Mengapa Nahdlatul Wathan tidak Berkembang di Bima?

Dalam beberapa perkenalan dengan orang, kalau saya menyebut berasal dari Nusa Tenggara Barat selalu ditanya, apakah saya sebagai anggota Nahdlatul Wathan (NW). Atau minimal terafiliasi dengan NW yang memang dikenal sebagai  salah satu organisasi keagamaan di Nusa Tenggara Barat. Tentu saja, tentang tokohnya TGB. Zainul Majdi atau yang biasa disapa Tuan Guru Bajang.

Keterkenalan NW sebagai organisasi keagamaan memang bisa dipahami karena distingsi dilakukannya. Walaupun masih terhubung secara garis pengetahuan dengan organisasi keagamaan lain di Indonesia. Namun, lokus yang mereka ciptakan membuat nama NW menjadi titik yang dilihat oleh publik sebagai organisasi yang memiliki basis yang luas di Nusa Tenggara Barat.

Namun, di lapangan, seluruh wilayah Nusa Tenggara Barat tidaklah hanya melulu tentang NW. Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan organisasi lain juga berkembang di Nusa Tenggara Barat. Bahkan, di kampung halaman saya, Bima, wilayah ujung dari Nusa Tenggara Barat NW tidaklah menjadi organisasi yang dominan di tingkat kota/kabupaten. Hal ini, menjadi bantahan atas pendangan publik bahwa corak keagamaan Islam di Nusa Tenggara Barat selalu terafiliasi dengan NW.

Di Pulau Lombok (Kabupaten Lombok Timur), NW memang mendominasi kehidupan keagamaan masyarakat. Tuan Guru sebagai pemegang otoritas keagamaan memegang peran penting bagi perkembangan kehidupan sosial dalam masyarakat. Selain itu, perkembangan politik dan pemerintahan yang di beberapa kabupaten/kota di Pulau Lombok juga diwarnai dengan kehadiran Tuan Guru sebagai salah satu aktor politik.

Oleh sebab itu, dominasi NW sebagai organisasi terlihat semakin besar di tengah masyarakat. Tentu juga dibarengi dengan berkembangnya organisasi-organisasi keagamaan lain yang juga berkembang mengikuti pola, strategi, dan ajaran dari organisasi-organisasi keagamaan. Seperti umumnya kerja sebuah sistem organisasi terbentuknya relasi-relasi organisasi juga menjadi salah faktor penting berkembangnya organisasi keagamaan di sebuah wilayah.

Perbedaan Sejarah

Seperti banyak diungkap oleh beberapa sarjana bahwa islamisasi yang terjadi di Bima dilakukan oleh Kerajaan Makassar. Dalam sebuah artikelnya J. Noorduyn (1987) berjudul Makasar and The Islamization of Bima mengungkapkan bahwa raja Kerajaan Makassar menyuruh untuk mengislamkan kerajaan-kerajaan di semenanjung Makassar setelah Kerajaan Makassar menganut Islam.

Baca Juga  Menjadi Manusia Rohani

Sejarah islamisasi ini merupakan titik awal bagaimana perkembangan Islam di Bima bisa dijelaskan lebih mudah. Walaupun narasi adanya islamisasi dari arah barat Bima berasal dari Pulau Lombok dan Jawa juga memiliki signifikansinya tersendiri. Namun, dalam narasi dominan yang menyebut bahwa islamisasi Bima berasal dari Makassar dengan dua tokohnya itu Datuk Ri Bandang dan Datuk Ri Tiro saat ini masih yang terkuat.

Oleh karena itu, saat ini, masih banyak ditemukan persinggungan budaya yang tercermin dalam nilai budaya, benda, maupun bahasa yang digunakan oleh masyarakat Bima dari pengaruh budaya Makassar. Tradisi Hanta U’a Pua menjadi salah satu ritual yang menggambarkan persinggungan antara dua kebudayan ini. Dari sinilah, kita dapat melihat bahwa salah satu penyebab bagaimana NW juga tidak berkembang di Bima dari sejarah awal bagaimana islamisasi yang dilakukan di Bima.

Dukungan Politik

Awal abad ke-20 banyak bermunculan organisasi-organisasi keagamaan di Nusantara. Organisasi keagamaan yang umumnya didirikan di Pulau Jawa ini berkembang dan mendirikan cabang-cabang organisasi di seluruh wilayah Nusantara, termasuk di wilayah Bima, saat itu masih kesultanan. Sistem-sistem organisasi yang berkembang juga menjadi cermin bagaimana tumbuhnya kesadaran organisasi di kalangan masyarakat muslim Nusantara.

Dua organisasi keagamaan yang didukung secara politik di Kesultanan Bima yaitu NU dan Muhammadiyah. Hal ini juga yang bisa menjelaskan bagaimana sistem organisasi diadik yang dianut oleh Kesultanan Bima (Sila, 2014). Sistem organisasi seperti ini mengandaikan bahwa sultan dan raja bicara (Perdana Menteri) ialah dua entitas yang setara dan saling membagi peran.

Dan peran inilah yang dilakukan juga oleh Kesultanan Bima dalam menerima kehadiran organisasi-organisasi keagamaan yang hadir di Bima. NU dirangkul oleh sultan dan berkembang di kalangan istana, sedangkan Muhammadiyah diterima oleh dan berkembang di kalangan raja bicara.

Baca Juga  Islam Wasathiyah: Jalan Tengah di Negeri Multikultural

Pada perkembangan berikutnya, gerakan NU dan Muhammadiyah di Bima didukung oleh keturunan dari dua jabatan tersebut ditambah dengan sistem kaderisasi dan tumbuhnya kelas menengah muslim di Bima yang masuk dalam kedua organisasi ini. Dengan demikian, faktor dukungan politik ini juga menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan organisasi dan dominannya NU dan Muhammadiyah di Bima.

Kejadian di atas, tidak dialami oleh NW, tentu juga karena organisasi ini lebih muda daripada dua organisasi di atas. Oleh karena itu, NW tidak terlalu mendapat dukungan politik secara formal maupun informal dari otoritas politik. Lebih jauh, saat ini, NW tidak terlalu giat melakukan dakwah secara kultural dalam masyarakat.

NW sebagai organisasi di Bima memang memiliki kepengurusan di tingkat kabupaten/kota, dan memiliki beberapa lembaga pendidikan yang langsung di bawah naungan pengurusan NW. Memang kehadiran NW memiliki kontribusi yang signifikan dalam mendukung perkembangan pendidikan Islam di Bima, namun, secara sosial/politik, NW di Bima belum terlalu berkembang dengan baik dan mendominasi otoritas keagamaan.

Faktor, itu juga yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan publik kepada saya, seperti di atas. Walaupun sebagai orang yang lahir dan tumbuh di Nusa Tenggara Barat tidaklah langsung orang tersebut orientasi keagamaannya pada organisasi NW. Pun, saya, menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu dengan jawaban yang sealakadarnya saja.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *