Joki Cilik: Penunggang Nasib Penuh Debu

ANAK-ANAK itu membara! Membara sekujur tubuhnya dipanggang oleh terik matahari di lintasan pacuan kuda, dan legam dikepung oleh deru debu panas.

Membara jiwanya memburu dan menyongsong kemenangan demi kemenangan dari atas punggung kuda.

Membara semangatnya dalam memegang janji dan amanat memenangkan nilai sportivitas dan kejuangan tanpa kenal lelah dan pamrih.

Membara pikirannya dalam menjumput nasib dan martabat diri, keluarga, dan citra sebaya yang harus direbut.

Tubuh, jiwa, semangat, dan pikiran yang membara itu bisa saja menjadi modal mereka dalam menyibak belantara hidup mereka di masa datang, masa datang yang penuh kompetisi dan pergulatan menang-kalah.

Bisa juga tidak! Sebab anak-anak itu mengorbankan segalanya dari kehidupan mereka. Mereka meninggalkan keceriaan kanak-kanak di dalam taman keluarga dan masuk ke gelanggang permainan orang dewasa.

Mereka mengorbankan nuansa indah bangku sekolah untuk memberikan kegembiraan bagi orang-orang dari kelas sosial lain – biasanya kalangan priyayi atau borjuis – yang sedang mencari sublimasi.

Baca juga: Buku dan Perspektifnya: Jara Mbojo Kuda-kuda Kultural (1)

Mereka mengorbankan masa depannya untuk dipertaruhkan, demi dan oleh kepentingan suatu kebudayaan yang mereka tidak tahu menahu – kultur dari suatu masyarakat yang sedang mencari jati diri.

Mereka mengorbankan kemurnian dan keluguan mereka untuk langgengnya tradisi. Tradisi yang dijalin oleh masyarakat yang menyikapi ‘tradisi’ sebagai hal final atau tabu untuk dirubah.

Para joki cilik itu tidak menyadari kepungan komersialisasi tubuh lincah dan jiwa berani mereka, ditabiri oleh ketawa ceria mereka sendiri dan sorai para penonton.

Itulah joki kecil pacuan kuda di Pulau Sumbawa. Mereka adalah anak zaman yang mewakili suatu kebudayaan dan dunia batin suatu masyarakat yang sedang dicungkil untuk bergerak.

Mereka adalah representasi kultural dan merefleksikan suatu dinamika sosial yang sedang berubah dan menemukan jati dirinya.

Mereka juga adalah simbol identitas yang digunakan sebagai penanda keagungan dan martabat suatu komunitas. Suatu beban sejarah yang berat untuk ditimpakan ke lengan dan pundak rapuh mereka.

Tetapi, lihatlah, mereka bergembira tampaknya. Ketawa mereka lepas, benak mereka bebas, tanpa dikekang oleh aturan dan norma sebagaimana teman-teman mereka atau saat mereka sedang berada di sekolah.

Arena pacuan kuda menyediakan mereka ruang lapang untuk mereka bisa lari sejenak dari tuntutan untuk menjadi “sang juara” di sekolah.

Di sini mereka bisa berkali-kali dan dengan mudah menjadi ‘hero’ atau ‘champion’. Atau juga menjadi pecundang tanpa harus kehilangan kehangatan dan persahabatan.

Baca juga: Buku dan Perspektifnya: Jara Mbojo Kuda-kuda Kultural (2)

Di sini mereka menemukan diri mereka bermakna. Dibutuhkan. Diperebutkan. Dicari. Dijaga. Dirawat. Tidak ada yang lebih penting dari mereka.

Mereka adalah kelas sosial nomor satu dalam stratifikasi dunia pacuan kuda tradisional. Kedatangan mereka ditunggu, dielu-elukan, disayangi dan diusap-usap kepalanya, digadang, didoakan, diperlakukan dan dihadiahi istimewa.

Tetapi itu semua hanya terhitung hari. Segera pacuan kuda selesai, mereka kembali lagi ke tengah lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat dengan perasaan yang asing.

Mereka kembali menghuni kesunyian, menempati bangku-bangku belakang, dan terselip di tepi pinggiran gedung dan ruang tersekat penuh nuansa kompetisi.

Mereka kembali menjadi orang kalah atau memulai lagi bertubi-tubi mengenyam kekalahan. Sampai suatu saat nanti jiwa, semangat, dan pikiran mereka menemukan wahana untuk kembali membara.[]


(Catatan singkat untuk pengantar buku Romi Perbawa, Riders of Destiny, 2016).


Ilustrasi: Foto Romi Perbawa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.