Akhir-akhir ini, pertanyaan yang seperti judul di atas semakin banyak terlontar di ruang maya kita. Apa kontribusimu untuk negara atau rencana kontribusimu untuk negara bagaimana. Begitu kira-kira pertanyaan yang terlontar itu. Bagi Anda yang pernah mendaftar beasiswa LPDP, sudah paham betul bagaimana menjawab pertanyaan ini.
Pertanyaan ini mencuat dengan polemik seorang alumni beasiswa berplat merah khas Republik Indonesia ini mengunggah video dirinya dengan menunjukkan paspor anaknya dari Home Office Inggris. Selanjutnya ia mengatakan “cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan”. Pernyataan itulah yang membuat warganet geram, walau menurut saya masih bisa diperdebatkan.
Itu merupakan ekspresi kesyukuran. Di mana, orang tua yang telah lama mengurus dan menunggu dokumen-dokumen yang ditunjukkan itu. Jelas, hal yang dilakukannya telah dipertimbangkan dan dikonsultasikan jauh hari. Oleh karena itu, sikap dan tindakannya untuk menyatakan “pindah kewarganegaraan anaknya” atau “cukup aku saja yang WNI” ialah satu titik gunung es yang telah lama mengendap dan mengakar dalam kehidupan keluarga kecilnya.
Begitulah, sambil memegang anaknya yang masih balita itu, dengan nada tegas ia menyatakan anaknya belum tahu apa-apa dan i know the world seems unfair. Di sinilah bagaimana orang tua menentukan masa depan anaknya dan arah ke mana anaknya yang masih bayi itu bagaimana ke depannya.
Kembali ke soal kontribusi untuk negara. Negara sebesar Indonesia ini jelas tidak bisa kita nafikkan banyak kontribusi dan tangan-tangan dari rakyatnya untuk sampai kita menyebut Indonesia hari ini. Terus bagaimana jika LPDP menanyakan hal serupa? Di sinilah kita mungkin akan mengenyirkan dahi. Padahal konstribusi untuk bangsa dan negara itu banyak sekali dalam bentuk apa pun.
Sebagai orang yang pernah daftar LPDP walaupun tidak lulus sampai tahap akhir. Dengan bangga saya menulis hal-hal remeh dalam kontribusi dan rencana kontribusi untuk negara ini dalam aplikasi beasiswa itu. Tentu yang paling jamak dijawab oleh masyarakat ialah melalui pajak yang kita bayar.
Namun, hal-hal kecil seperti kerja bakti di lingkungan RT, minta sumbangan acara agustusan di kampung, hingga membersihkan masjid di lingkungan itu juga menurut kontribusi kita untuk bangsa dan negara tercinta ini. Ini bukan soal berapa orang yang mendapat manfaat dari hal-hal itu, tapi soal bagaimana kita sebagai manusia dan bagian dari masyarakat urun tangan untuk kegiatan-kegiatan masyarakat bukan.
Ini bukan saja soal membangun komunitaslah, ini dan itu yang seperti tren anak muda hari ini. Yang biasanya kita sebagai koordinator atau pimpinan komunitas itu yang sampai komunitas itu pun bubar masih satu orang itu aja koordiantornya, tidak pernah diganti. Kalaupun diganti biasanya komunitas itu hilang arah dan rimbanya.
Di sinilah kelemahan kontribusi untuk negara yang diformalkan dalam bentuk-bentuk komunitas atau organisasi. Menurut saya yang lebih genuine dan bisa memberi kontribusi yang berhasil ialah dengan melibatkan diri dalam komunitas atau kerja-kerja dalam masyarakat seperti yang saya sebutkan di atas. Itu lebih genuine, tidak bertele-tele dan tentu saja murah meriah, bukan?
Kontribusi itu juga bukan atas dasar kepentingan untuk bangsa atau retorika besar lainnya, tapi memang tugas kemanusiaan kita. Tugas kita sebagai anggota masyarakat, tugas kita sebagai pembayar pajak yang hidup dalam lingkungan sosial manusia. Jujur saja, itulah yang kita perlukan hari ini. Kontribusi yang lebih memanusiakan manusia.
Bukan kontribusi yang baru ngasih seminar, nasi kotak, atau takjil sudah difoto yang menghasilkan ribuan foto yang akhirnya disebar di media sosial tanpa seleksi dan tanpa filter. Karena saya, akhirnya juga merasa tidak etis jika kita memotret penerima bantuan atau masyarakat kurang mampu yang menerima bantuan kemudian disebarkan di media sosial.
Hal ini juga harus menjadi bahan refleksi kita bagaimana cara berkontribusi dan cara kita melakukan hal-hal kecil untuk republik ini. Oleh karena itu, kita tetap bisa mengatakan bahwa si penerima LPDP viral itu tetap berkontribusi untuk bangsa dan negara dengan caranya sendiri dan bermanfaat untuk NKRI.
Terus apakah muncul pertanyaan lanjutan, bagaimana berkontribusi untuk Indonesia, padahal di luar negeri? Pertanyaan laten ini sudah bisa terjawab oleh teknologi dan media sosial yang masif ini. Seperti contohnya, si mbak-mbak penerima LPDP itu membuat konten kehidupannya di luar negeri kemudian netizen dan pengikutnya melihat dan termotivasi untuk berkuliah di luar negeri. Apa itu bukan kontribusi, pembaca?
Konten yang meng-influence hari-hari ini juga lebih baik daripada tampil di depan mimbar dengan suara lantar yang satu orang pun tidak membuat orang tertarik apa apa, selain menantikan berakhirnya si orator berbicara. Apa yang ingin saya katakan? Bahwa ukuran-ukuran kontribusi, pengabdian, nilai sosial, apalagi nasionalisme kian hari telah bergeser dan berubah.
Kita tidak bisa lagi mengatakan si mbak-mbak LPDP itu tidak nasionalis atau tidak cinta tanah air. Sebab, di tengah dunia yang global dan terhubung ini. Nasionalisme ialah internasionalisme juga, bukan? Apa yang bisa kita sumbang dalam dunia internasional yang lebih luas atas nama kemanusiaan seperti di atas. Wacana kosmopolitanisme yang semakin menjejal di kehidupan kita tidak bisa digantikan nasionalisme semu alias cinta tanah air sekaligus ditindas oleh kecintaan itu.
Saya akhiri di sini saja, sebelum ada pernyataan “saya jadi meragukan nasionalisme kalian”. Dan orang hari ini menjawab: nasionalisme, ndasmu!.[]

Alumni Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Founder Komunitas Mbojo Itoe Boekoe




