
SETIAP kali pulang kampung, ada hal yang selalu kulakukan sebelum benar-benar merasa telah pulang. Bukan mengunjungi rumah keluarga terlebih dahulu, atau menyusuri lorong-lorong sambil menyapa handai taulan. Aku menuju masjid tua di ujung kampung, tempat kami sewaktu kecil belajar mengeja al-Qur’an. Kumohon pengampunan Tuhan jika kebiasaanku ini buruk.
Aku datang lebih awal, lalu duduk di saf tengah. Belum tenang batinku sebelum menemukan sosok teduh itu. Imam masjid kampung kami. Beliau sedikit aneh, tidak pernah duduk tepat di depan mihrab sebagaimana lazimnya seorang imam. Selalu mengambil posisi ke samping, nyelempit di tengah jamaah. Mungkin beliau sufi zahid yang tidak berkehendak jadi pusat. Besar kemungkinan beliau memendam pandangan rohani bahwa rumah Allah tidak mengenal posisi-posisi kehormatan tertentu. Allah transenden, mengatasi ruang dan sekat.
Seketika batinku lega tatkala kulihat sosok bersorban putih dengan wajah teduh itu telah berada pada posisi favoritnya. Aku bangkit segera bangkit dari duduk tafakkur-ku, menyusuri saf, lalu menghampirinya dari belakang. “Assalamu’alaikum, Tuan Guru.”
Ia menoleh. Senyumnya mengembang teduh seperti seorang mursyid yang penuh kasih.
“Kapan datang, ananda?” Kalimat yang sangat pendek. Tetapi setiap kali mendengarnya, aku merasa seolah ada doa panjang yang tak terdengar sedang dipanjatkan untukku.
“Baru saja, Tuan Guru,” jawabku.
Aku teringat masa-masa mengaji waktu remaja dulu di biliknya. Saat itu aku salah membaca “bi’sal ismul fusuq…” Aku mengira akan dibentak atas kekeliruan itu, namun beliau hanya tersenyum. Mungkin melihat wajahku yang sedikit pucat, beliau berkata, “Al-Qur’an tidak pernah marah kepada orang yang sedang belajar. Ini “naql” namanya dalam ilmu Tajwid, nanti kita pelajari. Ayo, ulangi… bi’salismul fusuqu ba’dal imani…”
Aku mencium tangannya. Hangat sekali. Setiap kali itu kulakukan, ada rasa yang sulit dijelaskan. Seperti seseorang yang lama mengembara akhirnya menemukan mata air. Segala penat, musykilat, dan kerinduan rohani luruh serta-merta.
Tak lama kemudian azan selesai. Beliau maju mengimami salat. Suaranya lembut, tetapi terasa hidup. Huruf-huruf al-Qur’an keluar begitu jernih dari makhraj lisannya, seakan telah lama bermukim di dadanya sebelum menjelma suara.
Dan ketika tiba saat berdoa, masjid berubah menjadi ruang yang sunyi. Suara doa yang beliau pimpin dan panjatkan menggema seperti langkah demi langkah rohani yang tertata rapi. Sighat demi sighat mengalir fasih dan indah, menuntun pengaminan para jamaah. Tidak lain lagi, beliau mursyid yang telah mengenal benar jalan menuju langit. Kami semua mengamini dalam khusu’. Janganlah doa dan munajat seperti ini segera selesai.
Suatu sore, ketika jamaah mulai beranjak pulang, aku memberanikan diri bertanya, “Tuan Guru, mengapa tidak duduk di depan mihrab? Bukankah imam memang tempatnya di sana?”
Beliau tersenyum, lalu menjawab sederhana, “Semua kita di masjid ini bisa menjadi imam.”
Jika sudah begini, diamlah aku dalam permenungan.
Orang-orang kampung memanggilnya Tuan Guru Hasyim. Gelar yang sepadan belaka dengan kemampuan dan keteladannya dalam beragama. Tetapi memang beliau lahir dan besar dari keluarga alim. Ayahnya seorang ulama besar level kabupaten yang jejak dakwahnya masih hidup di ingatan masyarakat.
Konon, banyak imam desa, juga banyak umara, lahir dari didikan spiritual sang ayah. Konon pula, kalau sang ayah datang ke suatu kampung, orang-orang memadamkan lampu rumah lebih awal, agar selepas Isya semua berbondong ke masjid, mendengar pengajian sang ulama.”
Ketika sang ayah wafat, orang-orang bertanya, siapakah yang akan melanjutkan pelita itu? Jawabannya ternyata seseorang yang memilih nyelempit secara senyap di saf pinggiran.
Kata seorang jamaah suatu ketika, “Umat lebih membutuhkan orang yang tinggal bersama mereka. Mengajar. Menjadi imam. Mendamaikan yang bertikai. Menjenguk yang sakit. Mendoakan yang berduka.”
Setiap hendak memimpin doa, beliau selalu menyisipkan pesan-pesan pendek, sesuai situasi. Beliau memang tidak banyak berceramah. Doa-doa dan pesan-pesan pendek itulah dakwahnya. Namun tampaknya orang-orang menyimpan itu dalam endapan yang lebih dalam daripada khutbah yang berapi-api.
Suatu waktu dalam sejarah sosial kampung kami, muncul seorang dai muda dari luar daerah, membawa pandangan keagamaan yang baru. Sebagian pemuda mengikuti pandangannya. Sebagian orang tua resah. Masyarakat mulai suka berdebat, mengarak kepada friksi pandangan keagamaan. Kami mengehendaki guru kami itu terapkan dakwah-dakwah yang keras, guna menangkis dakwah baru itu. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Pada suatu slametan di pojok kampung, beliau berkata sebelum memimpin doa, “Jangan sibuk mencari siapa yang paling benar hingga lupa menjadi orang yang paling baik.”
Kalimat itu menyebar dari mulut ke mulut ke seantero kampung. Sirnalah keriuhan dan tuding-tudingan dari satu kelompok atas lainnya. Dengan itu, beliau telah memenangkan pergulatan. Masyarakat tetap bersaudara.
Masjid pojok kampung yang selalu kurindui itu masih berdiri. Saf-safnya masih dipenuhi jamaah. Anak-anak masih berlari di halaman terutama selepas Magrib. Mihrab masih hangat. Mimbar itu masih kokoh berdiri. Karpet masih sama. Namun ada satu ruang yang terasa kosong. Ruang batinku sendiri ketika pulang kampung kali ini.
Seorang jamaah duduk sedikit menjauh dari mihrab. Jamaah lain juga begitu, menyisakan sebuah ruang tanpa diisi jamah. Kata seorang jamaah, “Itu tempat Tuan Guru kita biasa menunggu azan.”
Para jamaah menyepakatiku untuk mengimami sholat Magrib itu. Sebelum iqamat, aku memilih duduk agak menjauh dari mihrab. Seorang anak muda bertanya, kutahu ia hendak menggodaku: “Pak Guru, kenapa tidak duduk di depan?”
Aku hanya tersenyum, persisi guruku jika ditanya serupa. Terngiang kembali suara lembut itu “Semua kita di masjid ini bisa menjadi imam.”
Aku maju ke mihrab, menatap langit-langit masjid yang sudah mulai buram. Setitik air bening jatuh dari pelupuk mata sebelahku.[]

Pegiat literasi dan peminat sufisme lokal


