ISLAM DAN KEKACAUAN (?): Menimbang Ulang Cara Pandang, Membongkar Inferioritas, dan Mengembalikan Martabat Nalar Islam

Tulisan ini menyorot karya Wangsyah berjudul “Kekacauan dalam Agama, Mengapa Terjadi?” yang dimuat alamtara.co (19 Juli 2020):
https://alamtara.co/2020/07/19/kekacauan-dalam-agama-new-normal-dan-titik-balik-spritualitas-masyarakat-modern/
Tulisan itu sejak awal telah memikul problem epistemik yang serius. Bukan karena pertanyaannya tidak penting—justru pertanyaan tentang kekacauan adalah pertanyaan peradaban—melainkan karena kerangka berpikir, asumsi dasar, dan rujukan intelektualnya sejak judul sudah keliru arah.

Jika yang dimaksud “agama” dalam tulisan tersebut mencakup Islam, maka judulnya bermasalah. Sebab Islam, secara konseptual, teologis, dan historis, bukan sumber kekacauan, melainkan antitesis dari kekacauan itu sendiri. Bahkan secara etimologis—sebagaimana penulis kutip—agama dimaknai sebagai a-gama: tidak kacau. Maka ketika kekacauan dilekatkan pada agama, pertanyaannya bukan “mengapa agama kacau”, melainkan siapa yang mengacaukan agama.

Di titik ini, tulisan Wangsyah tampak tergelincir dalam jebakan klasik: menggeneralisasi pengalaman Barat, lalu memaksakannya sebagai lensa universal, termasuk untuk membaca Islam.

1. Kesalahan Fatal Sejak Judul: Islam Diseret ke Masalah yang Bukan Miliknya

Tulisan ini berbicara tentang modernitas, sekularisasi, deprivatisasi agama, konflik, kekerasan, rasisme, dan perbudakan—fenomena yang secara historis justru lahir dari rahim peradaban Barat modern, bukan dari Islam.

Sekularisasi ekstrem—yang “menyimpan agama di lemari kamar”—adalah pengalaman Eropa pasca trauma Gereja Abad Pertengahan. Islam tidak pernah mengalami konflik struktural antara wahyu dan rasio, antara agama dan ilmu, antara iman dan ruang publik. Itu luka sejarah Barat, bukan luka Islam.

Maka ketika pengalaman Barat itu dijadikan titik tolak untuk menyoal “agama”, lalu Islam dimasukkan begitu saja ke dalamnya, terjadilah ketidakadilan intelektual. Islam dipaksa menanggung dosa sejarah yang tidak pernah ia lakukan.

2. Paradoks yang Salah Sasaran: Bukan Islam yang Paradoks, tapi Cara Membacanya

Penulis menyatakan paradoks: agama bermakna tidak kacau, tapi justru melahirkan kekacauan. Namun paradoks ini hanya sah jika agama dipahami sebagai sistem yang berdiri sendiri, terlepas dari subjek pelakunya.
Dalam Islam, kekacauan tidak pernah dilekatkan pada ajaran, melainkan pada manusia yang gagal menunaikan amanah ajaran. Al-Qur’an sangat tegas membedakan antara ad-din dan af‘al al-mukallafin (perilaku pemeluk).

Islam tidak pernah mengklaim bahwa setiap tindakan orang beragama adalah representasi Tuhan. Justru Islam mengajarkan muhasabah, tazkiyatun nafs, dan kritik terhadap diri sendiri. Maka ketika kekerasan terjadi atas nama agama, Islam tidak berkata “itulah aku”, tetapi “itulah penyimpanganmu dariku”.

3. Silau pada Barat: Inferioritas yang Tidak Disadari

Salah satu problem paling serius dalam tulisan Wangsyah adalah ketergantungan penuh pada worldview Barat. Rujukan utamanya—Kuntowijoyo (yang sendiri berdialog dengan Barat) dan Ken Wilber (jelas non-Muslim)—dijadikan fondasi ontologis dan epistemologis untuk membaca Islam.

Pertanyaannya: Mengapa intelektual Muslim merasa harus selalu menafsirkan Islam lewat kacamata Barat?; Mengapa konsep-konsep Islam yang kaya tentang fitrah, ruh, nafs, qalb, ‘aql tidak dianggap cukup?; Mengapa justru teori kesadaran Barat yang diimpor, lalu Islam dipaksa menyesuaikan?

Ini bukan dialog setara, ini inferioritas intelektual. Barat baru “menguasai dunia” satu-dua abad terakhir—itu pun dengan kolonialisme, perampasan, dan kekerasan sistemik. Namun sebagian intelektual Muslim justru bertindak seolah Barat adalah hakim terakhir kebenaran, dan Islam hanyalah terdakwa yang harus menjelaskan diri.

Lebih ironis lagi: umat Islam malah menjadi jubir Barat untuk mengkritik Islam, bukan sebaliknya.

4. Reduksi Manusia: Kritik yang Benar, Tapi Arah yang Keliru

Penulis mengutip Wilber tentang flatland consciousness—kesadaran keluasan yang mereduksi manusia menjadi entitas material. Kritik ini sebenarnya valid. Tetapi masalahnya: Islam sudah mengajukan kritik itu 14 abad lalu.

Islam tidak pernah mereduksi manusia sebagai makhluk biologis semata. Konsep manusia dalam Islam bersifat integral: jasad (materi), nafs (psikis), ruh (dimensi ilahiah)

Al-Qur’an bahkan menempatkan manusia sebagai khalifah, subjek moral dan spiritual, bukan objek material. Maka ketika Wilber dianggap sebagai penemu kesadaran kedalaman, ini menunjukkan amnesia intelektual terhadap khazanah Islam sendiri.

Ironis: Islam dikritik dengan pisau analisis yang justru Islam sudah miliki sejak lama—namun dilupakan oleh umatnya sendiri.

5. Kesalahan Konseptual Serius: “Islam adalah Agama Tuhan”

Pernyataan bahwa menganggap Islam sebagai “agama Tuhan” menjadi sumber kekerasan adalah keliru dan berbahaya. Islam memang agama Tuhan—tetapi tidak pernah memberi lisensi kepada manusia untuk menjadi Tuhan kecil.

Masalahnya bukan pada keyakinan bahwa Islam berasal dari Allah, melainkan pada klaim absolut manusia atas kehendak Tuhan. Islam justru melarang itu. Al-Qur’an berkali-kali mengecam orang yang berlagak mengetahui kehendak Allah tanpa ilmu, hikmah, dan keadilan.

Menyalahkan “Islam sebagai agama Tuhan” atas kekerasan adalah logical fallacy. Itu sama saja menyalahkan pisau atas pembunuhan, bukan tangan yang menggunakannya.

6. Kekacauan Bukan pada Islam, Tapi pada Subjek yang Terlepas dari Fitrah

Di satu titik, penulis sebenarnya hampir sampai pada kesimpulan yang benar: kekacauan terjadi karena manusia belum menjadi manusia sepenuhnya. Namun ia berhenti di sana—tanpa kembali pada fitrah Islam sebagai solusi.

Dalam Islam, manusia yang terlepas dari fitrah akan melahirkan zulm (penindasan), fasad (kerusakan), dan baghy (agresi). Kekacauan bukan tanda agama gagal, tetapi tanda manusia memunggungi tuntunan agama.

Islam tidak kekurangan ajaran kemanusiaan. Yang kurang adalah keberanian umatnya untuk berpikir dengan kedaulatan epistemik, tidak terus-menerus menjadi konsumen dan penggemar teori Barat.

Penutup: Mengembalikan Martabat Nalar Islam

Tulisan Wangsyah penting sebagai kegelisahan, tetapi bermasalah sebagai bangunan pemikiran. Ia kritis, namun salah alamat. Tajam, tetapi menikam rumah sendiri dengan pisau pinjaman.

Islam tidak sedang mengalami krisis ajaran. Yang mengalami krisis adalah cara berpikir umatnya—yang terlalu silau pada Barat, terlalu curiga pada khazanah sendiri, dan terlalu cepat menyalahkan Islam atas dosa manusia.
Sudah saatnya intelektual Muslim berhenti menjadi echo chamber Barat.

Sudah waktunya Islam dibaca dengan worldview Islam, bukan dengan rasa rendah diri. Karena Islam tidak diturunkan untuk menjelaskan kekacauan. Islam diturunkan untuk mencegah, menyembuhkan, dan melampauinya.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *