menumpahkan sirih yang dikunyahnya selama mendongeng. Ia berdiri, memperbaiki sanggentu, jarik dari sarung tenunannya sendiri. Kudungnya diselempangkan di lingkaran kepalanya, menutupi sisa-sisa rambut yang sangat memutih.
Ibu-ibu lain berdiri, pergi ke belakang. Lalu kembali lagi ke tengah kerumunan anak-anak, cucu-cucu mereka, yang sedang menyongkel tumpukan pasir, membersihkan badan perahu, dan melumurinya dengan gambar-gambar dari arang tungku perkemahan. Mereka lalu menyorong perahu yang sudah afkir itu ke arah laut biru.
Nenek Haji berteriak dari bawah pohon waru, “Ini sarungku, ambil, pakaikan untuk jadi layar, supaya perahu kalian bisa ke laut biru, ke samudra luas. Pergilah! Jika kalian nanti pulang, carilah nisanku tidak jauh dari batu cadas, sisi timur kampung. Berlayarlah jauh!”
Baca Juga: Zikir Geladak
Anak-anak, cucu-cucu Nenek Haji itu, rehat sejenak dari merajut perahu kecil mereka. Mereka berhamburan ke rumah-rumah mereka, mengambil panci-panci, menjadikannya gong, kecapi, dan gendang. Mereka lalu bertetabuhan, menyanyi dan menari. Mengelilingi perahu kecil yang sudah ringkih, tapi hendak menempuri gelombang yang mulai ganas.
Anak-anak mencebur ke laut. Ibu-ibu mendendangi mereka. Geleee…. Arugelee… Mai menaee… Karawe mena lopi kee…. []

Pegiat literasi dan peminat sufisme lokal



