DOMPU — Tim Peneliti MoRA The AIR Funds UIN Mataram menggelar Sosialisasi dan Uji Coba Modul Pengasuhan Berbasis Gender dan Kearifan Lokal untuk Pencegahan Kekerasan terhadap Anak pada Komunitas Masyarakat Suku Sasak, Samawa, dan Mbojo-Dompu di Nusa Tenggara Barat (NTB). Kegiatan tersebut berlangsung di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Amin Dompu, Selasa (8/9/2026).
Kegiatan yang diikuti oleh 20 peserta ini berasal dari pelbagai elemen masyarakat—mulai dari aktivis anak dan perempuan, pengurus Lembaga Perlindungan Anak (LPA), akademisi, penyuluh agama, guru, hingga calon pengantin (catin). Kegiatan ini dihajatkan untuk menekan angka kekerasan terhadap anak melalui pendekatan budaya dan kesetaraan gender.
Sesi diskusi dan simulasi dipandu oleh Nursyamsiah, SH. (aktivis anak dan perempuan sekaligus pengacara di Dompu) bersama Ilyas Yasin, M.M.Pd. (dosen STKIP Yapis Dompu).
Perwakilan tim peneliti, Dr. Syukri, M.Ag., dalam sambutannya pada acara pembukaan (08.00 WITA) menjelaskan latarbelakang kegiatan ujicoba modul.
Penelitian ini dilakukan dilatarbelakangi oleh trend kekerasan terhadap anak (kekerasan fisik, psikis dan seksual/pelecehan) yang terus meninggat di NTB, termasuk di Dompu. “Tim peneliti menganggap munculnya kekerasan terhadap anak ini tidak terlepas dari pola pengasuhan anak yang salah. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan dalam upaya mengurangi hal tersebut”, ujarnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa di tahun pertama penelitian difokuskan pada pengumpulan data lapangan dan penyusunan draf modul. Di tahun kedua ini, sosialisasi dan uji coba modul langsung ke komunitas masyarakat. Sebelumnya kegiatan serupa telah dilaksanakan di Mataram, Lombok Barat, Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, Kota Bima, dan saat ini di Dompu,” ungkapnya.
Integrasi Nilai Lokal dan Isu Gender
Para peserta membedah beragam persoalan krusial terkait pola asuh dan dampaknya terhadap tumbuh kembang anak selama sehari penuh. Pelatihan ini mendalami perbedaan konsep seks dan gender, stereotip gender, pemenuhan hak anak, serta perbandingan antara pengasuhan tradisional dengan transformative gender.
Peserta juga diajak mengidentifikasi kembali nilai kearifan lokal Suku Mbojo-Dompu yang relevan dengan perlindungan anak, memetakan potensi bias gender, serta merumuskan strategi pengintegrasian nilai lokal tersebut ke dalam praktik pengasuhan sehari-hari.
Salah satu peserta, Zakiyah, mengapresiasi materi yang dipaparkan sepanjang pelatihan. “Materi yang dibahas sangat bagus dan penyampaian fasilitator tidak membosankan sehingga kami peserta dapat menyerap ilmu yang disampaikan terutama berkaitan perbedaan sex dan gender, model-model kekerasan terhadap anak, kearifan lokal, dan langkah konkret yang harus dilakukan setelah pelatihan ini selesai,” ungkapnya.
Harapan peserta FGD
Dalam rangkaian diskusi kelompok, tercetus beberapa masukan dan usulan yang dilontarkan oleh peserta di antaranya, mereka berharap agar luaran kegiatan ini berdampak luas pada sistem pendidikan dan pola asuh masyarakat secara umum. Mereka juga mendorong agar modul ini diformalkan sebagai bahan ajar muatan lokal (mulok) di sekolah, rujukan bagi para penyuluh dan tokoh agama, serta pedoman praktis bagi para orang tua di Dompu.
Selain itu, mereka juga mengharapkan agar tokoh-tokoh masyarakat ‘pejuang’ kearifan lokal ketika tampil di ruang publik hendaklah menggunakan symbol lokalitas seperti memakai busana tembe nggoli dan Sambolo (songkok khas Bima-Dompu).
Begitu juga ketika digelar acara besar seperti khitanan dan perkawinan, tampilkan juga kesenian tradisional seperti tarian tradisional, hadrah, main Gantao dan lain-lain sehingga generasi muda mengenal tradisi dan identitas budaya tetap lestari.
Nasehat-nasehat yang baik kepada anak-anak, mendongeng, ngoa ra tei diharapkan juga tetap dilestarikan oleh para orang tua untuk mengurangi problematika sosil generasi muda seperti merajalelanya narkoba, kebiasaan panah liar, gaya hidup hedon dan lain-lain.
Melalui uji coba ini, tim peneliti berharap para peserta tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menerapkan prinsip pengasuhan nirkekerasan yang selaras dengan nilai kearifan lokal secara berkelanjutan.
Guna mengukur efektivitas kegiatan, tim peneliti menerapkan skema pre-test dan post-test mengenai pemahaman kekerasan anak serta nilai kearifan lokal. Dampak jangka panjang dari intervensi modul ini nantinya dievaluasi kembali melalui survei lanjutan dua bulan pasca kegiatan.





