Buku “Melawat Ke Asia” karya Priyambudi Sulistyanto merupakan catatan lawatan yang dilakukan oleh penulis pada negara-negara yang termasuk di Kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan, dan kaki Pegunungan Himalaya, serta Tiongkok Selatan dari tahun 1988 sampai 2025. Buku ini menceritakan mengenai pengamatan penulis dan refleksi selama perjalanan penulis.
Pada ulasan ini, saya tidak akan menjelaskan semua terkait negara-negara yang dikunjungi oleh penulis, karena banyak sekali negara yang dikunjungi olehnya, saya sarankan untuk langsung membaca buku tersebut.
Dalam penulisan buku “Melawat Ke Asia” penulis termotivasi atas karya Tan Malaka yang berjudul “Dari Penjara ke Penjara”. Melalui buku “Dari Penjara ke Penjara”, Priyambudi menikmati perjalanan Tan Malaka, baik dalam keadaan suka maupun duka. Pada saat membaca buku Tan Malaka tersebut, Priyambudi ikut merasakan dan juga berempati yang mendalam terhadap lawatan dari darat dan laut yang dilakukan oleh Tan Malaka. Ketika membaca buku tersebut, Priyambudi membayangkan kalau suatu saat nanti ia juga akan mengunjungi negara-negara yang juga dikunjungi oleh Tan Malaka, impian ini ia rasakan ketika ia masih muda di Yogyakarta.
Pada akhirnya, buku “Melawat Ke Asia” bukan hanya sekadar buku cerita perjalanan seorang penulis, ia menceritakan kunjungan pada setiap wisata, kuliner, dinamika sosial, politik, dan bahkan ekonomi di negara-negara yang menjadi tujuannya. Pada bukunya, Priyambudi memandang Asia melalui pengalaman, perjumpaan dengan manusia, serta peristiwa kecil yang seringkali tidak diperhatikan oleh banyak orang bahkan pemerintah yang mengatur struktur negara.
Bagi Priyambudi, Asia bukanlah sebuah entitas politik global semata, tetapi sebagai wilayah yang selalu berdenyut, seperti obrolan ringan dan santai di pasar, percakapan orang-orang asing yang menikmati liburan mereka, bahkan keganjilan-keganjilan sosial yang terlihat biasa saja, namun menyisihkan cerita-cerita panjang mengenai kekuasaan yang tidak adil, sejarah, dan relasi antarmanusia.
Menariknya adalah, buku ini tidak hanya menceritakan lawatan seorang penulis, tetapi menjelaskan sejarah-sejarah singkat dari setiap negara yang ia kunjungi. Oleh karenanya, pembaca tidak hanya menikmati perjalanan penulis semata, melainkan juga mengetahui sejarah dari negara-negara yang dikunjungi oleh Priyambudi. Seperti yang tertera pada BAB I halaman 6-7, ia menjelaskan secara singkat mengenai sejarah dari Kota Chiang Mai yang menjadi bagian dari Kerajaan Muangthai, serta dinamika politik dengan pihak Inggris di abad-18 hingga abad-19. Melalui sejarah-sejarah yang hingga sekarang menjadi konstruksi sosial dalam kehidupan masyarakat seperti gaya arsitektur dari bangunan-bangunan, kuliner, bahasa, tarian, dan musik tradisional.
Pembahasan dalam buku Priyambudi sesuai dengan bidang yang ia tekuni, ia dikenal sebagai antropolog politik dan akademisi. Melawat Ke Asia adalah bagian dari penelitian komparatif penulis mengenai politik di Indonesia, Myanmar, dan Thailand termasuk dampak krisis ekonomi dan perubahan politik pada negara-negara tersebut. Perjalanannya merepresentasikan pada bidang yang ia tekuni, agar dapat melihat dan mengajak pembaca untuk melintasi politik dan ekonomi dari berbagai negara yang ia kunjungi.
Maka dari itu, pembaca akan mengetahui bagaimana kerajaan-kerajaan di Asia saling berpengaruh satu sama lain dalam segi kebudayaan yang selama ini diterapkan oleh masyarakat-masyarakat di berbagai negara Asia, khususnya Asia Tenggara.
Pada buku ini Priyambudi sedikit menyentuh situasi ekonomi di tahun 1997 yang dialami oleh Indonesia akibat dari kekuasaan Soeharto, dan membentuk dinasti politiknya sehingga yang berkuasa dan mengatur algoritma ekonomi pada saat itu hanya keluarga-keluarga Soeharto semata. Pada permasalahan ini Priyambudi melihat kemarahan masyarakat yang terkena dampak dari otoritas yang dibangun oleh Soeharto yang menjadikan masyarakat yang miskin akan tetap miskin dan yang kaya hanya keluarga Soeharto saja. Dengan demikian, perjalanan penulis lebih pada refleksinya terhadap dinamika yang merugikan masyarakat khususnya pada saat ia mengunjungi Kota Jakarta.
Lalu beralih pada Sri Lanka, Priyambudi diundang oleh organisasi pengungsi di Bangkok untuk mengunjungi Sri Lanka dan India dengan tujuan mengunjungi beberapa tempat penampungan pengungsi dari etnis minoritas Tamil. Pada bagian ini ia menceritakan konflik antara pemerintah Sri Lanka dengan pasukan bersenjata etnis minoritas Tamil yang bermula pada tahun 1980 yang memakan banyak korban, terutama ibu-ibu dan anak-anak. Permasalahan dan perjalanannya di Sri Lanka menjadikan Priyambudi sebagai manusia yang berintegritas, karena tujuan dari rombongan secara tidak langsung adalah untuk melihat bagaimana konflik yang terjadi, dan memberikan penawaran solusi yang adil untuk kedua belah pihak dalam menyelesaikan konflik. Perjalanannya bukan hanya liburan semata, tetapi melihat situasi, mempelajari, dan melahirkan ide-ide besar untuk kehidupan yang lebih tenteram lagi.
Melalui perjalanan Priyambudi, saya percaya bahwa penerapan teori Interaksionisme Simbolik dari Herbert Blumer dan Herbert Mead menjadi penting untuk melihat permasalahan sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia. Perang, akulturasi budaya, kesamaan kuliner antar negara, dan bahkan watak manusia adalah hasil dari interaksi yang berjalan dari hari ke hari. Melalui barang, makanan, dan kebiasaan menjadi bukti bahwa manusia Asia Tenggara saling berhubungan satu sama lain.
Yang jadi pertanyaan saya adalah, sejauh mana melawat dapat melawan orientalisme barat yang selama ini dirasakan oleh negara-negara Asia, terkhusus Asia Tenggara?. Pertanyaan ini saya lemparkan pada penulis langsung pada saat bedah buku di Komunitas Selaras. Priyambudi pada saat itu tidak sama sekali menjawab pertanyaan saya, ia hanya menjelaskan ulang bagaimana perjalanan dan kuliner dari negara-negara yang ia kunjungi. Namun, setelah saya membaca buku ini bahwa melawat sebenarnya dapat melawan praktik-praktik orientalisme barat yang selama ini justru melahirkan kesenjangan sosial antar manusia. Perjalanan yang ia sebut melawat itu justru dapat melahirkan ide-ide besar, kerja sama antar pemuda dan aktivis di negara-negara Asia untuk mempertahankan identitas mereka.
Oleh karenanya, buku ini dengan bahasa yang ringan memberikan sudut pandang baru terhadap pembaca bahwa Asia dipenuhi oleh negara-negara yang sebenarnya mampu melawan orientalisme barat. Karena orientalisme bukan barat memahami negara bagian timur, tetapi justru untuk menjajah negara-negara bagian timur. Definisi memahami adalah pembodohan yang ter-konstruksi pada negara-negara bagian timur, dan Asia menjadi korban dari pembodohan yang dijalankan oleh barat.
Mengapa saya berani berargumen demikian, karena saya menyesuaikan dengan teks dalam buku “Melawat Ke Asia” yang memang fokusnya bukan hanya pada perjalanan, tetapi ada refleksi yang mendalam dari penulis agar pembaca juga termotivasi untuk lebih kritis lagi melawan penjajahan yang berlangsung bahkan hingga sekarang. Modal-modal yang dimiliki oleh negara-negara Asia juga mendukung untuk melawan penjajahan yang berlangsung, mulai dari sumber daya alam, budaya, identitas, keberanian, dan daya kritis. Multikulturalisme yang juga dibahas oleh penulis di halaman 177 membuktikan bahwasannya manusia-manusia Asia Tenggara harusnya bisa bersatu demi kemajuan bersama (tanpa ada sentuhan politik timbal balik atau untung-untungan dari pejabat gendut yang ada di setiap istana-istana negara).
Petualangan yang mempertemukan ia dengan kolega-kolega aktivis, intelektual, dan akademisi yang berada di negara-negara Asia juga menjadi bukti bahwa perjalanannya akan melahirkan ide-ide besar, mungkin tidak berlaku untuk sekarang, bisa saja berlaku untuk generasi-generasi muda selanjutnya yang menjadikan perjalanan ini sebagai landasan utama untuk menjadi pemuda yang peka dengan dinamika politik yang terus-menerus menciptakan konstruksi sosial yang tidak adil.
Selain orientalisme, buku Priyambudi juga menyinggung soal pergerakan militer yang dikendalikan oleh negara untuk membasmi mereka yang tidak sepakat dengan keputusan penguasa negara. Dengan tindakan kriminal yang dilakukan oleh militer terhadap mahasiswa yang menyuarakan terkait penerapan demokrasi yang adil bagi rakyat sipil, alih-alih mendengarkan justru mereka yang bersuara diserang oleh militer yang mengakibatkan banyak mahasiswa yang meninggal. Permasalahan ini disinggung pada halaman 9-11. Dengan demikian, kita bisa melihat bahwasannya Indonesia sampai saat ini masih menerapkan tindakan-tindakan kriminal dari pihak militer yang tentu atas suruhan penguasa. Demokrasi hanya diatur oleh mereka yang merasa memiliki otoritas yang lebih tinggi dari pada rakyat sipil, sehingga mereka menciptakan hierarki antara penguasa dengan rakyat. Dengan dibahas isu yang demikian, maka saya melihat bahwa permasalahan pada negara-negara Asia juga tidak jauh berbeda. Semua masalah yang ada hanya karena kepentingan dan kekuasaan.
Dari pembahasan buku Priyambudi dan realitas sosial di dalamnya, saya teringat pernyataan Nicolo Machiaveli dalam bukunya “IL Principe”, dalam buku tersebut ia mengatakan bahwa untuk mempertahankan kekuasaan dalam waktu yang lama dan bahkan selama-lamanya adalah memperkuat militer dari negara tersebut, dengan kekuatan yang demikian penguasa akan lebih mudah mengatur, menjajah, menindas, dan merampas, bukan hanya pada bangsa lain, tetapi pada bangsanya sendiri.
Pada buku Melawat ke Asia, Priyambudi mengajak pembaca untuk ikut meratapi bagaimana perjuangan rakyat sipil dan mahasiswa untuk melawan pihak monarki dan militer agar tetap menjaga kestabilan dan integritas negaranya. Priyambudi menceritakan pada bukunya bahwa untuk menjaga kestabilan negara kendaraan utamanya ada pada mahasiswa. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa generasi bangsa berdiri paling depan untuk menjadi simbol perlawanan ketika pemimpin sudah lupa dengan kata “adil” dalam memimpin sebuah negara.
Gagasan tersebut selaras dengan gagasan Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam bukunya “Bagaimana Demokrasi Mati”, pada buku tersebut menjalaskan bahwa pagar demokrasi harus dijaga sebaik dan semaksimal mungkin untuk melawan pemimpin-pemimpin yang otoritar. Penjaga demokrasi ini bukan konstitusi, tetapi rakyat dan mahasiswa sebagai penjaga gerbang tersebut, agar cara-cara kotor tidak mudah untuk menembus gerbang yang ditutup rapat dengan pikiran yang waras. Dengan isu demikian, Indonesia semakin lemah, pemikir-pemikir dan pengamat politik sudah mulai ikut arus dengan permainan pemerintah yang membuat mereka semakin hari semakin menciut.
Maka dari itu, saya harap kita sebagai generasi muda tetap bertahan dengan pemikiran yang waras untuk tetap menjaga negara bahkan merubah sistem yang sudah di obrak-abrik oleh mereka yang tidak punya gagasan kuat dalam pembentukan kebijakan (tidak ada yang tidak mungkin, semua bisa dilawan; begitu kira-kira prinsip Soe Hook Gie).
Maka dari itu, buku Priyambudi menjadi salah satu buku yang bisa dijadikan landasan berpikir untuk menjadi bahan refleksi dan bergerak melawan ketidakadilan dan ketertindasan yang dibentuk “dengan sengaja” oleh birokrat gendut di negeri ini.
Dan yang paling penting adalah, dengan membaca buku ini saya pribadi yang tidak pernah langsung berkunjung pada negara-negara yang dikunjungi oleh penulis menjadi sedikit lebih tahu gambaran-gambaran yang ada pada negara tersebut. Saya menyebutnya berjalan-jalan hanya dengan membaca.
Sekadar memberi tahu, pada ulasan ini saya tidak menjelaskan terkait wisata-wisata yang dikunjungi oleh Priyambudi, dan makanan-makanan yang dicicipi olehnya pada masing-masing negara. Bukan karena tidak penting, melainkan ada aspek-aspek yang menurut saya lebih layak untuk saya singgung dalam ulasan ini. Mengingat Indonesia sekarang sedang mengalami masalah-masalah politik yang lebih banyak merugikan rakyat. Jika pembaca lebih tertarik dengan kuliner dan wisata yang ada di negara-negara Asia maka harus membaca buku ini dan mengimajinasikan indahnya wisata dan nikmatnya kuliner yang ada di negara-negara Asia.
Dengan ulasan yang penuh kekurangan ini, saya harap dapat membuka mata dan pikiran bagi pembaca yang membaca ulasan ini agar dapat menjadi manusia yang terus haus akan ilmu dan menjadikan buku sebagai teman. Generasi yang baik adalah generasi yang selalu mencari tahu banyak hal, sehingga menjadikan mereka sebagai generasi yang kritis dan peka pada isu-isu sosial dan politik.

Lulusan S1 Pengembangan Masyarakat Islam di Universitas Islam Negeri Mataram. Sekarang sedang melanjutkan S2 di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta



