Alamtara Islamic School Gelar Seleksi untuk Calon Guru

KOTA BIMA – Suasana pagi di Kalikuma Library, Ule, Kota Bima, pada Sabtu, 29 November 2025, terasa istimewa. Ruang perpustakaan pagi itu dipenuhi oleh puluhan wajah antusias dan penuh semangat. Mereka adalah calon-calon pendidik yang datang untuk mengikuti Seleksi Calon Guru Alamtara Islamic School (AIS), sebuah upaya pencarian “bibit unggul” yang akan ditugaskan untuk mendidik generasi penerus Bima.

Acara yang dibuka secara resmi ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah deklarasi komitmen untuk membangun pendidikan berkualitas. Tiga tokoh hadir memberikan sambutan yang hangat dan penuh makna, layaknya orang tua yang menitipkan amanah besar.

Prof. Wahid, dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada semua peserta. Dengan kata-kata yang tegas dan penuh wibawa, ia menegaskan peran sentral seorang guru. “Guru adalah kunci dari setiap institusi pendidikan, dari jenjang SD sampai universitas. Tanpa guru yang berkualitas, mustahil kita bisa membangun generasi yang unggul,” tegasnya.

Prof. Wahid tidak hanya berhenti di sana. Ia melanjutkan dengan menekankan pentingnya fondasi karakter yang kokoh. “Kedisiplinan dan profesionalisme adalah napas dari profesi mulia ini. Ingat, kita semua adalah peletak dasar pertama bagi Alamtara Islamic School untuk generasi selanjutnya,” tambahnya, seraya mengajak seluruh calon guru untuk memiliki komitmen jangka panjang dalam mengabdi.

Sementara itu, Prof. Atun hadir untuk memperkenalkan jiwa dan filosofi di balik berdirinya Alamtara Islamic School. Dengan gaya bicara yang tenang namun penuh keyakinan, ia memaparkan bahwa AIS hadir untuk mengisi sebuah “kekosongan”.

“Kedisiplinan adalah nilai plus yang masih kurang di kita. Tidak ada sesuatu yang bisa kita raih tanpa keseriusan,” ujar Prof. Atun, memberikan suntikan motivasi. “AIS hadir sebagai alternatif pendidikan yang fokus pada pengembangan karakter, menjawab hal-hal fundamental yang mungkin terabaikan oleh sistem pendidikan yang ada saat ini di Bima.”

Baca Juga  Dinda tentang La Rimpu, Agen Perdamaian Itu

Lebih detail, Prof. Atun memaparkan tiga pilar utama yang akan menopang pembangunan AIS: People, Program, dan Proses. Ia lantas menegaskan bahwa inti dari ketiga pilar tersebut adalah satu: pelayanan. “Pendidikan pada hakikatnya adalah pelayanan. Ingatlah, ‘mampu’ itu sebenarnya adalah kumpulan dari ‘mau’. Kemauan dan ketulusan hati untuk melayani adalah fondasi yang tidak bisa ditawar dari seorang pendidik sejati,” pesannya yang dalam itu menyentuh semua yang hadir.

Sebagai pimpinan yang akan berhadapan langsung dengan operasional sekolah, Pak Herman, Sang Kepala Sekolah, menjelaskan dengan rinci tahapan seleksi yang harus dilalui para peserta. Penjelasannya jelas dan tegas, menggambarkan betapa seriusnya AIS dalam merekrut tenaga pengajar.

“Guru penting di-test kapasitas dan kualitasnya. Hanya dengan begitu, kualitas murid yang kita cita-citakan bersama dapat benar-benar dijaga dan terwujud,” jelas Pak Herman.

Seleksi ini sendiri dirancang secara komprehensif untuk menyaring calon guru dari berbagai sisi. Dilaksanakan dalam dua sesi (pagi dan siang), para peserta harus melalui tiga ujian yang mendalam:

  1. Tes Tertulis (Essay on The Spot): Menguji kemampuan analisis dan pemikiran kritis.
  2. Wawancara: Menggali motivasi, kepribadian, dan kesesuaian nilai dengan visi-misi AIS.
  3. Micro Teaching: Melihat langsung kompetensi pedagogik dan cara mengajar di depan kelas.

Alamtara Islamic School tidak hanya sekadar menambah tenaga pengajar. Mereka sedang dengan sengaja dan penuh keyakinan merajut harapan baru. Harapan untuk menemukan guru-guru terbaik yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki hati sebagai pelayan dan pemateri karakter bagi para siswa. Langkah awal ini adalah fondasi kokoh untuk mewujudkan Generasi Emas Bima yang siap bersinar di masa depan. 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *