Tanggapan, Resonansi, dan Catatan Kritis atas Tulisan “Kehilangan Eksistensi: Ketika Hidup Didikte Orang Lain” Prof. Maimun Zubair

Ada tulisan yang selesai dibaca lalu ditinggalkan. Ada pula tulisan yang, setelah dibaca, justru tinggal di dalam diri—mengendap, mengetuk, dan menuntut kejujuran batin. Tulisan Prof. Maimun Zubair ini jelas termasuk kategori kedua. Ia tidak hanya menawarkan argumentasi moral, tetapi mengajak pembaca bercermin dengan jujur: sejauh mana hidup kita sungguh kita miliki, dan sejauh mana ia sekadar reaksi atas orang lain?

Resonansi: Tulisan yang Menyentuh Akar Masalah Manusia Modern

Resonansi terkuat dari tulisan ini terletak pada keberaniannya menelanjangi ilusi moral manusia. Banyak orang merasa bermoral, padahal sesungguhnya hanya sedang responsif secara emosional, bukan reflektif secara nilai. Dengan kisah klasik ayah–anak–keledai, Prof. Maimun tidak sekadar mengulang dongeng lama, tetapi menghidupkannya sebagai metafora eksistensial: manusia yang terus mengubah sikap demi suara luar, hingga akhirnya kehilangan suara batinnya sendiri.

Dalam dunia yang bising oleh opini, komentar, penilaian, dan validasi—baik di ruang sosial nyata maupun digital—tulisan ini terasa sangat relevan. Ia menampar dengan halus, mengingatkan bahwa hidup reaktif adalah bentuk paling halus dari kehilangan kemerdekaan diri.

Rujukan pada Al-Ghazali, Ibnu Qayyim, Rabi’ah al-Adawiyah, hingga Ali bin Abi Tholib menunjukkan kedalaman tradisi intelektual Islam yang tidak hanya normatif, tetapi juga sangat psikologis dan eksistensial. Islam dihadirkan bukan sebagai kumpulan perintah, melainkan sebagai proyek pembebasan jiwa.

Apresiasi: Kejernihan Gagasan dan Keanggunan Etika

Tulisan ini patut diapresiasi karena beberapa hal penting: Pertama, Konsistensi Gagasan: Dari awal hingga akhir, benang merahnya terjaga: kritik atas hidup yang didikte reaksi dan ajakan kembali pada kedaulatan nilai. Kedua, Keberanian Moral: Tidak banyak tulisan yang secara jujur mengatakan: “Jika kita berbuat baik hanya karena orang lain baik, kita belum merdeka.” Ini pernyataan yang tidak nyaman, tetapi justru di situlah kejujurannya. Ketiga, Keindahan Etika Islam yang Membumi: Ayat-ayat al-Qur’an tidak diposisikan sebagai hiasan dalil, melainkan sebagai fondasi nilai yang hidup dan operasional dalam keseharian. Tulisan ini terasa seperti nasihat seorang Guru yang tidak menggurui, tetapi mengajak duduk bersama, merenung, dan jujur pada diri sendiri.

Kritik Konstruktif: Ruang yang Masih Bisa Diperdalam

Justru karena tulisan ini kuat, ia layak diberi kritik yang serius dan tajam sebagai bentuk penghormatan intelektual. Pertama, dimensi struktural sosial belum banyak disentuh. Tulisan ini sangat kuat pada level individu dan spiritual, tetapi pembaca awam bisa saja bertanya: Bagaimana dengan situasi ketika reaksi bukan sekadar pilihan personal, melainkan hasil tekanan sistemik—budaya, ekonomi, atau politik? Menambahkan sedikit refleksi tentang bagaimana menjaga kedaulatan diri di tengah struktur yang tidak adil akan membuat tulisan ini semakin utuh dan kontekstual.

Kedua, contoh praksis kontemporer bisa memperkuat daya jangkau. Misalnya, bagaimana hidup reaktif bekerja di media sosial, budaya pencitraan, atau relasi kuasa di dunia akademik dan birokrasi. Ini akan membuat pesan yang luhur terasa lebih dekat dan “teralami”, bukan hanya dipahami. Namun kritik ini bukan kekurangan substansial, melainkan peluang pengayaan bagi karya lanjutan.

Saran: Dari Renungan ke Gerakan Kesadaran

Tulisan ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi: pertama, Seri esai tematik tentang kemerdekaan batin. Kedua, Bahan diskusi publik lintas kampus dan pesantren. Ketiga, Modul refleksi etika untuk pendidik dan pemimpin. Akan sangat menarik bila gagasan ini dipertemukan dengan pengalaman konkret masyarakat NTB: pendidik, aktivis, pemuda, dan tokoh agama—bagaimana mereka berjuang menjaga nilai di tengah tekanan sosial.

Ajakan Kolaborasi: Merawat Nalar dan Batin Bersama

Saya melihat tulisan ini bukan sebagai akhir, melainkan awal percakapan yang lebih besar. Redaksi alamtara.co, dari Alamtara Institute, patut diapresiasi setinggi-tingginya sebagai oase intelektual dan batin di NTB—ruang yang tidak hanya merawat nalar kritis, tetapi juga kedalaman rasa dan kejujuran spiritual. Ke depan, kolaborasi antara para guru besar, intelektual publik, pendidik, dan platform seperti Alamtara Institute sangat dibutuhkan untuk: Menjaga ruang diskursus yang jernih di tengah kegaduhan. Menghubungkan etika Islam dengan problem manusia kontemporer. Melahirkan wacana yang tidak hanya cerdas, tetapi juga menyembuhkan.

Tulisan Prof. Maimun Zubair ini mengingatkan kita pada satu hal mendasar: menjadi manusia merdeka bukan soal melawan orang lain, tetapi soal tidak menyerahkan kendali jiwa kepada reaksi dan tekanan luar. Terima kasih kepada Prof. Maimun atas kejernihan dan kegagahan keberanian intelektualnya. Terima kasih kepada Alamtara Institute dan alamtara.co yang terus menjadi penjaga mata air kesadaran—di NTB dan untuk Indonesia.

Mari lanjutkan percakapan ini. Bukan sekadar agar dipahami, tetapi agar dialami dan dihidupi bersama.[]



* Aldo el-Haz Kaffa (Coach Kaffa), pendiri Islamic Lombok Forum, CEO Kaffa Business Coach, penulis Mindset is Everything, penganjur Entrepreneurial Mindset Mainstreaming, provokator kemandirian dari NTB mendunia, Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri Pimpinan Wilayah DMI NTB.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *