Seorang pria terbangun dari tidurnya dan menemukan bahwa rantai yang telah menahannya sebagai tawanan seumur hidup telah terlepas. Ia melihat ke sekeliling, pada teman-temannya yang telah berada di gua itu bersamanya semenjak ia lahir. Mereka semua masih terlelap, terlena dalam mimpi, tapi lebih penting lagi mereka masih dirantai. Pria yang baru bangkit itu tidak tahu mengapa hanya dia sendiri yang telah terlepas. Ia hendak membangunkan teman-temannya ketika sesuatu menangkap matanya.
Bayangan pada dinding di depannya dari seseorang yang membawa sebuah benda di atas kepalanya. “Vas… vas…,” bayangan itu berkata. Tentu sang pria sudah mengenal bentuk benda tersebut dan juga sudah paham betul bahwa benda itu adalah sebuah vas. Sejak kecil ia sudah sering melihatnya dan mendengar namanya. Namun, apa yang kita sebut ‘bayangan’ adalah ‘realita’ bagi pria ini. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa ‘vas’ yang sangat dikenalnya itu sebenarnya hanyalah bayangan dari benda sebenarnya… hingga saat itu.
Ia berbalik dan melihat sesuatu yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya: sebuah sumber cahaya. Seperti terhipnotis, ia meninggalkan teman-temannya dan memanjat ke luar dari ‘dunia’-nya. Seketika, indra-indranya dibanjiri oleh segala macam informasi sensorik. Ia melihat hal-hal yang tidak dipahaminya. Sebuah benda besar yang terasa panas jika didekati, benda yang kita semua kenal sebagai api. Itulah sumber cahaya yang membuat bayangan-bayangan pada dinding mungkin ada. Namun, di balik itu, keluar dari mulut gua, ia menemukan sesuatu yang seribu kali lebih dahsyat: sebuah bola besar yang menyilaukan.
Bagi kita yang sudah sering melihat matahari, pemandangan itu bukanlah sesuatu yang luar biasa. Namun, bagi pria yang seluruh dunianya sebelum saat itu adalah sebuah gua gelap serta bayangan-bayangan pada dinding, pemandangan matahari cukup menggoncangkan rohaninya. Pertama, ia tidak dapat melihat apa pun kecuali cahaya yang menyilaukan itu. Setelah lama, matanya mulai menyesuaikan diri, dan dia melihat… sebuah vas. Bukan bayangan dari vas, melainkan sebuah vas asli. Kemudian ia melihat sekitar, pada langit yang biru, pohon-pohon yang rindang, orang-orang dengan pakaian beragam warna berjalan dengan membawa benda-benda berbagai rupa—benda-benda yang satu per satu ia kenali dari bayangannya. Ia melihat untuk pertama kalinya, benar-benar melihat, dengan matanya sebagai alat dan cahaya dari matahari sebagai perantara. Ia pun terpesona dengan keindahan dunia realitas.
Cerita tersebut merupakan narasi ulang saya dari sebuah alegori paling terkenal dalam dunia filsafat: alegori gua. Allegory of the Cave. Dalam buku monumentalnya, The Republic, filsuf Yunani Plato memperkenalkan alegori gua ini untuk menggambarkan kehidupan filsuf. Seorang filsuf adalah seperti pria dalam gua itu yang, setelah terbebaskan dari rantainya, mulai memahami bahwa bayangan-bayangan pada dinding bukanlah sumber langsung dari realitas yang dilihatnya. Seorang filsuf berusaha memahami tingkat realitas yang lebih tinggi ini. Namun, ketika ia kembali dan berusaha menyampaikan kabar mengenai realitas ini kepada penghuni gua lainnya dan membebaskan mereka, ia justru dicecar dan dikatakan telah gila. Para penghuni gua tidak ingin meninggalkan penjara gua mereka sebab hanya itulah kehidupan yang mereka kenal, dan mereka tidak berusaha untuk melihat lebih tinggi lagi. Mereka adalah budak yang hanya mengetahui apa yang mereka diizinkan untuk ketahui, melalui bayangan-bayangan dari kebenaran.
Alegori secara harfiah adalah suatu cerita di mana tokoh, latar, dan peristiwanya bertindak sebagai simbol untuk sebuah makna yang lebih besar. Menurut saya, alegori gua dalam bentuknya yang paling dasar adalah tentang pencarian kebenaran. Beserta alegori gua, Plato juga memperkenalkan analogi Matahari, di mana ia menyatakan bahwa Matahari dengan cahayanya menerangi, menganugerahi kita semua dengan kemampuan untuk melihat dengan mata. Kebenaran ada di mana-mana di sekitar kita, dan Matahari memberi kita kemampuan untuk melihatnya.
Meski begitu, mengapa banyak sekali dari kita yang masih saja tidak dapat melihat kebenaran itu? Tentunya ada banyak faktor, tapi salah satunya adalah karena banyak dari kita yang menolak untuk melihat kebenaran. Seperti para penghuni gua, kita hanya melihat apa yang disuguhkan kepada kita, lantas menerimanya sebagai kebenaran tanpa berusaha melihat lebih jauh dari itu.
Semua itu membawa saya ke hari ini, masa kini. Tidak ada momen dalam sejarah di mana informasi mengenai segala hal begitu melimpah dan mudah diakses seperti sekarang. Matahari tidak pernah seterang ini sebelumnya. Maka, logika mengatakan bahwa lebih banyak manusia yang dapat melihat kebenaran, bukan? Namun, nyatanya, masih banyak manusia yang terselimuti kegelapan. Lebih memilih dirantai dalam gua gelap daripada mengklaim kebebasannya.
Membunuh warga sipil—baik itu anak-anak, orang tua, pria, wanita, segalanya—itu salah, dan itu adalah mutlak. Fakta bahwa kebenaran absolut ini meski saya tegaskan ulang, adalah testimoni tersendiri dari betapa gelapnya kemanusiaan. Di depan mata kepala sendiri, kita melihat kekejaman-kekejaman yang dilakukan pemerintahan Israel kepada warga Palestina. Kita menyaksikan genosida melalui layar masing-masing. Namun, masih ada yang ingin membenarkan kekejaman yang begitu jelas ini, menyematkan padanya kata-kata seperti ‘tapi…’ untuk menjustifikasi genosida.
Siapa yang mesti disalahkan jika sudah seperti ini. Menurut saya, kita semua memiliki andil dalam derajat yang beragam dalam masalah ini. Namun, satu hal yang menjadi pemeran utama dalam membentuk pandangan serta sentimen orang adalah media. Media yang kita konsumsi sehari-hari dalam segala bentuknya adalah saluran asal dari informasi yang kita konsumsi. Dalam hal ini, media patut dikatakan sebagai api dalam alegori gua yang memberikan bayangan terhadap bentuk. Maka, yang mengendalikan saluran ini memiliki kekuasaan besar sebab ia bisa mengendalikan apa yang kita lihat dan tidak kita lihat. Hanya mereka yang berani memanjati gua itu yang dapat melihat kebenarannya.
Piala Dunia 2026 baru-baru ini menyediakan sebuah panggung yang menarik untuk menyaksikan fenomena ini secara lebih dekat. Semenjak dimulai pada bulan Juni silam, Argentina sebagai juara dunia Piala Dunia sebelumnya pada tahun 2022, telah berada di bawah sorotan dunia. Dipimpin oleh Lionel Messi, mereka menjadi salah satu tim favorit untuk memenangkan turnamen kali ini. Bersamaan dengan antisipasi itu, terdapat kenaikan yang tajam dalam sentimen-sentimen negatif terhadap tim sepak bola Argentina dan Lionel Messi. Sebagian besar sentimen tersebut berasal dari basis-basis penggemar tertentu yang menolak mengistirahatkan perdebatan mengenai siapa G.O.A.T. (Greatest of All Time) sepak bola. Akan tetapi, tidak sedikit juga sentimen yang berasal dari sesuatu yang sama sekali berbeda, hal-hal yang tidak berhubungan langsung dengan sepak bola.
Pada bulan Maret, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi resolusi penting yang membahas kesalahan historis perdagangan dan perbudakan orang Afrika lintas Atlantik (Transatlantic Slave Trade) serta menyerukan keadilan reparatif. Dari 178 negara yang memberi suara, 123 negara mendukung, 52 negara abstain, dan 3 negara menentang: Amerika Serikat, Israel, dan Argentina.
Penolakan Argentina untuk mengutuk tindakan dehumanisasi besar-besaran terhadap sesama manusia, yakni Transatlantic Slave Trade, tentu saja merupakan keputusan yang immoral dan salah, tapi tidak mengejutkan. Hal ini merupakan representasi dari sebuah tren yang sedang berlangsung dalam badan pemerintahan Argentina semenjak pendirian negaranya. Di Argentina, ideologi rasis yang meluas telah dibangun di atas gagasan supremasi Eropa. Ideologi ini mengatakan bahwa Argentina adalah negara yang dihuni dan dibangun oleh imigran Eropa murni dan berbeda dari Amerika Latin. Ketika negara Amerika Latin lainnya mengidentifikasi diri sebagai negara multietnis pada abad ke-20, Argentina tetap mengidentifikasi dirinya sebagai negara yang seluruhnya berkulit putih, meski kenyataannya sangat jauh dari klaim tersebut. Dalam Konstitusi Nasional Argentina, Pasal 25 membedakan antara imigrasi Eropa (yang dianggap sebagai hal baik) dengan imigrasi non-Eropa. Pasal 25 ini telah bertahan melalui semua reformasi konstitusi Argentina selanjutnya.
Lebih baru lagi, pada April tahun ini, Presiden Argentina Javier Milei mengunjungi Israel untuk bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Isaac Herzog. Tujuan kunjungannya adalah untuk memperkuat keselarasan Argentina dengan Israel dan dukungannya terhadap Israel dan Amerika Serikat dalam perang melawan Iran. Hal ini dilakukannya di tengah-tengah genosida Israel terhadap Palestina yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Keputusan Javier Milei untuk mengidentifikasi diri dengan pemerintah Israel menunjukkan kecenderungan politis serta kebusukan moralnya.
Kembali lagi ke Piala Dunia. Messi, sang pemain 39 tahun yang mana pemain lain pada umurnya saat ini kebanyakan telah angkat sepatu, pada Piala Dunia ini masih bersaing dengan pemain-pemain muda seperti Mbappé, Kane, dan Haaland. Messi dengan performanya yang luar biasa membawa timnya melewati babak penyisihan grup hingga final. Namun, di setiap tikungan tidak pernah ada kekurangan suara-suara yang hendak menjatuhkan pencapaian-pencapaiannya, bahkan mengklaim bahwa Piala Dunia, baik tahun ini maupun yang sebelumnya yang dimenangkan Messi, telah dimanipulasi untuk mengamankan kemenangan bagi Argentina.
Perdebatan sepak bola semacam ini telah menjadi bagian integral dari atmosfer sepak bola dunia. Messi pun bukanlah seorang pemula di dunia sepak bola yang sering kali tak kenal ampun. Teringat ketika ia kalah dari Jerman di final Piala Dunia 2014 setelah menyeret timnya hingga final. Ia dikatakan telah gagal di kancah internasional, memalukan Argentina, dan tidak patut disandingkan namanya dengan Diego Maradona. Akan tetapi, pada Piala Dunia kali ini, jenis kritik tertentu semakin populer, yakni kritik terhadap identitas Messi sebagai seorang warga Argentina, dan puncaknya adalah menjelang final Argentina vs Spanyol.
Adalah hal biasa untuk memilih satu negara di atas negara lainnya untuk membawa pulang piala. Mereka yang tidak memiliki koneksi nasional pada negara mana pun yang bertanding, mungkin akan memilih berdasarkan pemain yang mereka idolakan, cara bermain yang cantik, atau bahkan sesederhana warna baju jersey. Tidak ada yang salah dengan hal itu, karena memang begitulah cara kerja otak manusia. Ketika memilih antara dua hal, kita menggunakan isyarat-isyarat kecil maupun besar untuk menentukan pilihan. Akan tetapi, ketika kita menggunakan prasangka-prasangka tertentu untuk menentukan pilihan, di situlah permasalahan bermula.
Tindakan-tindakan Javier Milei kembali mengingatkan dunia akan Argentina yang secara historis memiliki masalah terkait diskriminasi berbasis ras. Namun, perlu diingat bahwa pandangan dan tindakan sebuah pemerintahan tidak mencerminkan warganya. Messi bukanlah Javier Milei, begitu juga seluruh warga Argentina lainnya. Sebuah riset yang meneliti pandangan terhadap Israel di 36 negara menunjukkan bahwa mayoritas sampel dari Argentina memiliki pandangan yang negatif terhadap Israel. Lagi pula, jika kita ingin berbicara tentang diskriminasi, hampir semua negara memiliki sejarahnya. Tidak perlu jauh-jauh untuk mencari contoh, masih segar dalam ingatan banyak orang Indonesia mengenai pembantaian massal simpatisan dan anggota PKI tahun 1965 di bawah komando militer Soeharto. Hingga sekarang pun, masih banyak orang Indonesia yang berpendapat bahwa pembantaian tersebut terjustifikasi.
Meski demikian, sentimen telah tersebar dan pandangan kalangan minoritas dari pemerintahan sudah digeneralisasi kepada seluruh warga Argentina. Kini, banyak sekali yang menganggap bahwa seluruh warga Argentina rasis tanpa kecuali. Pada Piala Dunia ini, banyak dari suara yang ingin menjatuhkan Messi mengangkat isu bahwa Argentina adalah negara yang rasis sehingga tidak layak didukung. Ya, tentu saja, sebuah tim sepak bola bertanggung jawab atas apa yang dilakukan pemerintahnya. Kenapa saya tidak kepikiran itu sebelum memilih mendukung Argentina untuk melihat Messi mengangkat Piala Dunia keduanya.
Mereka yang menolak dan mengecam tim sepak bola Argentina karena berasal dari negara yang ‘rasis’ mungkin merasa diri superior secara moral atas pilihannya tersebut. Mari kita menganalisis jalan pikiran ini:
“Saya tidak ingin mendukung sebuah negara yang rasis, maka saya akan mengeneralisasi tindakan pemerintahan negara tersebut ke satu negara hingga tim sepak bolanya. Dengan demikian, saya telah melakukan tindakan moral”
Sebentar, mari kita putar balik. Mengeneralisasi tindakan pemerintah (sebuah golongan kecil dari populasi yang banyak) ke satu negara, bukankah itu terdengar familier? Ya, kesalahan pemikiran yang sering disebut Group Attribution Error ini adalah logika yang sama yang menjadi sumber dari berbagai tindakan pelanggaran HAM dalam sejarah. Ambil saja contoh Israel. Meski konflik ini bisa dilacak hingga tahun 1945, mereka menggunakan dalih serangan 7 Oktober oleh Hamas (golongan minoritas) untuk membenarkan peluncuran serangan tak habis-habis kepada seluruh warga Palestina. Ironis, bukan? Pemikiran yang mereka anggap benar ternyata adalah sebuah jurang. Persis seperti para pria dalam gua yang mengira bayangan yang mereka lihat adalah kenyataan.
Prasangka buruk ini pun menyebar hingga ke para pendukung tim sepak bola Argentina. Dalam sebuah video pendek yang diunggah di media sosial TikTok, terlihat seorang wanita paruh baya yang mengenakan baju jersey Argentina. Ia menunjukkan lencana Asosiasi Sepak Bola Argentina pada dadanya dengan bangga usai kemenangan Argentina pada semifinal melawan Inggris. Terdapat teks bergaya Snapchat pada layar yang tertulis: “I’m about to call ice” (“Saya akan memanggil ICE”).
Yang dimaksud dengan ‘ice’ dalam video tersebut ialah Immigration and Customs Enforcement (ICE), sebuah badan penegak hukum federal di bawah Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat. Pada masa jabatan kedua Presiden Amerika Serikat Donald Trump, ICE telah terlibat dalam berbagai kontroversi dan menjadi sasaran protes dan kritik dari berbagai pihak. Salah satu komponen utama ICE adalah Enforcement and Removal Operation (ERO) yang memiliki tugas atas penangkapan, penahanan, deportasi, dan pemulangan imigran illegal. ICE dan ERO bertanggung jawab atas banyak kematian, pemisahan keluarga, deportasi yang salah, dan berbagai pelanggaran HAM lainnya. Pada tahun 2026 saja, telah terdokumentasi setidaknya 22 kematian oleh ICE.
Video pendek tersebut disambut dengan komentar-komentar yang mengecam pengunggah video atas ‘candaan’-nya yang bodoh dan tidak peka pada penderitaan korban-korban ICE. Namun, tidak sedikit juga komentar yang justru setuju dengan pengunggah video. Salah satu pengguna berkomentar: “As a Latin American… do it” (“Sebagai seorang Latin Amerika… lakukanlah”). Populasi Latin Amerika di Amerika Serikat yang merupakan target utama agen-agen ICE merupakan golongan yang paling dirugikan oleh ICE. Komentar ini dan lainnya yang serupa menunjukkan betapa diskriminasi telah ternormalisasi dan betapa dalamnya kebencian terhadap Argentina hingga pada tahap dehumanisasi. Di sinilah kita mesti berhati-hati, sebab generalisasi dan dehumanisasi merupakan dua bahan utama berbagai tragedi dalam sejarah manusia.
Sepak bola sebagai olahraga terbesar di dunia seharusnya menjadi jembatan yang menyatukan dunia dalam perdamaian. Teringat pada lagu resmi Piala Dunia 2014 berjudul ‘We Are One’ oleh Pitbull dengan liriknya yang menekankan perdamaian sambil tetap membanggakan identitas nasional masing-masing, karena pada akhirnya, kita adalah satu (we are one). Yang diperlukan hanyalah sebuah bola dan siapa pun dapat bermain sepak bola terlepas dari identitas masing-masing. Itulah intisari dari olahraga yang kita cintai ini, yakni sepak bola.
Sesuatu yang begitu universal seperti sepak bola tentunya tidak akan sepi dari kontroversi. Namun, penebaran kebencian atas nama sebuah olahraga bertentangan dengan apa yang diwakili oleh sepak bola sebagai olahraga dunia.
Lalu pada akhirnya, apa yang didapatkan dari semua kebencian ini? Argentina kalah 1-0 dari Spanyol pada final. Dunia berbahagia atas kemenangan Spanyol, tapi tidak sedikit juga yang berbahagia karena alasan lain. Mereka berbahagia atas kekalahan Argentina dan menertawakan Messi ketika ia meneteskan air mata di hadapan para pendukungnya. Beberapa merayakan kekalahan tim sepak bola Argentina sebagai sebuah kemenangan bagi kemanusiaan. Namun, apa yang terjadi di Palestina masih berjalan, serangan Amerika Serikat terhadap Iran masih berlanjut, dan ketidakadilan di seluruh dunia masih merajalela. Tentu, sangat boleh merayakan sebuah kemenangan, tapi kita tidak boleh mencampuradukkan simbolisme dengan keadilan.
Yang sangat disayangkan adalah bahwa ini semua bisa dihindari jika kita berhenti sejenak dan berpikir. Media sosial kini menjadi sumber berita utama di dunia. Kemudahan aksesnya membuatnya menjadi pilihan pertama bagi sebagian besar orang untuk mendapatkan informasi-informasi terkini di dunia. Ditambah lagi, algoritma media sosial dapat menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan minat setiap pengguna. Hal ini memiliki banyak sekali dampak pada bagaimana kita menerima informasi, salah satunya adalah pengaktifan bias konfirmasi, di mana algoritma dapat menunjukkan kepada kita berita-berita yang sudah sejalan dengan sentimen sebelumnya yang belum tentu akurat dengan fakta.
Ketika mendapatkan suatu informasi dari media apa pun, penting bagi kita untuk tidak serta-merta menerimanya sebagai suatu kebenaran. Adalah guru dari Plato, filsuf Yunani Socrates, yang mengatakan bahwa kita mesti mempertanyakan segala hal yang kita ketahui. Ia terkenal dengan ucapannya “Saya hanya tahu bahwa saya tidak tahu apa pun”. Ia mengatakan itu bahkan ketika ia dianggap oleh banyak orang sebagai orang paling bijak pada masanya. Kebijakannya itu berasal dari penolakannya untuk serta-merta menerima apa pun sebagai kebenaran, bahkan suatu hal yang kita sangat yakin benar. Kita mesti berangkat dalam perjalanan sendiri untuk mencari informasi dan menarik kesimpulan sendiri. Setelah kesimpulan ditarik pun, kita tidak boleh menganggapnya sebagai kebenaran mutlak karena akan selalu ada kemungkinan bahwa kesimpulan tersebut salah.
Bukan hanya dalam konteks ini, tetapi banyak masalah di dunia bisa dihindari jika kita mengimplementasikan metode berpikir kritis ala Socrates. Jika tidak, kita berisiko menjadi seperti orang-orang dalam gua di Alegori Gua Plato mengira mereka sedang hidup dalam realita ketika segala hal yang mereka ketahui hanyalah bayangan dari realita tersebut. Maka, raih kebebasanmu, lepaskanlah rantaimu, lalu bukalah matamu pada dunia.

Siswa Kelas XI MAN Insan Cendekia Pekalongan dan Alumni Madrasah Sayang Ibu, Lombok





