Angsa Hitam dan Fluktuasi Harga Jagung

FENOMENA naik-turunnya harga pangan menjadi hal lumrah dalam keseharian petani. Ketidakstabilan harga pangan bisa disebabkan berbagai hal, misalnya perubahan cuaca yang diakibatkan oleh revolusi bulan, permainan tengkulak yang menampung hasil pangan, dan inflasi atau deflasi akibat pergerakan nilai tukar rupiah.

Anomali harga pangan tersebut membuat petani waswas untuk mulai melakukan penanaman bibit ketika pergantian tahun. Prediksi yang sedikit saja melesat akan menyebabkan kegagalan untuk petani. Fenomena tersebut dialami oleh petani jagung di Indonesia. Tulisan ini berfokus pada kasus yang dialami petani jagung di Bima, Nusa Tenggara Barat.

Tahun 2021, produksi jagung nasional ditaksir mencapai 15,79 juta ton dengan kadar air 14%. Sedangkan tahun 2022 produksi jagung diprediksi naik menjadi 23 juta ton, hal ini disebabkan oleh melonjaknya harga jagung selama 2021. Tercatat, bahwa kisaran harga jagung yang beredar di pasaran sekitar Rp. 6000/kilogram. Hal tersebut memicu petani untuk menanam jagung sebanyak-bayaknya di awal tahun 2022. Pembukaan lahan ‘gila-gilaan’ tidak dapat dielakkan, karena harga jagung yang sangat menggiurkan.

Baca juga: Lebih dari Sekadar Alih Fungsi Lahan Biasa

Namun, para petani harus pelan-pelan mengelap keringat di pertengahan tahun 2022 ini. Harga jagung rata-rata turun drastis di angka Rp. 3.500/kilogram selama bulan Mei – Juli ini membuat petani jagung harus mengelus dada. Perkiraan dan harapan harga jagung tetap stabil ternyata meleset. Apakah penyebab dari anomali harga tersebut?

Kata angsa hitam (Black Swan) mulai dipakai  pada tahun 1697. Sebelumnya manusia percaya bahwa semua angsa berwarna putih hingga pelayar dari Belanda menemukan bahwa ada angsa hitam pertama kali di bagian barat Australia.

Sejak saat itu, kata angsa hitam digunakan untuk mendeskripsikan suatu yang terjadi di luar perkiraan. Kejadian tersebut memiliki kemungkinan terjadi yang sangat kecil karena manusia percaya terhadap perkiraan dan prediksi dari peristiwa masa lalu cukup untuk menentukan hasil masa depan.

Dalam bukunya, The Black Swan, Nassim Nicollas Talleb mengemukakan bahwa hal-hal kecil di luar dugaan bisa berdampak besar. Misalnya, seperti puisinya Rangga yang diikutsertakan dalam lomba oleh Pak Wardiman, seorang penjaga sekolah dalam film Ada Apa Dengan Cinta 1. Teman-teman Cinta sangat yakin bahwa pemenang lomba puisi tersebut adalah Cinta karena Ia dikenal sebagai sosok superior dan siswa yang hebat dalam menulis.

Namun, anggapan tersebut dibantah setelah dewan juri menentukan bahwa pemenangnya adalah Rangga. Dari kejadian itu, Cinta yang mulanya cuek terhadap lelaki akhirnya terobsesi dengan sosok Rangga yang inferior. Pada akhirnya hal kecil yang disebut black swan mengubah kehidupan Cinta.

Berhubungan dengan black swan, Edward Norton Lorenz mengibaratkan bahwa kepakan sayap kupu-kupu di Amazon, dapat menghasilkan tornado di Texas dalam beberapa bulan kemudian. Ungkapan ini dinamakan butterfly effect atau chaos theory.

Baca juga: 75 Tahun Merdeka, Petani Masih Terjajah

Pernyataan tersebut menguatkan bahwa hal-hal kecil yang di luar dugaan bisa berdampak besar di kemudian hari. Oleh sebab itu, sangat perlu mengenali dan menganalisis secara kritis dalam merencanakan sesuatu. Kemungkinan terburuk harus diprediksi, supaya dapat memprediksi solusi yang tepat.

Secara umum efek black swan berjalan dua arah. Black swan terjadi di dua kubu yaitu kubu yang sudah mempersiapkan diri secara tepat dan kubu yang tidak mempersiapkan diri. Saya ambil contoh dalam kehidupan seorang kapten kapal, Edward John Smith dalam film Titanic.

Seorang kapten yang beranggapan bahwa kapal yang pimpin tidak akan pernah karam dalam kondisi apapun. Hal tersebut ia yakini karena banyak pengalaman yang ia dapatkan saat berlayar. Namun, apa yang terjadi, kapal Titanic yang ia pimpin karam pada tahun 1912.

Angsa hitam terbang di atas ladang para petani jagung. Setidaknya begitulah gambaran untuk saat ini yang menggambarkan petani jagung di Bima. Para petani mengalami kerugian akibat harga jagung yang tidak cukup untuk menutupi modal.

Pada awal tanam, petani harus membeli bibit jagung dari toko pertanian. Harga bibit jagung unggul di toko pertanian jauh lebih mahal daripada harga bibit jagung lokal. Selain itu, petani harus membeli pupuk dengan harga yang cukup tinggi, karena peredaran pupuk di pasaran sangat langka. Pada akhirnya petani harus mengalami kerugian.

Pada saat saya di atas kapal menuju Kalimantan, saya berkenalan dengan beberapa orang yang memiliki daerah tujuan berlabuh yang sama. Rata-rata di antaranya adalah petani jagung yang mencari pekerjaan di Kalimantan Timur.

Mereka berencana untuk bekerja di kebun sawit perusahaan di pelosok Kaltim, misalnya seperti di Bengalon, Kutai Timur. Miris, mendengar cerita mereka yang harus merantau karena mengalami kerugian dari ladang jagung. Untuk itu, saya menawarkan solusi untuk mengatasi efek black swan.

Untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi black swan, data yang diambil harus mendekati akurat supaya analisis yang dilakukan tidak jauh meleset. Misalnya, seperti mengamati pergerakan bulan di akhir tahun yang dapat menentukan cuaca di tahun depan, dan mengamati arus pergerakan konsumsi pabrik jagung.

Baca juga: Saatnya Mendengar Banjir Berkhotbah

Cara tersebut memang sedikit rumit dan membutuhkan ilmu yang cukup, namun hasilnya tidak akan jauh dari prediksi. Cara yang kedua adalah lahan dibagi menjadi 80% banding 20% menanam komoditas lain yang stabil harganya seperti padi. Harga padi setiap tahun tidak mengalami gejolak yang begitu berarti.

Untuk itu, menanam padi dalam persentase 80% dan jagung 20% adalah pilihan yang aman. Bila harga jagung turun, petani tidak akan mengalami kerugian yang tinggi, sedangkan bila harga jagung naik petani akan mendapatkan untung yang tinggi karena mengeluarkan modal yang sedikit.[]

Ilustrasi: Facebook.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.