Laki-Laki La Rimpu: Menolak Dominasi, Merayakan Kesetaraan

Sebagai seorang anak laki-laki yang lahir di salah satu pelosok Desa di ujung timur pulau Sumbawa, saya tumbuh dan berkembang dengan budaya Bima yang cukup kental di mana nilai-nilai agama dan adat istiadat sangat dijunjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Identitas gender yang saya pahami tentu sangat dipengaruhi dan dibentuk oleh ajaran Islam dan tradisi keislaman masyarakat Bima.

Sejak kecil, saya sudah dicekoki dengan sistem patriarki, saya sudah akrab dengan pemahaman bahwa laki-laki (ayah) adalah pemimpin keluarga. Menjadi laki-laki berarti menyiapkan diri untuk menjadi kepala rumah tangga. Pemahaman itu begitu melekat, karena ajaran keagamaan dan budaya di sekitar saya seolah menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki posisi yang berbeda. Laki-laki selalu lebih tinggi, terhormat, dan tentu saja ada perlakuan istimewa baik di ruang publik maupun ruang domestik.

Dalam tradisi sosial, politik dan keagamaan sehari-hari, laki-laki selalu yang tampil memimpin (on stage) sementara perempuan selalu berada di balik layar (Behind the scenes) berjibaku dengan urusan dapur dan konsumsi. Mereka berada di balik pintu-pintu belakang rumah. Tidak berbeda dengan masyarakat pada umumnya, saya pun juga secara tidak langsung penganut paham patriarki, menempatkan laki-laki sebagai kelas istimewa dan mensubordinasi perempuan. Dikotomi peran gender ini tidak pernah saya pertanyakan karena saya anggap bagian dari ajaran agama yang saya yakini, dan karena itu, tertanam kuat dalam cara saya melihat relasi gender sehari-hari.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya wawasan, saya mulai menyadari bahwa pola yang saya anggap alamiah dan benar itu sebenarnya merupakan hasil dari sistem patriarki yang dikonstruksi oleh masyarakat itu sendiri. Sistem ini tidak hanya mengatur pembagian peran yang sempit, tetapi juga membentuk kesadaran kolektif bahwa laki-laki lebih superior daripada perempuan, baik dalam ranah keluarga maupun kehidupan sosial.

Selain itu, saya juga menyadari bahwa sistem patriarki bukan hanya melanggengkan ketimpangan dan ketidakadilan gender bagi perempuan, tetapi juga telah menggerogoti tubuh tuannya sendiri yaitu laki-laki  karena sistem ini mencetak standar laki-laki ideal dengan wajah maskulinitas hegemonik: dominan, berkuasa, dan superior. Dengan standar itu, kelembutan, empati, bahkan air mata, dianggap sebagai kelemahan yang tidak pantas dimiliki laki-laki. Dengan kata lain, patriarki membatasi kemanusiaan, bukan hanya perempuan yang terpinggirkan, tetapi juga laki-laki yang terjerat oleh standar kaku maskulinitasnya sendiri.

Tidak jarang, banyak laki-laki merasa gagal menjadi “laki-laki” ketika mereka tidak mampu memenuhi standar-standar itu. Misalnya, seorang kepala keluarga, karena sesuatu dan lain hal, tidak lagi mampu bekerja dan memberi nafkah (breadwinner), dia akan merasa gagal sebagai laki-laki yang “bertanggung jawab”. Mirisnya, rasa sedih, kecewa, sakit hati, dan air mata harus mereka pendam sendiri. Laki-laki tidak boleh lemah! Laki-laki selalu dipaksa untuk tampil dominan, kuat, berani, dan perkasa. Sistem inilah yang melahirkan ketimpangan struktural dan relasi kuasa yang timpang itu. Itulah Patriarki.

Meski sejak kuliah saya sudah akrab dengan teori-teori gender, pemahaman saya tentang kesetaraan sejatinya baru menemukan bentuk yang jelas ketika bergabung dengan La Rimpu pada akhir tahun 2019. Di organisasi ini, saya berhadapan langsung dengan kenyataan bahwa kesetaraan bukan sekadar istilah akademik, melainkan perjuangan sehari-hari yang dihidupi oleh perempuan di ruang-ruang sosial mereka.

La Rimpu menjadi ruang pertama yang sungguh-sungguh menantang saya untuk mendobrak sistem patriarki dan mengambil bagian dari kerja-kerja perempuan untuk perdamaian, ketangguhan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan itu.

Kadang saya kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa La Rimpu memang identik dengan organisasi perempuan dan lebih banyak diisi perempuan, sementara laki-laki bisa dihitung dengan jari. Tetapi saya juga menyadari bahwa situasi ini bukan karena perempuan menutup ruang dan mengeksklusi laki-laki, melainkan karena hanya sedikit laki-laki yang mau terlibat dalam kerja-kerja yang dianggap “milik perempuan”. Apalagi misi besar La Rimpu yang menantang kultur patriarki. Maka tidak mengherankan bila jumlah laki-laki yang bergabung begitu kecil.

Hal demikian kemudian membuat saya sadar bahwa setiap laki-laki yang mau menjejakkan kaki di ruang ini adalah laki-laki pilihan. Mereka patut dihormati karena mereka sedang menempuh jalan yang tidak mudah—jalan yang jarang dipilih, penuh stigma sosial dan sarat akan pergulatan batin dan ideologis yang mereka coba lepaskan dari dalam diri mereka.

Di titik inilah saya memaknai “Laki-Laki La Rimpu”  adalah laki-laki yang berani meruntuhkan konstruksi kelelakian hegemonik yang diwariskan oleh sistem patriarki. Laki-laki yang rela menanggalkan privilese yang selama ini dianggap hak kodrati, dan bersedia belajar dan sejajar dengan perempuan. Mereka sadar bahwa kesetaraan bukan ancaman bagi identitas laki-laki, melainkan pintu untuk menemukan kemanusiaan yang lebih utuh. Hanya dengan cara inilah, menurut saya, perdamaian bisa lahir—ketika laki-laki dan perempuan sama-sama diberi ruang untuk tumbuh, berkontribusi dan membangun kehidupan yang adil.

Pada akhirnya, menjadi Laki-Laki La Rimpu bukanlah sekadar label, apalagi identitas simbolik yang melekat. Ia adalah sikap hidup yang dipilih secara sadar: sikap untuk menolak dominasi, merayakan kesetaraan, dan berpihak pada keadilan gender. Sebuah pilihan untuk tidak hanya lahir sebagai laki-laki, tetapi juga hadir sebagai manusia yang peduli, setara, dan merdeka bersama perempuan. Dan di situlah, menurut saya, letak makna terdalam dari menjadi “Laki-Laki La Rimpu.”[]

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *