Ketika Mendidik Dianggap Melukai: Ironi Guru di Tengah Sensitivitas Zaman

Ada masa ketika rotan dianggap simbol kasih, bukan kekerasan. Ada masa ketika guru dipuja bukan karena sempurna, tapi karena berjasa. Namun kini, di tengah zaman yang katanya lebih “beradab”, guru harus berpikir dua kali sebelum menegur murid. Salah sedikit, laporan datang lebih cepat daripada ucapan “maaf”. Di era sensitivitas berlebih ini, mendidik kerap disalahpahami sebagai melukai.

Beberapa hari terakhir, linimasa media sosial dan pemberitaan dipenuhi kabar yang membuat hati para pendidik terhenyak. Kasus di SMAN 1 Cimarga, Lebak, Banten, ketika seorang Kepala Sekolah dilaporkan orang tua murid karena menegur dan memukul anaknya yang kedapatan merokok di kantin sekolah saat jam Sekolah berlangsung. Niat menegakkan disiplin justru berujung panjang: video kejadian itu beredar di media sosial, menuai kritik, dan menyeret guru tersebut ke ranah hukum. Ironisnya, sebagian warganet lebih sibuk membahas “cara menegur” sang guru ketimbang perilaku siswa yang melanggar. Dunia pendidikan kembali dipertontonkan sebagai panggung absurditas, di mana ketegasan guru dianggap lebih berbahaya daripada kenakalan murid.

Apakah kita sedang hidup di zaman ketika moralitas dikendalikan oleh sensitivitas?

Guru kini hidup di tengah paradoks: di satu sisi dituntut untuk membentuk karakter anak bangsa, di sisi lain diancam oleh kemungkinan menjadi tersangka bila metode pembinaan dianggap tidak “ramah perasaan”. Ironisnya, masyarakat yang dahulu menuntut ketegasan guru, kini lebih sibuk menuntut guru ke polisi.

Seorang pakar pendidikan, Prof. Najeela Shihab, pernah mengatakan bahwa “pendidikan tanpa ruang bagi kesalahan adalah pendidikan tanpa arah.” Namun kini, kesalahan guru — sekecil apa pun — menjadi bahan konsumsi publik. Sebaliknya, kesalahan murid justru dibungkus dengan kata “fase perkembangan” atau “hak anak untuk diekspresikan”. Guru yang menegur disebut kasar, guru yang diam disebut tidak peduli. Lalu, sebenarnya apa yang boleh dilakukan seorang guru?

Data dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menunjukkan, dalam dua tahun terakhir, kasus pelaporan terhadap guru meningkat hingga 47%. Sebagian besar terkait “pelanggaran etika dalam mendidik” — sebuah istilah yang kabur, lentur, dan sering kali bergantung pada tafsir subjektif orang tua atau masyarakat yang terpicu oleh potongan video 10 detik di TikTok.

Di era digital ini, bukan hanya siswa yang terancam oleh cyberbullying, tapi juga guru. Mereka bisa menjadi korban penghakiman publik — tanpa konteks, tanpa pembelaan, tanpa kesempatan menjelaskan. Dunia maya telah menjelma menjadi ruang sidang raksasa, di mana setiap orang merasa sah menjadi hakim moral.

Seorang guru berpengalaman di Bandung pernah berkata dalam wawancara dengan media lokal:

> “Sekarang bukan hanya anak yang takut pada guru, tapi guru juga takut pada anak. Takut pada kamera HP-nya, takut pada orang tuanya, takut pada netizennya.”

Sebuah kalimat sederhana tapi mengguncang. Betapa hubungan pedagogis yang dulunya dibangun atas dasar kepercayaan kini berubah menjadi relasi penuh kecurigaan.

Fenomena ini memperlihatkan betapa rapuhnya fondasi komunikasi antara guru, murid, dan orang tua. Dahulu, jika anak berbuat salah di sekolah, orang tua akan berkata: “Guru, tolong dididik anak saya.” Sekarang, jika anak ditegur guru, orang tua berkata: “Guru, kenapa anak saya disakiti?”

Padahal, mendidik tidak selalu berarti menenangkan. Ada kalanya pendidikan harus mengguncang agar jiwa terbangun. Sebab seperti kata Paulo Freire, tokoh pendidikan kritis asal Brasil, “pendidikan sejati adalah tindakan keberanian, bukan kenyamanan.” Tapi keberanian kini dihukum, dan kenyamanan dijadikan ukuran moral.

Kasus di SMAN 1 Cimarga menjadi potret kecil dari krisis besar. Guru tersebut sebenarnya bermaksud mengingatkan siswa agar berperilaku baik, taat aturan, dan terbentuk moral sebagai siswa, namun ucapan dan teguran yang tegas dianggap menyakitkan. Orang tua tak menelusuri konteks, langsung melapor ke media sosial. Akhirnya, ruang kelas berubah menjadi ruang sidang, dan media sosial menjadi hakim utama.

Bukankah aneh, ketika guru yang menegur anak dianggap melakukan kekerasan, tapi orang tua yang mengumbar nama guru di internet dianggap “mendidik dengan kepedulian”?

Fenomena ini juga memperlihatkan kegagalan kita sebagai masyarakat untuk memahami empati secara proporsional. Kita terlalu cepat tersentuh untuk hal-hal sepele, tapi bebal terhadap yang esensial. Kita marah jika anak ditegur guru, tapi diam ketika anak menyontek, berbohong, atau merundung temannya. Kita menangis ketika anak mengaku “terluka perasaannya”, tapi tak peduli ketika moral dan rasa hormatnya terkikis.

Ada ironi yang tajam di sini: pendidikan kini bukan lagi ruang pembentukan karakter, tapi ruang perlombaan citra. Guru dituntut untuk selalu ramah, sabar, tersenyum, dan beretika sesuai standar media sosial — bukan lagi sesuai nilai kemanusiaan sejati.

Masyarakat yang terlalu cepat menilai telah menciptakan generasi yang rapuh — anak-anak yang tidak tahan dikritik, orang tua yang tidak tahan disalahkan, dan guru yang tidak tahan mendidik.

Sebagaimana diingatkan oleh Ki Hajar Dewantara, “Guru adalah teladan dalam diam, pelita dalam gelap.” Namun kini, bahkan pelita itu pun disalahkan karena sinarnya dianggap terlalu silau bagi mata yang manja.

Kita sering lupa bahwa mendidik bukanlah aktivitas yang steril dari risiko. Mendidik adalah proses membentuk manusia — yang artinya harus berhadapan dengan sifat keras kepala, ketidaksempurnaan, dan ego muda. Guru bukan malaikat, tapi juga bukan musuh. Mereka manusia yang menanggung beban moral paling berat di negeri ini: dituntut untuk mencerdaskan bangsa, tapi juga harus selalu siap dipersalahkan oleh bangsa yang sama.

Seorang psikolog pendidikan, Seto Mulyadi, pernah menegaskan bahwa “dalam proses pendidikan, teguran adalah bagian dari kasih sayang, bukan kekerasan.” Namun konsep kasih sayang kini sering ditafsirkan sempit — harus lembut, tanpa kritik, tanpa tekanan. Padahal kasih sejati bukan selalu memanjakan, tapi juga menegakkan.

Sayangnya, budaya kita yang kian reaktif telah mengubah kasih menjadi perisai perasaan, bukan dorongan kebaikan. Mungkin inilah yang dimaksud oleh satiris pendidikan asal Inggris, George Bernard Shaw, ketika menulis:

> “Sekolah bukan tempat untuk melindungi perasaan, tapi tempat untuk memperkuat akal.”

Kita tampaknya lupa bagian itu.

Apa yang sebenarnya sedang kita ajarkan pada anak-anak dengan melaporkan guru setiap kali mereka merasa tidak nyaman? Bahwa perasaan lebih penting daripada kebenaran? Bahwa otoritas boleh diabaikan bila tidak menyenangkan? Bahwa dunia akan selalu meminta maaf setiap kali kita tersinggung?

Jika iya, maka jangan heran jika kelak mereka tumbuh menjadi generasi yang menuntut dunia untuk lebih sabar daripada mereka sendiri.

Sebuah ironi besar ketika kita berteriak tentang pentingnya pendidikan karakter, tapi menghancurkan karakter guru yang berani mendidik dengan benar. Kita bicara tentang etika digital, tapi menghakimi di kolom komentar. Kita menyerukan “guru pahlawan tanpa tanda jasa”, tapi dengan mudah menjadikannya korban tanpa pembelaan.

Pendidikan memang berubah, tapi semestinya tidak kehilangan maknanya. Zaman boleh berganti, tapi prinsip mendidik tak boleh luntur. Karena sejatinya, guru bukan sekadar pengajar ilmu, tapi penjaga moralitas bangsa. Bila guru tak lagi punya ruang untuk menegur, maka siapa yang akan menegakkan nilai?

Mungkin inilah saatnya kita merenung — bukan hanya tentang apa yang diajarkan di sekolah, tapi juga tentang apa yang sedang kita wariskan: generasi cerdas tanpa empati, atau generasi kritis tapi tanpa hormat?

Guru di era digital memang harus adaptif, tapi bukan berarti harus menjadi hamba “algoritma perasaan”. Pendidikan sejati tidak bisa tunduk pada budaya cancel dan sensitivitas semu. Sebab mendidik berarti membentuk manusia, bukan membentuk kenyamanan.

Satu kalimat yang patut direnungkan:

> “Dulu guru menegur agar murid belajar. Kini guru belajar agar tak ditegur.”

Betapa terbalik dunia ini.

Dan mungkin, dalam keheningan ruang kelas yang kini diawasi kamera, seorang guru menatap papan tulis dan berkata dalam hati:

> “Aku bukan ingin disanjung, hanya ingin dipercaya. Tapi tampaknya, di zaman ini, kepercayaan lebih sulit dari pujian.”

Pada akhirnya, biarlah kita tutup refleksi ini dengan sebaris kata satire yang menampar lembut:

> “Jika mendidik dianggap melukai, maka bersiaplah hidup di dunia di mana kebodohan dirayakan sebagai bentuk empati.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *