Manusia modern semakin sibuk mengenal dunia, tetapi sering lupa mengenal dirinya sendiri. Kita begitu serius merawat tubuh, mengejar pekerjaan, mengumpulkan harta, membangun citra, dan memenuhi berbagai keinginan, tetapi tidak selalu memiliki kesungguhan yang sama dalam merawat kehidupan batin. Akibatnya, manusia dapat mengalami paradoks: hidupnya semakin maju secara material, tetapi semakin dangkal secara spiritual. Ia memiliki banyak hal, tetapi belum tentu menemukan dirinya.
Di sinilah gagasan tentang manusia rohani menjadi penting. Judul tulisan ini memang terinspirasi dari buku Menjadi manusia rohani karya Dr. KH Ulil Abshar Abdalla. Buku tersebut merupakan refleksi atas hikmah-hikmah Ibnu ‘Athaillah dalam Al-Hikam, yang mengajak manusia melihat kehidupan bukan hanya dari apa yang tampak di luar, tetapi juga dari kedalaman batinnya. Dalam kerangka ini, menjadi manusia rohani bukan berarti meninggalkan dunia, melainkan mengubah cara manusia berhubungan dengan dunia: tidak diperbudak oleh keinginan, tidak terjebak pada kenikmatan sesaat, dan selalu berusaha menghadirkan Tuhan dalam kesadaran hidup.
Karena itu, saya memilih judul Merawat ruhani, menemukan diri, Jika “menjadi manusia rohani” menunjuk pada tujuan, maka “merawat ruhani” menunjuk pada proses. Ruhani manusia tidak cukup hanya diakui keberadaannya; ia harus dirawat, dibersihkan, dilatih, dan dihidupkan. Dan proses merawat ruhani pada akhirnya merupakan perjalanan menemukan kembali diri manusia yang paling dalam: diri yang menyadari asal-usulnya, tujuan hidupnya, keterbatasannya, dan hubungannya dengan Tuhan.
Al-Qur’an sendiri menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki kedudukan istimewa. Manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS. Al-Tin: 4) dan dimuliakan oleh Allah (QS. Al-Isra’: 70). Kesempurnaan dan kemuliaan manusia tidak hanya terletak pada bentuk fisiknya, tetapi juga pada dimensi ruhaninya.
Manusia adalah makhluk yang memiliki dua dimensi: jasmani dan ruhani. Jasmani membutuhkan makanan, istirahat, kesehatan, dan berbagai kebutuhan material. Sementara itu, ruhani membutuhkan iman, ibadah, ilmu, kasih sayang, keheningan, dan kedekatan kepada Tuhan. Kedua dimensi tersebut tidak dapat dipisahkan, tetapi harus ditempatkan secara proporsional.
Ketika kehidupan hanya dikendalikan oleh keinginan jasmani, manusia mudah terjebak dalam keserakahan, egoisme, dan pemenuhan keinginan tanpa batas. Sebaliknya, ketika ruhani memperoleh ruang untuk tumbuh, manusia akan lebih mampu mengendalikan dirinya, melihat kehidupan secara lebih luas, dan menghadirkan nilai-nilai ketuhanan dalam perilakunya.
Manusia berasal dari tanah. Namun, Allah kemudian meniupkan ruh ke dalam dirinya. Karena itu, manusia bukan sekadar makhluk material. Ia memiliki kesadaran yang membuatnya mampu bertanya tentang dirinya, tentang kehidupan, tentang kematian, bahkan tentang Tuhan.
Al-Qur’an juga menggambarkan adanya perjanjian primordial antara manusia dengan Tuhan. Allah berfirman kepada anak cucu Adam, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul, kami bersaksi.” (QS. Al-A’raf, 172). Ayat ini dapat direnungkan sebagai gambaran bahwa dalam diri manusia terdapat potensi pengenalan kepada Tuhan.
Namun, dalam perjalanan kehidupan, kesadaran itu dapat tertutup oleh berbagai kepentingan duniawi. Manusia terlalu sibuk dengan apa yang tampak dan melupakan apa yang tidak tampak. Ukuran keberhasilan sering bergeser menjadi harta, jabatan, popularitas, dan berbagai simbol material. Manusia sibuk membangun dirinya di hadapan orang lain, tetapi kurang memberi perhatian kepada kehidupan batinnya sendiri.
Karena itu, merawat ruhani menjadi kebutuhan yang tidak kalah penting daripada merawat jasmani. Merawat ruhani berarti memberi ruang kepada diri untuk melakukan introspeksi, mengendalikan hawa nafsu, membersihkan hati, memperbanyak ibadah, dan membangun kesadaran bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir.
Di sinilah relevansi pemikiran sufistik Ibnu ‘Athaillah yang banyak direnungkan kembali oleh Ulil. Kehidupan manusia tidak hanya ditentukan oleh apa yang dilakukan secara lahiriah, tetapi juga oleh keadaan batinnya. Amal, kesibukan, keberhasilan, bahkan kegagalan perlu ditempatkan dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Dengan demikian, tasawuf bukan pelarian dari kehidupan, melainkan cara untuk menghadirkan kedalaman dalam menjalani kehidupan. Gagasan Ulil tentang manusia rohani dapat dibaca dalam kerangka ini: manusia perlu membangun kehidupan batin agar tidak kehilangan arah di tengah kehidupan lahiriah yang semakin kompleks.
Ungkapan sufistik yang populer mengatakan, ‘Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya‘. Ungkapan ini bukan hadis Nabi yang sahih, tetapi memiliki tempat dalam tradisi refleksi tasawuf. Pesannya relevan dengan gagasan tulisan ini: perjalanan menuju Tuhan dapat dimulai dengan perjalanan ke dalam diri. Mengenal diri berarti menyadari siapa kita, dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup, dan kepada siapa kita akan kembali.
Salah satu jalan yang disediakan Islam untuk merawat ruhani adalah puasa. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi latihan mengendalikan keinginan. Ketika manusia belajar mengatakan “tidak” kepada sesuatu yang halal pada waktu tertentu, ia sedang melatih dirinya agar tidak menjadi budak hawa nafsu. Puasa memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengurangi dominasi tubuh dan keinginan, sehingga kesadaran batin memperoleh ruang untuk tumbuh.
Sesungguhnya seluruh rukun Islam dapat dibaca sebagai jalan penyucian manusia. Syahadat menyucikan orientasi ketuhanan; shalat menyucikan jiwa melalui hubungan yang terus-menerus dengan Allah; puasa melatih pengendalian diri dan penyucian batin; zakat menyucikan harta sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial; sedangkan haji menjadi perjalanan spiritual yang mengajarkan ketundukan, kesetaraan, dan kepulangan manusia kepada Tuhan.
Pada akhirnya, menjadi manusia rohani bukan berarti meninggalkan dunia. Manusia tetap membutuhkan harta, pekerjaan, keluarga, ilmu, dan berbagai kebutuhan jasmani. Yang perlu diubah adalah hubungan manusia dengan semua itu. Materi boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai menguasai hati. Dunia boleh dicintai, tetapi jangan sampai membuat manusia lupa kepada Tuhan.
Sebab persoalan terbesar manusia mungkin bukan ketika ia kehilangan dunia, melainkan ketika ia kehilangan dirinya sendiri. Dan untuk menemukan kembali diri itu, manusia perlu kembali ke dalam dirinya, merawat ruhaninya, membersihkan hatinya, dan memperdalam hubungannya dengan Tuhan.
(Bumi Pambusuang, Oktober 2026)

Kepala Madrasah Aliyah Nuhiyah Pambusuang, Sulawesi Barat






