MENARIK untuk disimak apa yang diuraikan sang khatib pada Jum’at kemarin tentang indikator seseorang yang mendapatkan gelar muttaqin, seorang hamba yang mampu menjalankan semua perintah Allah Swt dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya.
Kalau kita perhatikan ada dua ayat yang sering dikumandangkan berkaitan dengan gelar muttaqin, yaitu Qs. al-Hujurat ayat 13 yang menjelaskan bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah Swt di kalangan umat Muhammad saw adalah orang yang paling bertakwa. Begitu juga dalam Qs. al-Baqarah; 183 yang menjelaskan bahwa dengan menjalankan puasa Ramadan, kita diharapkan dapat meraih gelar takwa.
Sebenarnya, gelar takwa bisa kita raih kapan saja, dengan syarat menjalankan semua perintah Allah Swt dan menjauhi semua larangan-Nya. Namun demikian, Allah Dzat Yang Maha Pemurah memberikan jalan pintas untuk meraih derajat takwa itu dengan menghadirkan bulan puasa, karena dengan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh itu, kita diharapkan lulus dengan nilai terbaik sehingga dapat menggenggam predikat takwa.
Apakah kemuliaan yang telah Allah Swt berikan itu mampu dipertahankan oleh hamba selama mengarungi kehidupan di luar bulan Ramadan atau justru dia hancurkan sendiri sehingga jatuh dalam lumpur kehinaan.
Barangkali muncul pertanyaan dibenak kita masing-masing, apakah puasa Ramadan yang pernah kita lakukan pada tahun-tahun kemarin telah mengantarkan kita sebagai hamba yang muttaqin?
Untuk mengetahui perihal ini, menurut sang khatib, kita coba mendalami kata shaum yang terdapat dalam Qs. al-Baqarah: 183. Barangkali dengan membedah arti kata shaum tersebut kita mendapatkan penjelasan yang memadai apakah kita termasuk dalam golongan hamba yang muttaqin atau bukan.
Kata shaum dalam bahasa Arab berasal dari akar kata sha wa ma. Pertama huruf shad melambangkan kata shabrun, sabar. Kedua huruf waw menandakan kata wiqayatun, waspada dan hati-hati dan ketiga huruf mim yang mewakili kata mustajabatun, diterimanya semua doa.
Sabar sendiri dibagi menjadi tiga bagian, pertama sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah Swt, kedua sabar dalam menjauhi larangan-larangan Allah Swt dan ketiga sabar dalam menghadapi ujian Allah Swt.
Wiqayatun yang berarti hati-hati dalam menjaga kemuliaan. Sungguh Allah Swt telah memuliakan hamba yang melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan mencari ridha Allah Swt. Apakah kemuliaan yang telah Allah Swt berikan itu mampu dipertahankan oleh hamba selama mengarungi kehidupan di luar bulan Ramadan atau justru dia hancurkan sendiri sehingga jatuh dalam lumpur kehinaan. Maka sebaiknya, seorang hamba, harus selalu waspada dan berhati-hati menjaga kemuliaan yang telah disematkan padanya agar tetap melekat dan tidak mudah luntur.
Mustajaabatun. Diterimanya doa. Kita renungkan pada diri kita masing-masing apakah doa-doa yang kita panjatkan selama ini sudah terkabul atau belum? Jika ada yang sudah terkabul, maka tanda-tanda menjadi orang yang bertakwa bisa jadi ada pada dirinya.
Jadi, jika ketiga ciri atau indikator tersebut, sudah dirasakan dan dialami oleh setiap hamba, maka tanda-tanda hamba mendapatkan gelar muttaqin sudah melekat pada pribadi yang bersangkutan.
Barangkali masih banyak indikator-indikator lain, namun karena terbatasnya waktu sang kahitb, hanya tiga itu saja yang dapat disampaikan. Wallahu a’lam.[]
Ilustrasi: Kalikuma Studio

Ketua Prodi Hukum Ekonomi Syariah UIN Mataram dan Pengkaji Islam dan Budaya Lokal.



