KOTA BIMA – Dalam upaya turut memajukan pendidikan di Bima, Nusa Tenggara Barat, Alamtara Islamic School (AIS) resmi membuka lembaga pendidikannya di tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs). Kehadiran sekolah ini bukan sekadar menambah jumlah satuan pendidikan, tetapi hadir dengan filosofi dan roadmap (peta jalan) yang jelas untuk membentuk siswa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berkarakter dan siap menjadi warga dunia (global citizen).
Pendiri Alamtara Islamic School dalam sambutannya menekankan, bahwa masa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dipandang sebagai masa yang tepat untuk menanamkan dasar-dasar ilmu dan karakter yang kuat.
“Mungkin teman-teman yang berlatar pendidikan juga sudah paham. Pendekatan yang insya Allah akan efektif adalah jika di masa SD anak-anak masih banyak bermain, maka masa SMP adalah masa yang bagus untuk kita berikan fondasi yang kokoh,” ujarnya.
3P sebagai Pilar Utama
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, sekolah ini akan berfokus pada tiga pilar utama yang dijuluki 3P: People (Orang), Program, dan Proses.
- People (Orang)
Pilar pertama dan yang paling ditekankan adalah kualitas sumber daya manusia, khususnya guru. Sekolah ini secara khusus memilih guru-guru yang tidak hanya kompeten di bidangnya, tetapi juga memiliki passion dan mengajar dari hati.
“Guru adalah faktor utama. Kami pikir, mengapa kami mulai dari Madrasah Tsanawiyah dan harus memilih guru-guru berkompeten? Karena itu sangat penting untuk membuat sekolah ini ke depan akan berkembang,” jelasnya.
Filosofi perekrutan gurunya pun unik: “Kami mencari orang yang mau, bukan hanya yang mampu.” Lebih lanjut dijelaskan, jika memiliki kedua-duanya tentu baik, tetapi jika harus memilih, orang yang memiliki kemauan dan semangat belajar tinggi lebih diutamakan.
“Karena dengan ‘mau’, lama-lama kemampuan akan tumbuh. Sebaliknya, jika hanya ‘mampu’ tapi tidak ada ‘mau’-nya, kemampuannya akan terkikis. Orang rajin akan mengalahkan orang cerdas yang malas. Jadi, ‘mau’-nya harus banyak, harus kepo (ingin tahu), itu kunci bagi orang yang ingin maju,” tambahnya dengan gaya bahasa yang mudah dicerna.
- Program
Pilar kedua adalah program. Meski mengakui banyak sekolah unggulan lain di Bima, Alamtara Islamic School memiliki keunikan sendiri dalam program pembelajarannya. Salah satunya adalah penekanan pada kemampuan menulis (essay) dan public speaking.
“Kenapa harus ada essay? Aduh, essay segala? Karena kita akan fokus pada bagaimana anak-anak nanti bisa menyampaikan ide-ide, baik melalui public speaking maupun melalui tulisan. Kita bicara tentang Global Citizen, dan menulis itu sangat penting,” paparnya. Program ini dirancang untuk melatih siswa menyusun argumentasi dan berkomunikasi dengan efektif.
- Proses
Pilar ketiga adalah proses. Sekolah ini percaya bahwa pendidikan adalah sebuah perjalanan panjang yang harus dinikmati dan dihargai setiap langkahnya. Komitmen terhadap proses inilah yang diharapkan dapat menjaga konsistensi dan kualitas pendidikan.
“Ini adalah perjalanan panjang. Kami meramu, mengumpulkan semangat dan niat baik agar tidak belok ke sana kemari. Niatnya tulus, untuk memajukan pendidikan di Bima,” tegasnya.
Menutup pengarahannya, pendiri Alamtara memberikan pesan santai dan menyemangati untuk menghadapi proses apapun, termasuk ujian. “Hadapi ujian hari ini dengan santai saja. Para penguji nanti adalah anak-anak generasi sekarang, insyaallah fun saja. Apapun hasilnya, yang terpenting adalah interaksi dan proses yang dilakukan,” pesannya.
Dengan diresmikannya Alamtara Islamic School, diharapkan dapat menjadi opsi pendidikan baru yang berkontribusi positif bagi kemajuan dunia pendidikan di Bima, melahirkan generasi yang unggul, berkarakter, dan siap bersaing di kancah global.
“Selamat datang di Alamtara Islamic School. Semoga kedatangan ini akan membentuk pertemuan-pertemuan yang bermakna.”

Dosen STIPAR Soromandi, Bima.





