Dalam salah satu hadis Rasulullah SAW pernah menasihati seorang anak kecil, "Wahai anak kecil, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang berada di dekatmu." (HR. Bukhari dan Muslim).
Sekilas hadis ini tampak sederhana. Ia berbicara tentang etika makan di meja hidangan. Namun sebagaimana banyak sabda Rasulullah SAW yang lain, di balik kesederhanaan kalimatnya, tersimpan nilai-nilai kehidupan yang sangat mendalam. Hadis ini sesungguhnya mengajarkan tentang adab, penghormatan kepada orang lain, dan pengendalian diri.
Apabila kita tarik ke dalam kehidupan modern, potongan hadis “dan makanlah dari makanan yang berada di dekatmu" dapat menjadi pesan moral sekaligus cermin untuk melihat berbagai persoalan sosial yang sedang kita hadapi. Barangkali salah satu penyakit terbesar manusia hari ini bukanlah kemiskinan, melainkan ketidakmampuan menikmati apa yang dekat dengan dirinya (yang sudah dimiliki).
Kita hidup di zaman ketika mata lebih sibuk melihat piring orang lain daripada mensyukuri makanan yang telah Allah letakkan di hadapan kita. Media sosial memperlihatkan kemewahan, jabatan, bisnis, rumah, mobil, dan gaya hidup yang berakibat banyak orang merasa kehilangan kenikmatan atas rezeki yang sebenarnya sudah cukup.
Padahal apabila kita mengambil hikmah dari sabda Nabi SAW tersebut, seakan-akan beliau sedang berpesan, "Nikmatilah rezeki yang Allah dekatkan kepadamu. Jangan sibuk mengincar bagian yang Allah berikan kepada orang lain." Demikian juga dengan firman Allah yang senada: "Dan janganlah kamu menginginkan apa yang telah Allah lebihkan kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain." (QS. An-Nisa': 32).
Ayat dan hadis di atas bukan melarang seseorang memperoleh kehidupan yang lebih baik, malah justru Islam mendorong umatnya untuk bekerja keras. Namun ayat dan hadis tersebut mengingatkan agar keinginan tidak berubah menjadi iri hati, keserakahan, atau keinginan mengambil hak orang lain.
Betapa banyak orang yang sebenarnya memiliki pekerjaan yang baik, penghasilan layak, rizki yang halal, dan keluarga yang cukup, tetapi tetap merasa miskin karena hatinya selalu membandingkan diri dengan orang lain.
Pelajaran lain dari potongan hadis nabi SAW "makanlah dari makanan yang berada di dekatmu" adalah nikmatilah buah dari hasil jerih payahmu sendiri. Tidak ada makanan yang lebih lezat daripada hasil usaha yang halal. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada makanan yang diperoleh dari hasil kerja tangannya sendiri." (HR. Bukhari).
Hadis ini mengangkat martabat setiap pekerjaan yang halal; Seorang petani yang makan dari hasil sawahnya, guru yang hidup dari gaji yang diperolehnya dari mengajar, pedagang dan pejabat yang sukses karena jujur, buruh menerima upah dari bekerja dengan keringatnya, semuanya sedang menikmati makanan yang dekat dengan dirinya.
Sebaliknya, makanan yang berasal dari korupsi, manipulasi, penipuan, suap, atau merampas hak orang lain mungkin tampak mewah di meja makan, tetapi sesungguhnya kehilangan keberkahan. Ia memang mengenyangkan perut, tetapi mengosongkan hati. Ia memperbesar rumah, tetapi mempersempit jalan menuju ridha Allah.
Di negeri yang kaya sumber daya seperti negeri kita Indonesia, ironi terbesar bukanlah kurangnya kekayaan, tetapi banyaknya tangan yang ingin mengambil makanan dari "piring" orang lain. Korupsi menjadi contoh nyata ketika seseorang tidak lagi puas dengan makanan yang berada di dekatnya. Gaji yang besar tidak cukup. Jabatan yang tinggi tidak cukup. Fasilitas yang lengkap tidak cukup. Yang diinginkan adalah milik orang lain dan mengambil amanah yang bukan haknya.
Allah mengingatkan dalam firman-Nya: "Janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil." (QS. Al-Baqarah: 188).
Perhatikan penggunaan kata "memakan" dalam ayat tersebut. Al-Qur'an tidak sekadar menyebut "mengambil" atau "memiliki", tetapi "memakan". Seolah-olah Allah mengingatkan bahwa setiap suapan yang berasal dari jalan yang batil akan menjadi bagian dari diri manusia dan kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Pelajaran selanjutnya dari potongan hadis “makanlah dari makanan yang berada di dekatmu”, bahwa rezeki yang sudah Allah berikan hari ini pasti lebih baik daripada rezeki yang kita khayalkan esok hari. Banyak orang menghabiskan hidupnya mengejar sesuatu yang masih jauh, hingga lupa mensyukuri nikmat yang sudah berada dalam genggamannya.
Umar bin Khattab pernah berkata, "Aku tidak memikirkan apakah doaku dikabulkan atau tidak. Yang kupikirkan adalah bagaimana aku bisa terus berdoa. Sebab jika Allah mengilhamkan doa, Dia telah menyiapkan jawabannya." Kalimat ini mengajarkan bahwa manusia memang harus berusaha, tetapi tidak boleh diperbudak oleh angan-angan yang membuatnya menghalalkan segala cara.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak konflik bermula karena seseorang sibuk merencanakan sesuatu yang bukan menjadi haknya. Ada yang merancang bagaimana memperoleh jabatan milik orang lain. Ada yang mencari cara menguasai proyek yang menjadi amanah pihak lain. Ada pula yang berusaha menjatuhkan rekannya agar dirinya memperoleh keuntungan. Padahal Islam mengajarkan, jangan merencanakan apa yang bukan menjadi hakmu, apalagi berusaha memilikinya dengan cara yang tidak benar. Ambisi yang kehilangan moral akan berubah menjadi keserakahan, yang apabila dibiarkan akan melahirkan kezaliman.
Dalam dunia kerja, pesan Nabi SAW tersebut juga sangat relevan, di mana setiap orang telah memiliki amanah sesuai tugas dan tanggung jawabnya; Guru memiliki kelasnya, dosen memiliki bidang akademiknya, pegawai memiliki tupoksinya, dan pemimpin memiliki kewajiban melayani. Maka rizki yang diperoleh dari pelaksanaan amanah secara jujur dan penuh tanggung jawab itulah hakikat "makanan yang paling dekat".
Ketika seseorang justru sibuk merebut pekerjaan orang lain, mengambil keuntungan atas hasil kerja rekannya, mencampuri amanah yang bukan menjadi tanggung jawabnya demi popularitas atau keuntungan pribadi, sesungguhnya ia sedang meninggalkan "makanan yang dekat" untuk mengejar "makanan yang jauh". Akibatnya bukan hanya konflik batin, tetapi juga hilangnya kepercayaan dan keberkahan.
Cendekiawan Muslim kontemporer Prof. Tariq Ramadan, seorang akademisi Swiss keturunan Mesir mengingatkan bahwa integritas bukan diukur dari apa yang kita lakukan ketika semua orang melihat, tetapi dari apa yang kita lakukan ketika memiliki kesempatan untuk menyalahgunakan amanah. Amanah selalu diuji ketika seseorang memiliki peluang untuk mengambil yang bukan haknya.
Banyak koruptor berasal dari orang-orang yang berpendidikan tinggi, memiliki jabatan terhormat, bahkan hidup berkecukupan. Namun mereka gagal mengamalkan pelajaran sederhana yang diajarkan Nabi Muhammad SAW: "Makanlah dari makanan yang berada di dekatmu."
Seandainya setiap pejabat menikmati rezeki yang halal dari gajinya, setiap pegawai bekerja sesuai amanahnya, setiap pengusaha mencari keuntungan dengan cara yang jujur, setiap pemimpin menjaga hak bawahannya, dan setiap warga merasa cukup dengan rizki yang Allah anugerahkan, niscaya banyak persoalan bangsa yang dapat teratasi.
Sebagai catatan pinggir, bahwa potongan hadis di awal narasi di atas mengajarkan bahwa kebahagiaan bukan dimulai dari banyaknya yang kita miliki, melainkan dari kemampuan menikmati apa yang telah Allah titipkan kepada kita. Sebab orang yang selalu mengejar "makanan yang jauh" belum tentu kenyang, sedangkan orang yang bersyukur atas "makanan yang dekat" akan merasakan keberkahan yang tidak selalu dapat diukur dengan angka.
Maka marilah kita belajar dari meja makan yang diajarkan Rasulullah SAW, ternyata adab mengambil makanan di hadapan kita bukan hanya pelajaran tentang sopan santun, tetapi juga pelajaran tentang kejujuran, amanah, integritas, dan rasa syukur.[]

Dosen UIN Mataram





