Elizabeth Gilbert dalam bukunya Eat, Pray, Love (2006) melakukan perjalanan di tiga negara Italia, India, dan Indonesia sebagai usaha penyembuhan atas depresi yang dialaminya dalam hidup. Eat, yang bisa dimaknai sebagai makanan, kesenangan dunia, dan gemerlap mode pakaian ia temukan di Italia. Di India, penulis Amerika tersebut, menyelami kedalaman spiritual. Terakhir, di Indonesia, ia menemukan cinta. Cinta dalam artian sebenarnya sebagai seorang manusia.
Kisah di atas, menggambarkan bagaimana hubungan tiga elemen dalam hidup – untuk tidak mengatakannya kebudayaan – sebagai pembentuk kesadaran akan arti penting menjadi manusia. Namun, dalam unsur kebudayaan yang mafhum kita pahami, bahwa makanan, religiusitas, dan cinta merupakan sebaran dari unsur sistem pencaharian, sistem religi, dan sistem kekerabatan. Oleh karena itu, bisa jadi, pertautan sistem kebudayaan ini, jamak ditemukan dalam kebudayaan manusia di mana pun di dunia ini.
Mari, sejenak kita tengok geliat kebudayaan masyarakat Bima, ujung Pulau Sumbawa, tetangga dari Pulau Lombok, yang kebetulan tempat di mana Elizabeth Gilbert menemukan love dalam bukunya itu.
Makanan sebagai Identitas
Dalam masyarakat Bima, makanan merupakan salah satu unsur penting dalam ritual keagamaan. Hal ini, ditandai dengan beragamanya hasil olahan makanan sebagai kudapan maupun sesajen dalam ritus-ritus keagamaan. Salah satu di antaranya ialah oha mina. Dalam tradisi masyarakat Bima, oha mina, memiliki signifikansi khusus sebagai kudapan yang menemani ritus-ritus keagamaan masyarakat Bima. Oha mina hadir bukan hanya sebagai pelengkap, namun, penanda yang menentukan diselenggarakannya sebuah acara keagamaan.
Untuk menyambut bulan suci Ramadan, masyarakat Bima terbiasa untuk melaksanakan doa wura bola. Doa yang diselenggarakan pada bulan Sya’ban dalam kalender Islam ini dipercayai sebagai arena penyucian jiwa sebelum melaksanakan ibadah pada bulan Ramadan. Dalam doa wura bola tersebut, oha mina menjadi kudapan wajib untuk disuguhkan kepada peserta doa beserta dengan kudapan dan buah-buah lain sebagai jangko.
Konstruksi identitas yang dibangun dalam oha mina ialah konstruksi masyarakat agraris. Sebab, dalam pembuatan oha mina hasil-hasil produksi pertanian banyak digunakan. Pengamatan penulis, tidak ditemukan olahan dari masakan laut dalam pembuatan oha mina. Misalnya, beras ketan, bawang merah, cabai, lengkuas, kelapa, kunyit, sereh, jeruk nipis, garam, dan asam. Semua bahan ini merupakan produk dari pertanian yang dikenal sebagai budaya masyarakat agraris.
Dari konstruksi ini, bisa kita uraikan bahwa masyarakat Bima memiliki kepekaan dalam solidaritas sosial seperti umumnya masyarakat agraris. Kolektivisme ini juga tercermin dari solidaritas yang dibangun atas nama rasa persaudaraan sebagai sesama muslim. Oleh karena itu, dalam berbagai kesempatan doa wura bola, masyarakat secara bersama menghadiri hajatan doa wura bola dari satu keluarga ke keluarga yang lain. Dari satu rumah ke rumah yang lain.
Dari aktivitas ini, selain sebagai penanda identitas, masyarakat juga memiliki ruang untuk terciptanya komunikasi. Selain itu, kohesi sosial juga terjadi, sebab, setelah doa wura bola terjadi masyarakat berbincang dan bertukar informasi tentang apa saja terkait dengan kehidupan sosial. Jadi, dengan adanya doa wura bola dan oha mina terkonstruksi sebuah masyarakat agraris dengan kolektivisme sebagai basis kehidupan sosial.
Basis Religiusitas
Sebagai bagian dari ritual masyarakat muslim, pesan keagamaan selalu terkontruksi dalam proses pembuatannya. Masyarakat Bima percaya bahwa oha mina merupakan makanan yang disukai oleh Nabi Muhammad saw, Fatimah, dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Penyebutan nama ketiga orang tersebut biasanya dalam satu doa dan terdapat juga penyebutan satu orang saja. Hal ini, menurut saya, sebagai legitimasi atas ajaran Islam yang menghormati nama ketiga tokoh ini. Nama ketiganya disebutkan hampir di setiap doa dalam permulaan pembuatan oha mina.
Misalnya dalam doa ini: “Bismillahissaafi bismillahilkafi bismillahilmaafii bismillahilladzii la yadurru maasmin syaiin fil ardy wa huwa samiun alim wa laa hau laa wa laa kuwwataa illaa billa hil aliyyul adziim. Qul habunallahu wani’mal wakiil ni’mal maulaa wani’mannasiir wa laa hau la awa laa kuwwataa illaa billa hil aliyyul adziim. Setelah itu, yang memimpin proses pembuatan oha mina tersebut harus menyebut “Nabi Muhammad saw, Fatimah, Sayidina Ali”
Atau dalam doa ini: “Audzubillaiminasyathanirrajim. Bismillaahirrahmanirrahim. Asyhadu allailahaillallah wa asyhadu annamuhammadarrasulullah. Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad. Ma Indakum Yanfadu Wa Ma Inda Allahi Baqin”.
Melalui doa-doa di atas, seorang perempuan (dou manggahi) yang membuat oha mina diharuskan dalam keadaan suci dan diutamakan yang telah menopause. Jika oha mina tersebut disentuh oleh orang yang tidak dalam keadaan bersuci dipercayai rasa yang dihasilakan tidak enak dan keawetan oha mina tidak akan betahan lama.
Keyakinan seperti ini, selain sebagai usaha untuk mengimplementasikan visi religiusitas, juga untuk menjaga kesakralan dari oha mina. Sakralitas ini penting dalam tradisi keagamaan mana pun terlebih dalam masyarakat agraris. Karena basis legitimasi yang dibangun juga akan menentukan status sosial seseorang.
Cinta dan Representasi Manusia
Ekspresi cinta dalam oha mina direpresentasikan sebagai embrio manusia. Bagaimana unsur-unsur dalam oha mina merepresentasikan kemanusiaan sempurna yang terdiri dari kepala, tangan, mata dan organ-organ tubuh lainnya. Jelas, ini ialah ekspresi cinta paling tinggi manusia, bukan?
Kenyataan ini, saya dapatkan dalam sepenggal doa yang disebut oleh informan saya ketika mewawancarainya. Ia adalah seorang perempuan paru baya yang biasanya dipanggil oleh orang-orang di kampungnya untuk membuat oha mina. Biasanya ia dipanggil Wai Tamu. Nama aslinya Fatimah. Tidak seperti doa-doa dalam pembuatan oha mina di atas yang disebutkan banyak memakai bahasa Arab. Sebaliknya, Wai Tamu, sebagaimana ia jelaskan, doanya memakai bahasa Bima.
“Bismillahiraahmanirrahim. Siti Hawaku ma samona kai oi maulhaya. Fatimaku ma salungana. Umi Sulaimanku ma mancango rampana. La Hadijahku mancambuna. Niu tuta, kepala iti tuta, saha isi mada, cengke de rima, lau de hi’i, pataha mpori de kau’a, ra’a de huni. Asyhadu allailahaillallah wa asyhadu annamuhammadarrasulullah (tiga kali). Bintia Rasulullah gantia Rasulullah. Doro Arafah Nabi Ismail ma doho ese wawo doro. Songko Arami ndai Muhammad Rasulullah”
Menurut keterangan ini bahwa oha mina merupakan perwujudan dari sosok manusia. Dalam artian, bahwa manusia yang dimaksud ialah manusia baru yang suci pada bulan sya’ban sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Hal ini merujuk pada lafaz doa yang dimulai dengan bacaan basmallah yang dilanjutkan dengan menyebut nama Siti Hawa yang bertindak sebagai pencuci beras ketan dalam oha mina menggunakan air kehidupan. Rujukan pada nama Siti Hawa ini merupakan ibu dari nenek moyang manusia, sumber kehidupan bermula.
Selain itu, Fatimah (putri Nabi Muhammad saw) bertindak sebagai tokoh yang menanak ketan dan Umi Sulaiman yang bertindak sebagai penggoreng rempah-rempah untuk membuat oha mina dan Hadijah (Siti Hadijah) yang mencampur ketan dan rempah-rempah dalam membuat oha mina. Menurut peneliti, rujukan untuk nama-nama ini merupakan kesaksian bahwa orang-orang di sekeliling Rasulullah dan orang-orang terdahulu juga membuat oha mina.
Misalnya, kelapa diartikan sebagai kepala. Di dalam kepala tersebut memiliki otak dan organ lain sebagai inti kepala. Adapun cabai sebagai dua bola mata, cengkeh sebagai tangan, lengkuas berarti daging, serai melambangkan urat, dan kunyit berarti darah. Makna-makna ini merupakan representasi manusia baru yang suci dalam mengarungi bulan Sya’ban, Ramadan, dan Syawal.
Doa tersebut dilanjutkan dengan syahadat dan menyebut anak dan pengikut Rasulullah. Penegasan tersebut bermakna persaksian bahwa oha mina ini merupakan bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah dan Rasulullah yang diperuntukkan untuk pengikut dan umat Rasulullah. Selain itu, dalam doa versi Wai Tamu ini, disebutkan bahwa Nabi Ismail yang duduk di puncak Gunung Arafah dan Rasulullah yang menjadi pelindung dan menaungi semuanya. Doa ini berarti bahwa kepada Rasulullah juga oha mina ini dibuat dan manusia yang paling agung ialah Rasulullah.
Ekspresi-ekspresi ini merupakan bagian tidak terpisahkan dari hidup dan berkembangnya penghayatan kebudayaan sebuah masyarakat. Dengan demikian, dalam setumpuk oha mina yang dihidangkan dalam beragam doa-doa pada masyarakat Bima, tercermin kedalaman ekspresi bahwa masyarakat Bima sangat religius.[]

Alumni Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Founder Komunitas Mbojo Itoe Boekoe





