Sebelum Presiden Prabowo menjabat dan membentuk kebijakan melalui beberapa program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, serpihan-serpihan idealisme masih melekat pada nalar pemuda. Idealisme anak muda diukur dengan kepekaan mereka terhadap isu-isu sosial dan politik, lalu mereka bergerak untuk melawan ketertindasan oleh pemerintah terhadap rakyatnya. Tentu mereka berjuang untuk mempertahankan idealisme sebagai pemuda. Namun, dewasa ini gerakan-gerakan yang demikian cenderung berkurang di beberapa daerah.
Saya berpandangan bahwa permasalahan ini merupakan pola yang sengaja dibentuk oleh pemerintah dengan tujuan untuk membungkam suara-suara pemuda yang memegang teguh idealisme mereka. Hilangnya idealisme pemuda bukan sesuatu yang terjadi begitu saja, tetapi ada rekayasa struktural dalam bentuk “kebijakan” negara. Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih menjadi alat pemerintah untuk menjinakkan daya kritis pemuda. Mengapa demikian? Jawabannya cukup pragmatis, “karena tidak adanya lapangan pekerjaan yang cukup untuk para pemuda”, janji 19 juta lapangan pekerjaan hanya omong kosong semata.
Pemuda yang seharusnya menjadi pasukan terdepan sebagai penyambung lidah rakyat (karena berharap pada DPR juga percuma) dan sekaligus sebagai kritikus kebijakan, kini justru menjadi bagian dari budak Presiden untuk menjalankan program yang kerap kali banyak yang tidak disetujui oleh kalangan akademisi dan masyarakat. Presiden sangat matang dalam perihal ini, ia memberikan penawaran gaji yang besar agar pemuda ketergantungan pada kebijakan-kebijakan yang dibentuk olehnya. Secara pelan dan jelas Presiden membunuh idealisme dan pemuda ketergantungan pada gaji tinggi yang diberikan dan ditawarkan oleh negara.
Fenomena ini terlihat dari beberapa teman saya yang dulunya cukup idealis dan peka terhadap ketidakadilan, akhirnya mereka kalah karena sudah masuk dalam sistem program Presiden. Ya, mereka menjabat sebagai SPPI kepala dapur MBG atau apalah itu. Saya melihat mereka terkesan seperti penjilat dan munafik, di media sosial mereka kerap terlihat postingan yang membela Presiden dan program Makan Bergizi Gratis. Data-data yang mereka peroleh jelas dari pemerintah, tentu data tersebut sudah diatur agar tidak merusak citra Presiden yang sudah berkoar bahwa Makan Bergizi Gratis menjadi program yang dapat memberikan kesejahteraan penuh pada rakyat.
Pada tanggal 1 Mei 2026, Hari Buruh. Presiden bertanya pada massa yang hadir untuk memeriahkan acara tersebut dengan pertanyaan “apakah MBG baik”, serentak mereka menjawab dengan tegas “TIDAK”. Perihal ini menunjukkan bahwa masih banyak sekali masyarakat yang tidak sepakat dengan program yang dibentuk oleh Presiden dan dijalankan oleh pemerintah. Sangat jelas bahwa rakyat akan menjawab tidak jika ditanya bahwa program Makan Bergizi Gratis itu adalah program yang baik. Karena praktiknya program ini banyak menumbal kebijakan-kebijakan lain, alih-alih menambal apalagi memperbaiki kebijakan lain yang salah penerapan pada daerah. Presiden justru membentuk program yang merugikan banyak pihak, salah satu contohnya adalah banyak dana yang dipangkas hanya untuk menjalankan program Makan Bergizi Gratis. Dana-dana yang dipangkas melahirkan masalah baru, dan yang kena dampaknya adalah masyarakat bukan pemerintah. Kesejahteraan? Tidak, Keadilan? Tidak juga, menimbulkan masalah baru? Iya. Lalu, apa yang baik dari program ini?. Jadi, sangat wajar sekali masyarakat menjawab tidak atas pertanyaan Presiden saat acara tersebut.
Program ini justru berdampak pada para pengusaha kaya yang dengan modal besar membuat dapur MBG, dan hanya mereka yang mendapatkan kesejahteraan melalui laba-laba yang diperoleh dari negara, dan laba tersebut dari pajak rakyat tentunya. Nah, jika Presiden Prabowo bertanya pada pengusaha “apakah MBG baik?” akan dengan tegas mereka menjawab “BAIK”. Dua sudut pandang antara pemilik modal dan rakyat menunjukkan bahwa program ini terbentuk untuk kebutuhan ekonomi kapitalis semata, bukan untuk kesejahteraan rakyat
Oleh karenanya, fenomena ini merupakan pemerkosaan intelektual oleh Presiden terhadap anak muda yang selama ini mempertahankan idealisme untuk menjaga kestabilan demokrasi – yang akhirnya chaos juga pada tawaran-tawaran kenikmatan dari Presiden. Demokrasi diubah menjadi otoriter. Dengan menyibukkan anak muda dalam teknis administratif dan operasional koperasi, pemerintah membentuk struktur yang dengan tujuan memangkas waktu mereka untuk berdialog, berorganisasi secara independen, dan bahkan mengkritisi kekuasaan yang sampai saat ini tidak menunjukkan pesona keadilannya. Strategi yang dijalankan ini mengatasnamakan pemberdayaan padahal yang terjadi sebenarnya adalah “penjinakan”. Pergeseran dari pemuda intelektual menjadi pemuda teknis yang berarti bukan lagi mempertanyakan “mengapa kebijakan ini dibentuk?” tetapi “bagaimana menjalankan dan mendukung program ini agar cair?”. Depolitisasi generasi ini terlihat jelas, namun banyak yang menutup mata untuk mempertanyakan eksistensi dari fenomena ini.
Dalam pandangan Antonio Gramsci melalui konsep hegemoni. Permasalahan ini dapat dibaca bahwa program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih merupakan cara pemimpin membangun hegemoni, sehingga memunculkan pernyataan tegas “bahwa menjadi pemuda yang baik adalah pemuda yang bekerja nyata dalam membantu program negara”, padahal seyogianya pemuda hanya dijadikan budak agar tidak bersuara dan melawan.
Perihal ini sebenarnya bukan kesalahan pemuda, tetapi memang pemerintah yang membuat pola agar anak muda dapat terikat dengan kebijakan yang dibentuk tanpa ada perlawanan. Seperti yang saya sebutkan di awal tulisan bahwa ini adalah rekayasa struktural untuk menjaga keberlangsungan program. Pemuda-pemuda yang sudah terlanjur masuk dalam sistem ini – dalam asumsi saya bahwa sebagian juga terpaksa karena kemiskinan yang semakin hari semakin parah, sehingga pemuda sulit mendapatkan akses kesejahteraan bagi mereka dan keluarganya. Siapa yang salah? ya tentu negara yang salah, mau nyalahin siapa lagi coba?.
Idealisme pemuda yang mulai terkikis bahkan ditebas menggunakan pedang dan ditembak dengan peluru kebijakan. Secara sementara negara memenangkan hegemoni dengan membuat setiap pemuda percaya bahwa bertahan hidup adalah satu-satunya tujuan hidup, dan nalar kritis adalah kemewahan yang tidak mampu mereka bayar.
Memang tidak semua pemuda masuk dalam sistem ini, masih ada sebagian yang mempertahankan idealisme untuk membela demokrasi yang adil dan makmur. Hidup terus nalar-nalar kritis yang masih tersisa ini.
Lalu, kapan kita sebagai pemuda akan memenangkan pertarungan ini?

Lulusan S1 Pengembangan Masyarakat Islam di Universitas Islam Negeri Mataram. Sekarang sedang melanjutkan S2 di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta





