Moral yang Lahir dari Halaman-Halaman Fiksi

Setelah membaca beberapa Novel (tentunya tidak banyak) saya belajar banyak hal yang terkandung dalam halaman-halaman fiksi yang mendalam dan menyentuh emosional saya sebagai manusia – yang selama ini saya anggap masih nihil empati. Membaca novel bukan hanya hiburan, tetapi ia hadir dalam lembaran-lembaran yang memberikan dampak nyata bagi kehidupan. Pada setiap halaman-halamanya ditunjukkan proses yang jauh sehingga dapat melatih imajinasi pembaca. Setiap halaman mengajak pembaca untuk ikut serta merasakan penderitaan, kebahagian, hingga kecemasan dari tokoh-tokoh di dalam novel yang dibaca.

Melalui imajinasi tersebut, pembaca memasuki kehidupan lain dan menikmati serta merasakan dunia dalam sudut pandang yang berbeda. Tanpa disadari, pada saat imajinasi bekerja akan membentuk suatu esensi moral yang lebih mendalam untuk si pembaca. Maka dari itu, tulisan ini akan membahas moral yang lahir dari imajinasi melalui novel-novel yang dibaca.

Di tengah algoritma dunia yang pragmatis, membaca novel sering dianggap sebagai kegiatan sampingan dan bahkan masih banyak yang menganggap bahwa membaca novel bagian dari kegiatan yang tidak produktif. Mahasiswa-mahasiswa idealis yang sering saya temui biasanya selalu menganggap bahwa membaca novel sama saja menyianyiakan waktu untuk membaca sesuatu yang lebih penting. Pernyataan tersebut, tentu berangkat dari pemikiran yang subjektif dan bias karena tidak berdasarkan fakta dan logika.

Moral seringkali diketahui sebagai aturan yang selalu diajarkan dalam situasi yang formal. Apa yang baik dan apa yang salah. Namun seiring berkembangnya peradaban manusia, persoalan moral tidak sesederhana itu, dunia bukan hanya hitam dan putih, justru dipenuhi oleh situasi yang abu-abu, seperti menuntut pertimbangan, empati, dan kesadaran kolektif manusia. Oleh karenanya, novel bisa menjadi salah satu senjata dalam mengatasi hal yang demikian.

Dengan membaca novel pembaca tidak hanya mengikuti alur cerita dari penulis, tetapi novel menjadi proses imajinatif yang menyentuh hati mungil manusia (meminjam istilah Yusuf) sebagai pembaca. Pada saat membaca si pembaca akan merasakan penderitaan dari tokoh dalam novel, kebahagiaanya, dan memahami pilihan-pilihannya. Pada proses inilah imajinasi mulai berperan dan menjadi kemampuan untuk membayangkan perasaan yang bukan miliknya. Proses ini tentu bukan hanya khayalan kosong semata.

Salah satu mahasiswa UIN Sunan Kalijaga – namanya Bai, ia mahasiswa Filsafat tapi lebih gemar membaca novel daripada buku-buku filsafat yang terkesan berat, bagi saya ia lihai dalam menarasikan sesuatu. Setelah saya bertanya, bagaimana cara menulis yang bagus, ia menjawab “banyak-banyak membaca novel”. Jadi, membaca novel bukan hanya sekedar membentuk moral pada kehidupan manusia, tapi meningkatkan daya pikir yang lebih bijaksana dan kritis sehingga dapat melahirkan narasi yang tepat dan terarah. Ketika mulai mengenal si Bai lebih dalam, akhirnya saya lebih suka dan sering membaca novel (bukan berarti buku-buku jenis lain tidak penting).

Agar tidak terlalu banyak basa-basi dalam tulisan ini, saya akan merumuskan bagian-bagian penting dari beberapa novel yang saya baca. Seperti novel “The Plague” karya Albert Camus. Dalam novel tersebut singkatnya adalah membahas wabah pes yang menyerang warga Prancis dengan tokoh utamanya Dokter Rieux. Yang menarik dari novel ini Camus menjadikan tokoh utama sebagai representasi dari “eksintesialisme”. Awal mula adanya wabah ini dari tikus-tikus yang berkeliaran di berbagai daerah yang ada di Negara Prancis, dan virus tersebut akhirnya menyerang manusia, dan dikenal sebagai wabah pes. Seiring berjalannya waktu wabah menjadi ancaman yang besar bagi warga negara Prancis, karena cara kerjanya adalah melalui penularan dari orang ke orang. Dari sini lah pembaca akan belajar mengenai moral dari tokoh yang peduli atas penderitaan orang lain.

Dokter Rieux, sosok yang bertanggung jawab atas profesinya sebagai dokter, tidak ada keinginan untuk mengabaikan wabah tersebut – ia selalu memikirkan bagaimana keselamatan kolektif dan melawan wabah pes. Dari tokoh utama novel ini, pembaca akan mempelajari satu hal yang akan mempegaruhi moralnya sebagai manusia, bahwa masih banyak manusia-manusia yang cenderung egois untuk memikirkan keselamatan kolektif (termasuk pemerintah), representasi dari tokoh utama pada novel tersebut menjadi landasan moral bahwa dalam kehidupan sosial kita sebagai manusia akan membutuhkan makhluk sosial lainnya.

Pada novel tersebut, Camus tidak menawarkan tokoh heroik dengan kemampuan yang sempurna dan kemenangan yang gemilang – ia justru menampilkan manusia-manusia biasa yang harus bijak dalam mengambil keputusan di tengah situasi yang absurd karena wabah menyerang manusia tidak ada pandang bulu, kota-kota terisolasi, dan harapan-harapan manusia terus dipatahkan hari demi harinya.

Novel selanjutnya adalah “Babel’ karya R.F Kuang. Jika tadinya wabah berbicara terkait situasi yang absurd, maka babel berbicara tentang moral dalam ketimpangan kuasa. Novel ini juga menjadi dimensi moral yang lebih politis dan struktural. Pengalaman dalam membaca novel ini justru lebih relate dengan situasi sekarang. Ralasi kuasa menjadi senjata utama untuk menindas manusia-manusia yang lemah. Melalui karakter utamanya Robin yang berasal dari Kanton, lalu diadopsi oleh Profesor Lovel – Profesor dari Universitas Oxford. Singkatnya Lovel menjadikan Robin sebagai anak angkatnya. Setelah menginjak usia remaja ia dikuliahkan di Jurusan Bahasa yang disebut sebagai “Babel”. Babel menjadi pusat perhatian pada saat itu, karena ia melahirkan generasi-generasi baru yang tentu fasih dalam berbagai bahasa. Ternyata program tersebut menjadi senjata bagi Imperium Inggris untuk menjajah negara-negara lain, melalui mahasiswa-mahasiswa yang fasih dalam dua sampai tiga bahasa. Contohnya adalah Robin yang dijadikan alat untuk menjajah Kanton.

Tetapi Robin akhirnya sadar niat jahat dari Babel, ia bangkit dan melawan agar tidak ada peperangan, dan penindasan di dunia ini. Ia mengorbankan banyak hal hanya untuk melawan relasi kuasa yang ingin dibentuk dengan skala yang luas oleh Imperium Inggris. Dari novel tersebut, pembaca menyadari bahwa moral tidak akan pernah berdiri pada ruang yang hampa. Pengalaman dalam membaca babel melatih imajinasi untuk melihat bahwa kalau manusia hanya memutuskan untuk bersikap netral pada kekerasan dan penindasan berarti ikut mempertahankan sistem tersebut.

Untuk lebih jelas dan terarah, alangkan baiknya membaca novel-novel tersebut dan novel-novel lainnya (gak usah malas). Dari kedua novel yang dijelaskan memberikan sebuah pandangan bahwa; melalui karya Camus wabah tidak bertumpu pada hukum atau ideoogi, tetapi pada sikap manusia yang menghadapi absurditas hidup – dalam arti tidak bertindak berarti menyerah pada ketidakmanusiaan. Sedangkan melalui Kuang, Babel memberikan landasan moral dalam sistem kekuasaan, dengan mempertanyakan “apakah tetap menjadi orang baik dalam sistem jahat itu bermoral? Maka dari itu, Kuang ingin pembaca untuk berpihak pada ketidakadilan dan penindasan (moral kemanusiaan).

Pemerintah Indonesia sebaiknya lebih banyak membaca novel agar menjadi pemerintah yang bermoral dan membentuk sistem yang adil untuk seluruh masyarakat Indonesia (sebenarnya tulisan ini tertuju pada pemerintah yang tidak bermoral). Mengapa? Karena banyak tindakan-tindakan dan kesalahan dalam mengambil keputusan yang tentunya merugikan masyarakat banyak. Karlina Supelli salah satu filsuf Wanita Indonesia ketika ditanya oleh salah satu content crator dengan pertanyaan “buku apa yang wajib dibaca oleh banyak orang” – ia menjawab sering-sering membaca novel, karena melalui novel imajinasi kita sebagai manusia meningkat. Lalu banyak pernyataan dari beberapa literatur dan pernyataan tokoh-tokoh publik bahwa memang membaca novel dapat meningkatkan imajinasi sebagai manusa, dan imajinasi inilah yang membentuk moral manusia. Pemerintah yang terus berulang membuat kesalahan bukan lagi karena persolan teknis, tetapi ada kecacatan berpikir dalam memandang manusia. Pada situasi ini sastra membantu untuk membaca pola yang lebih dalam lagi. Perihal tersebut menunjukkan kegagalan moral yang mendalam, dan kegagalan dalam membayangkan penderitaan manusia akibat tangan dan cara mereka yang terkesan elegan dari luar namun busuk di dalam.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *