Ketika “Keterbukaan” Kehilangan Arah
Tulisan Salman Akif Faylasuf tentang Islam Kaafah sekilas tampak cerdas, kaya rujukan, dan berlapis sejarah. Ia mengajak pembaca menyusuri lorong panjang interaksi Islam dengan berbagai peradaban—India, Persia, Yunani, Tiongkok—lalu menyimpulkan bahwa Islam kaafah sejatinya adalah Islam yang terbuka, kosmopolitan, hibrid, dan cair.
Namun justru di sinilah problem utamanya bermula.
Keterbukaan yang tidak ditopang kerangka aqidah yang kokoh bukanlah keterbukaan, melainkan keterombang-ambingan. Dan kosmopolitanisme yang kehilangan pusat tauhid bukanlah keindahan peradaban Islam, melainkan kekacauan epistemik yang membingungkan umatnya sendiri.
Tulisan ini tidak bermaksud menafikan fakta sejarah interaksi Islam dengan peradaban lain. Itu fakta yang tak terbantahkan. Namun fakta sejarah bukan otomatis legitimasi teologis, apalagi jika dipakai untuk mengaburkan batas prinsip dan melemahkan aqidah umat Islam hari ini.
Baca Juga: Islam Kaafah yang Bagaimana?
Kesalahan Mendasar: Menyamakan Akulturasi dengan Prinsip Aqidah
Salman berulang kali mengaburkan garis antara prinsip Islam dan produk sejarah umat Islam. Ini kesalahan fatal.
Islam bukanlah kumpulan artefak sejarah, bukan busana, bukan arsitektur, bukan istilah linguistik, dan bukan hasil negosiasi budaya. Islam adalah wahyu—lengkap, final, dan memiliki struktur nilai yang sangat jelas.
Al-yauma akmaltu lakum dinakum… “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Ayat ini tidak sedang berbicara tentang menara masjid, sarung, bekam, atau istilah santri. Ia bicara tentang kesempurnaan sistem nilai, aqidah, dan syariat.
Akulturasi budaya adalah wilayah mubah, wilayah teknis, wilayah tathbiq, bukan wilayah prinsip. Ketika Salman mengangkat bekam, parit Khandaq, atau istilah santri sebagai bukti bahwa Islam itu “hibrid”, ia sedang melakukan kesalahan kategori (category error): mencampuradukkan substansi agama dengan aksesoris sejarah.
Nabi Terbuka, Tapi Tidak Relatif
Benar, Nabi ﷺ menerima teknologi parit dari Persia. Benar, Nabi ﷺ membiarkan petani kurma berinovasi. Benar, Nabi ﷺ hidup di masyarakat kosmopolitan. Namun kesimpulan Salman melompat terlalu jauh.
Keterbukaan Nabi ﷺ selalu berada dalam kendali tauhid. Nabi ﷺ tidak pernah: ✓Mengadopsi kosmologi non-Islam, ✓Mencampur aqidah, ✓Mengaburkan batas iman dan kufur, atau ✓merelatifkan kebenaran wahyu.
Sabda “antum a’lamu bi umuri dunyakum” bukanlah tiket bebas untuk menjadikan Islam sekadar “sistem terbuka” tanpa pusat nilai. Ia adalah pembagian wilayah otoritas: wahyu mengatur nilai, dunia mengatur teknis. Islam sejak awal sangat modern, justru karena ia tahu batas.
Filsafat Yunani: Disaring, Bukan Dirayakan Tanpa Kritik
Salman tampak terpesona dengan narasi great fusion: Yunani, Persia, India, lalu Islam menjadi besar. Ini narasi lama yang sering diulang tanpa ketelitian epistemik.
Faktanya: Ulama Muslim tidak menelan filsafat Yunani mentah-mentah. Mereka mengislamkan, menyaring, bahkan menundukkan filsafat tersebut di bawah aqidah.
Imam al-Ghazali bukan “menolak metafisika saja” secara ringan, sebagaimana disederhanakan Salman. Ia membongkar fondasi epistemologis filsafat yang bertentangan dengan wahyu. Ia menetapkan bahwa akal punya batas, dan batas itu bernama wahyu.
Ibn Rusyd pun—yang sering diagung-agungkan—tetap beriman dalam kerangka Islam, bukan menjadikan Islam tunduk pada Aristoteles. Ia hakim syariat, bukan profesor relativisme.
Maka problemnya bukan interaksi, melainkan narasi yang keliru: seolah Islam besar karena meminjam, bukan karena punya pusat nilai yang kuat sehingga mampu mengasimilasi tanpa larut.
Busana, Simbol, dan Kekeliruan Fokus
Salman menghabiskan banyak energi membahas: Menara masjid, Sarung, Baju koko, Santri, Arsitektur Nusantara. Namun luput membahas prinsip Islam itu sendiri. Dalam Islam, khususnya soal busana perempuan, prinsipnya sangat terang: ✓Longgar, ✓Tidak transparan, ✓Menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, ✓Tidak tabarruj, ✓Tidak menyerupai pakaian khas non-Muslim
dalam makna identitas.
Model, motif, asal-usul budaya? Itu wilayah sekunder. Tidak perlu diperdebatkan berlebihan seolah itulah jantung Islam.
Mengangkat simbol-simbol ini tanpa menegaskan prinsipnya hanya akan: ✓Membuat muslim awam bingung, ✓Mengira Islam itu cair tanpa batas, ✓Dan perlahan melemahkan kesadaran aqidah dalam keluarga Muslim.
Tauhid: Pusat yang Hilang dalam Tulisan Salman
Yang paling mengkhawatirkan dari tulisan Salman bukan data sejarahnya, melainkan apa yang tidak ia katakan. Nyaris tidak ada penegasan bahwa: ✓Islam berdiri di atas tauhid eksklusif, ✓Iman dan kufur adalah dua entitas yang jelas, ✓Kebenaran wahyu tidak setara dengan produk peradaban manusia.
Allah menciptakan keberadaan non-Muslim bukan untuk diadopsi nilai-nilainya, melainkan agar: ✓Keindahan Islam makin kontras, ✓Rahmat Islam dapat disampaikan, ✓Dakwah berjalan dengan kasih sayang, bukan inferioritas.
Umat Islam bukan ditugaskan menjadi juru bicara peradaban lain, melainkan juru bicara Islam.
Modernitas: Jangan Silau, Islam Sudah Dewasa Sejak Lahir
Modernitas bukan milik Barat. Rasionalitas bukan monopoli Yunani. Kosmopolitanisme bukan produk Eropa. Islam sudah modern sejak turunnya wahyu: ✓Menghapus feodalisme, ✓Menegakkan hukum, ✓Membebaskan budak, ✓Menata ekonomi, ✓Menghargai ilmu, ✓Mengatur relasi sosial lintas etnis.
Maka menjadi ironi ketika intelektual Muslim justru tampak: ✓Silau pada istilah, ✓Terpesona pada label “kosmopolitan”, Lalu tanpa sadar melemahkan kepercayaan diri umat sendiri.
Penutup:
Islam Kaafah Itu Tegas, Bukan Kabur
Islam kaafah bukan Islam yang bingung dengan dirinya sendiri. Bukan Islam yang sibuk menjelaskan yang lain hingga lupa menjelaskan dirinya. Bukan Islam yang meminta maaf atas ketegasannya.
Islam kaafah adalah: ✓Aqidah yang jernih, ✓Tauhid yang tegas, ✓Syariat yang pasti, ✓Akhlak yang lembut, ✓Dan keterbukaan yang beradab, bukan liar.
Kita tidak anti sejarah. Tidak anti budaya. Tidak anti ilmu. Tetapi kita anti kekacauan epistemik yang dibungkus jargon intelektual.
Tugas intelektual Muslim bukan membuat Islam tampak cair agar diterima, melainkan membuat Islam dipahami dengan utuh, tegak, dan indah.
Di situlah letak kemuliaannya.[]

Inisiator Islamic Lombok Forum | Presiden PANGGUNG INSPIRASI BISNIS | CEO Kaffa Business Coach | Penganjur Kemandirian untuk NTB Makmur Mendunia





