Di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat, di mana hutan dihitung dalam hektare dan sungai diukur dalam debit, kita jarang diberi kesempatan untuk berhenti dan bertanya: apa yang sebenarnya sedang kita rusak? Bukan hanya bentang alam, melainkan cara kita memahami keberadaan itu sendiri. Barangkali, krisis ekologis hari ini bukan semata krisis lingkungan, melainkan krisis cara memandang dunia—krisis makna yang merambat pelan namun dalam.
Kesadaran itulah yang kembali mengetuk batin saya ketika berjumpa dengan Prof. Seyyed Hossein Nasr. Perjumpaan ini tidak berlangsung dalam suasana dramatis, tidak pula dibingkai oleh jargon-jargon besar. Ia hadir sebagai peristiwa sunyi dalam perjalanan akademik saya, namun justru karena kesunyiannya, ia meninggalkan gema yang panjang.
Saya menghadiri perjumpaan bersama beliau sebagai seorang mahasiswa doktoral, dengan kebiasaan akademik yang sebagaimana biasanya: mencatat, menyusun kerangka analisis, dan menyiapkan pertanyaan kritis. Namun sejak menit-menit awal, saya menyadari bahwa ini bukan sekadar forum transfer pengetahuan. Ada sesuatu yang lebih mendasar sedang berlangsung—sebuah undangan untuk memperlambat cara berpikir dan mungkin juga cara hidup, di mana Prof. Seyyed Hossein Nasr berbicara dengan ritme yang jarang kita temui hari ini. Ia tidak tergesa-gesa, seolah menolak logika efisiensi yang mendominasi dunia akademik modern. Setiap kalimatnya seperti memberi jeda, mengajak kami sebagai pendengar wejangan beliau untuk tidak sekadar memahami, tetapi merenungkan. Dalam keheningan itulah, saya mulai menangkap pesan yang lebih dalam: bahwa ilmu pengetahuan, jika terputus dari akar spiritual dan etisnya, berisiko menjadi alat perusakan yang halus namun sistematis.
Tulisan ini merupakan refleksi personal penulis atas perjumpaan intelektual dengan Prof. Seyyed Hossein Nasr, serta kegelisahan ekologis yang menyertainya.
Dari Sains Modern ke Kegelisahan Kosmik
Dalam pernyampainnya, Prof. Seyyed Hossein Nasr menyingkap perjalanan intelektualnya sendiri—sebuah perjalanan yang mencerminkan ketegangan besar modernitas. Ia adalah produk unggulan pendidikan sains Barat: fisika, matematika, dan filsafat. Dunia yang menjanjikan kepastian melalui hukum alam dan rasionalitas. Namun justru dari dalam dunia itulah kegelisahan itu tumbuh.
Sekitar pertengahan 1960-an, Prof. Seyyed Hossein Nasr mulai mengajukan pertanyaan yang saat itu nyaris tidak mendapat tempat: mengapa teologi nyaris tidak berbicara tentang kehancuran alam? Lingkungan dibahas sebagai persoalan teknis dan ekonomi, tetapi jarang dipahami sebagai persoalan moral dan spiritual. Alam diperlakukan sebagai objek netral, bukan sebagai bagian dari tatanan kosmik yang hidup dan bermakna.
Bagi Prof. Seyyed Hossein Nasr, di sinilah akar krisis ekologis modern. Ketika alam tidak lagi dipahami sebagai ayat-ayat Tuhan, ia direduksi menjadi sekadar bahan mentah. Perusakan lingkungan bukanlah anomali, melainkan konsekuensi logis dari cara pandang yang memisahkan manusia dari kosmos.
Mendengar itu, ingatan saya melayang ke ruang-ruang kultural yang akrab. Di tanah kelahiran saya, di pulai Lombok, tanah tidak hanya dipahami sebagai lahan produksi, air bukan sekadar sumber daya, dan ritual bukan sekadar simbol. Akan tetapi didalamnya ada kesadaran kolektif tentang keseimbangan, tentang hidup yang harus dijalani dengan rasa hormat pada alam. Apa yang sering dilabeli “tradisi” oleh modernitas, oleh Prof. Seyyed Hossein Nasr dibaca sebagai sisa-sisa kearifan kosmik umat manusia.
Krisis Lingkungan sebagai Krisis Jiwa
Salah satu penegasan Prof. Seyyed Hossein Nasr yang paling membekas adalah bahwa krisis lingkungan tidak akan pernah selesai hanya dengan solusi teknologis. Energi terbarukan, pembangunan berkelanjutan, dan kebijakan iklim memang penting, tetapi semuanya akan rapuh jika tidak disertai perubahan cara pandang.
Masalahnya, kata Prof. Seyyed Hossein Nasr, bukan semata apa yang kita lakukan terhadap alam, melainkan bagaimana kita memandangnya. Ketika dunia dilihat sebagai kumpulan materi tanpa makna, eksploitasi menjadi masuk akal. Kerusakan ekologis adalah pantulan dari kekosongan batin manusia modern.
Pernyataan ini menggugah sekaligus mengusik. Dalam dunia akademik, kita sering merasa cukup dengan analisis kritis dan data empiris. Namun jarang kita bertanya: manusia seperti apa yang dibentuk oleh ilmu pengetahuan? Apakah ilmu itu melatih kepekaan dan tanggung jawab, atau justru memperhalus dominasi?
Prof. Seyyed Hossein Nasr mengingatkan bahwa tanpa pemulihan cara pandang sakral terhadap alam, solusi apa pun hanya akan menjadi tambalan sementara. Luka yang lebih dalam—luka cara berpikir dan cara hidup—akan tetap terbuka.
Tafsir, Bahasa, dan Kesetiaan yang Tenang
Dalam bagian lain pemaparan beliau, Prof. Seyyed Hossein Nasr menyinggung salah satu karya beliau yang terbaru yaitu The Study Quran. Ia tidak menyampaikannya sebagai pencapaian akademik, melainkan sebagai amanah intelektual dan spiritual. Menurutnya, Al-Qur’an semakin sering dibaca melalui kacamata modernisme yang cenderung menyederhanakan, atau puritanisme yang mengeringkan makna, ia sedang menunjuk pada dua cara membaca yang tampak berbeda, tetapi sama-sama membuat wahyu kehilangan kedalamannya.
Dalam pembacaan modernis, Al-Qur’an kerap diperlakukan seperti teks yang harus terus-menerus membuktikan dirinya di hadapan zaman. Ayat-ayatnya ditafsirkan agar selaras dengan sains modern, rasionalitas Barat, atau ide-ide kemajuan. Bagian-bagian yang bersifat simbolik, metafisis, dan kosmologis perlahan disisihkan, dianggap terlalu “mistis” atau tidak relevan. Al-Qur’an lalu tampil rapi, rasional, dan mudah dipahami—tetapi pada saat yang sama, ia menjadi datar. Kedalaman makna yang seharusnya mengajak manusia merenung dan merendah di hadapan misteri kosmos justru tereduksi menjadi pesan moral yang singkat dan praktis.
Pilihan menggunakan bahasa Inggris dalam karya ini bukanlah bentuk penundukan wahyu pada Barat, melainkan upaya menghadirkan kekayaan tradisi Islam ke dalam bahasa global. Tafsir klasik, suara para sufi, dan hikmah berabad-abad dihadirkan kembali dengan bahasa akademik yang ketat, tanpa kehilangan kedalaman spiritual.
Menariknya, Prof. Seyyed Hossein Nasr tidak membingkai ikhtiar ini sebagai perlawanan terbuka—tidak ada nada konfrontatif. Yang ada justru kesetiaan yang tenang—keyakinan bahwa tradisi yang dijaga dengan kesungguhan akan berbicara melampaui hiruk-pikuk zaman. Dalam budaya yang memuja kecepatan dan sensasi, sikap ini terasa nyaris subversif.
Pulang Tanpa Mundur
Prof. Seyyed Hossein Nasr menutup wejangan dalam perjumpaan tersebut tanpa menawarkan utopia. Ia hanya mengingatkan sesuatu yang sederhana, namun kerap terabaikan; ”Para nabi tidak mengajarkan manusia untuk menaklukkan bumi, melainkan untuk hidup selaras dengannya. Wahyu tidak hadir untuk membenarkan dominasi, tetapi untuk menata relasi—antara manusia, alam, dan Tuhan.”
Saya meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang bercampur aduk, antara duka dan harapan. Duka karena kerusakan ekologis telah melampaui batas. Harapan karena masih ada jalan pulang—bukan dengan menolak modernitas sepenuhnya, tetapi dengan menambatkannya kembali pada hikmah.
Perjumpaan dengan Prof. Seyyed Hossein Nasr bukan sekadar pengalaman akademik, ia menjadi cermin bagi perjalanan intelektual saya sendiri, sekaligus mengingatkan bahwa ilmu, jika tercerabut dari etika dan spiritualitas, dapat menjadi bagian dari masalah. Tetapi jika berakar pada tanggung jawab kosmik, ia dapat menjadi jalan penyembuhan.
Di dunia yang semakin bising dan rakus, suara Prof. Seyyed Hossein Nasr mengajak kita berhenti sejenak, mengingat kembali, dan memilih cara hidup yang lain—cara hidup di mana ilmu pengetahuan kembali menemukan akarnya, yakni kehidupan itu sendiri.
Intinya, bagi Prof. Seyyed Hossein Nasr, membaca Al-Qur’an secara utuh berarti membaca dunia secara berbeda. Alam tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang boleh dieksploitasi tanpa batas, melainkan sebagai ruang ibadah kosmik tempat manusia menjalankan peran kekhalifahannya. Dalam perspektif ini, menjaga lingkungan bukan agenda tambahan, tetapi konsekuensi langsung dari cara membaca wahyu.
Dengan demikian, kritik Prof. Seyyed Hossein Nasr terhadap modernisme dan puritanisme bukanlah nostalgia intelektual, melainkan panggilan etis yang sangat mendesak. Ia mengajak kita untuk kembali pada pembacaan Al-Qur’an yang hidup—pembacaan yang tidak menyederhanakan wahyu, tidak mengeringkan makna, dan tidak memutus hubungan manusia dengan bumi. Hanya dengan cara itulah, menurut Prof. Seyyed Hossein Nasr, kita bisa mulai menyembuhkan luka terdalam dari krisis ekologis—luka cara berpikir dan cara memaknai keberadaan.[]

Dosen UIN Mataram/Mahasiswa Doktoral Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal





