Dorongan itu disampaikan Wulan saat Muktamar ke-35 NU berlangsung di Jombang. Menurut dia, berbicara tentang masa depan NU berarti juga membicarakan siapa yang sejak sekarang diberi kesempatan untuk belajar memimpin.
“Anak muda tidak boleh terus disebut sebagai masa depan kalau hari ini tidak diberi ruang untuk terlibat. Mereka harus diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasan, berdialog, dan ikut mengambil keputusan,” ujar Wulan.
Gagasan tersebut menjadi salah satu isu yang dibawa KOPRI PB PMII melalui Women Initiative Camp bertajuk Grow, Connect, Lead di Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang, 25–26 Agustus 2026.
Kegiatan itu mempertemukan kader perempuan PMII dari sejumlah PC dan PKC dengan orang-orang yang selama ini bekerja di ruang politik, penyelenggaraan pemilu, lembaga perwakilan, organisasi, dan akademik.
Pada hari pertama, peserta mendapat materi dari dua komisioner KPU Jawa Timur, Miftahur Rozaq dan Nur Salam. Sesi berikutnya menghadirkan anggota DPD RI Dr. Lia Istifhama, Ketua PB IKA Perempuan PMII Luluk Nur Hamidah, serta Dr. Amanah Nurish, Dosen Kajian Ketahanan Nasional SPPB Universitas Indonesia.
Pertemuan itu, kata Wulan, sengaja dirancang agar kader tidak hanya mendapatkan materi kepemimpinan, tetapi juga mengenali ruang-ruang tempat keputusan publik dibuat.
“Kalau kita bicara kepemimpinan perempuan, kita tidak cukup hanya bicara keberanian tampil. Perempuan harus punya pengetahuan, kemampuan membaca situasi, membangun jejaring, bernegosiasi, dan mengambil keputusan,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar keterlibatan perempuan tidak berhenti pada pemenuhan kuota atau representasi.
“Yang kita bangun bukan hanya kader yang mampu berbicara, tetapi kader yang memahami apa yang dibicarakan, tahu bagaimana memperjuangkan gagasan, dan punya keberanian membawa perspektif perempuan ke ruang pengambilan keputusan,” ujarnya.
Ketua Bidang Politik dan Kajian Strategis KOPRI PB PMII Gaby Tiara Maharani Pitoyo menilai perempuan muda perlu lebih dulu memahami politik sebelum didorong masuk ke dalamnya.
“Politik itu bukan hanya soal pemilu atau perebutan jabatan. Politik adalah tentang bagaimana keputusan dibuat, bagaimana kepentingan masyarakat diperjuangkan, dan bagaimana kita memastikan suara perempuan hadir dalam proses tersebut,” pungkas Gaby.
Ia mengatakan ruang politik yang perlu dikenalkan kepada kader perempuan juga tidak terbatas pada partai politik atau lembaga legislatif.
“Kami ingin kader melihat bahwa ruang strategis itu beragam. Ada ruang penyelenggara pemilu, lembaga perwakilan, organisasi, akademik, dan ruang kebijakan. Ketika perempuan muda dipertemukan dengan orang-orang yang bekerja di ruang tersebut, mereka bisa melihat bahwa ruang itu bukan sesuatu yang jauh atau tidak mungkin mereka masuki,” katanya.
Bukan Sekadar Ganti Generasi
Wulan menilai regenerasi di NU tidak selesai hanya dengan menghadirkan orang-orang yang lebih muda dalam struktur organisasi. Ada proses yang harus berjalan sebelum seseorang benar-benar siap mengambil keputusan.
“Regenerasi itu ada transfer pengetahuan, ada kepercayaan, ada ruang untuk belajar, dan ada kesempatan mengambil keputusan. Jadi bukan hanya mengganti yang lama dengan yang muda,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap Muktamar ke-35 NU tidak berhenti pada pergantian kepemimpinan. Menurut dia, yang lebih penting ialah memastikan generasi muda memiliki jalan untuk belajar dan terlibat dalam proses organisasi.
“Kalau kita ingin perempuan berada di ruang pengambilan keputusan, persiapannya tidak bisa dilakukan ketika mereka sudah berada di sana. Persiapannya harus dimulai jauh sebelumnya,” kata Wulan.
Hal itu juga berlaku bagi ulama perempuan. Wulan menilai pengalaman dan pengetahuan mereka dibutuhkan dalam pembahasan yang lebih luas tentang umat dan bangsa.
“Ulama perempuan bukan sekadar pelengkap representasi. Mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman yang penting untuk membaca persoalan umat. Perempuan harus hadir bukan hanya ketika membicarakan isu perempuan, tetapi juga ketika NU membicarakan masa depan umat dan bangsa,” ujarnya.
Menurut Wulan, semakin beragam perspektif yang masuk ke ruang pengambilan keputusan, semakin banyak pula persoalan yang dapat dibaca dari berbagai sisi.
“Semakin kompleks persoalan umat, semakin kita membutuhkan perspektif yang beragam. Ini bukan semata soal memberikan ruang kepada perempuan, tetapi juga soal memperkuat kualitas keputusan organisasi,” katanya.
Ia menilai menjaga tradisi NU tidak harus berhadapan dengan kebutuhan untuk berubah. Keduanya, menurut dia, justru perlu berjalan bersama.
“Menjaga marwah NU bukan berarti membuat organisasi berhenti berubah. Justru marwah itu dijaga ketika NU mampu tetap berakar pada tradisi, tetapi juga berani membaca zaman dan memberi ruang kepada generasi yang akan meneruskan khidmah,” ujarnya.
Bagi Wulan, inti dari Grow, Connect, Lead sederhana: kader perempuan harus bertumbuh, membangun jejaring, lalu berani mengambil peran.
“Kalau kita bicara tentang masa depan NU, kita harus bicara tentang siapa yang hari ini sedang kita siapkan. Jangan hanya bertanya siapa yang akan memimpin, tetapi juga siapa yang kita beri ruang untuk belajar memimpin,” kata Wulan.





