Ketika Dunia Memeluk Kita Kembali: Renungan tentang Pulang, Luka, dan Kekerabatan yang Membentuk Masa Depan Bumi

Ada kalimat yang muncul seperti desir angin yang pelan, ”Bahwa dunia tidak meminta untuk diselamatkan-dunia hanya meminta untuk diingat kembali”. Kalimat sederhana ini dapat mengguncang siapa pun yang mulai merasa bahwa bumi semakin menjauh dari manusia, atau justru manusia lah yang semakin menjauh dari bumi.

Refleksi itu menguat ketika saya menghadiri acara bedah buku yang berjudul “Flourishing Kin: Indigenous Wisdom for Collective Well-Being” karya Yuria Celidwen, dalam pertemuan tahunan American Academy of Religion 2025 di Boston. Adapun sinopsis buku tersebut sebagai berikut: Flourishing Kin, menjembatani ontologi dan metodologi Pribumi, penelitian akademis, dan ekspresi puitis untuk menumbuhkan kemakmuran kolektif yang berkelanjutan melalui spiritualitas dan ilmu kontemplatif Pribumi. Celidwen memiliki pandangan bahwa relasionalitas dan kemakmuran sebagai pencapaian spiritual-estetika yang hanya mungkin terjadi dalam komunitas melalui pengembangan hubungan dengan semua kerabat, dari manusia hingga yang lebih dari manusia, dan bumi yang hidup. Penelitian Celidwen mengambil inspirasi dari spiritualitas Pribumi melalui ontologi dan metodologi dari pendidikannya dalam Tradisi Nahua dan Maya serta Tradisi Pribumi lainnya dari seluruh dunia. Penelitiannya berdialog dengan Studi Kontemplatif, Studi Keagamaan, Studi Lingkungan, Agama dan Ekologi, Agama Afrika, dan Agama Timur untuk menunjukkan manfaat luar biasa dari mengintegrasikan bentuk-bentuk kontemplasi Pribumi dalam pendekatan kesejahteraan.  Melalui ekspresi puitis dan pengungkapan kebenaran yang autentik, Celidwen mengundang jalan yang menghadapi kompleksitas dunia dengan rasa hormat dan partisipasi penuh sukacita dalam berkembangnya semua makhluk hidup.

Awalnya saya datang dengan bayangan bahwa ini hanyalah diskusi akademik biasa, namun yang terjadi di ruangan bedah buku itu bukan sekadar diskusi akademik biasa. Tidak ada jarak dingin yang biasanya memisahkan teori dari tubuh, wacana dari pengalaman, konsep dari rasa. Hari itu, ruangan akademik berubah menjadi ruang penyembuhan-ruang di mana bumi, luka, dan kebijaksanaan leluhur berbicara dalam satu napas panjang.

Flourishing Kin bukan hanya teks; ia adalah panggilan lembut yang mengetuk sisi terdalam kemanusiaan kita. Ia mengundang kita untuk pulang—bukan sekadar kembali ke sebuah tempat, tetapi pulang sebagai perjalanan untuk pulih. Pulang ke tubuh, dalam arti kembali merayakan diri sebagai makhluk yang hidup, bernapas, dan merasa—bukan sekadar mesin produktif modernitas.

Pulang ke tanah, sebab di sanalah akar kehidupan selalu menunggu: tanah yang memberi makan, menyembuhkan, dan memegang memori ribuan tahun. Pulang ke sejarah diri, yang sering tampak kabur oleh hiruk pikuk zaman, tetapi tetap menjadi kompas paling jujur untuk memahami siapa kita dan ke mana kita menuju. Dan pulang ke jaringan kehidupan, yakni keterhubungan antara manusia, alam, sesama makhluk hidup—jaringan yang pernah menjadikan kita utuh, sebelum modernitas memisahkan kita dari ritme alam semesta.

Dan hari itu, saya menyadari sesuatu yang tidak pernah saya perkirakan sebelumnya,  bahwa dunia tidak sedang marah-dunia sedang merindukan kita.

Pulang: Kata yang Menggetarkan, namun Sering Kita Takuti

Dalam kehidupan modern yang bergerak cepat, kata pulang sering terdengar sentimental atau klise, tetapi dalam tataran local wisdom menjadi dasar Flourishing Kin, pulang bukan nostalgia, pulang adalah kerja batin, sebuah praksis ontologis, dan sebuah pengembalian orientasi pada jejaring kehidupan.

Pulang berarti mengingat bahwa manusia adalah bagian dari bumi, bukan pusatnya. Bahwa tanah bukan sekadar lahan, tetapi tubuh leluhur. Bahwa sungai bukan sekadar air, tetapi aliran ingatan purba. Bahwa angin bukan sekadar udara, tetapi pesan yang membawa kita mengenali arah.

Selama ratusan tahun, modernitas memaksa manusia melangkah menjauh dari bumi dengan dalih kemajuan. Kita diajari bahwa hidup yang baik berarti mengatasi alam, bukan hidup berdampingan dengannya. Kita dibentuk menjadi individu yang utuh secara ekonomi namun rapuh secara relasional. Buku ini memotong ilusi itu dengan lembut namun tegas.

Baca Juga  Agama-Agama Pra-Islam dalam Berbagai Sorotan (2)

Flourishing tidak akan pernah tercapai jika kita hanya memaknai kesejahteraan sebagai kondisi mental individu. Kesejahteraan sejati hanya lahir ketika manusia kembali merasa terhubung dengan tanah, air, udara, leluhur, dan sesama makhluk. Dan di situlah kita mulai mengerti apa itu pulang.

Luka: Apa yang Terjadi Saat Kekerabatan Retak

Ketika panelis membaca bagian demi bagian buku ini, sesuatu yang mengejutkan terjadi: banyak dari mereka menangis. Air mata itu bukan kelemahan; itu adalah bahasa yang jarang bisa muncul dalam forum akademis.

Air mata itu mengalir karena mereka untuk pertama kalinya mengizinkan diri merasakan sesuatu yang selama ini ditahan oleh dunia ilmiah—yakni rasa kehilangan—Kehilangan bahasa leluhur, kehilangan hubungan dengan tanah, kehilangan tubuh yang peka terhadap suara dunia, dan kehilangan rasa sakral yang pernah mengalir di antara manusia dan alam.

Dalam epistemologi adat, kehilangan paling menyakitkan bukan kehilangan harta, bukan kehilangan status, tetapi kehilangan kekerabatan, karena kekerabatan adalah cara untuk mengingat bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian.

Panelis dari tradisi Buddhis, psiko-ekologi, hingga studi agama mengakui bahwa kolonialisme epistemik tidak hanya mencuri tanah dan sumber daya, tetapi juga mencuri cara manusia memaknai keberadaannya sendiri. Dampaknya bukan sekadar kerusakan di luar diri, tetapi juga pengaburan kepekaan paling dasar yang dulu menuntun manusia untuk dapat membaca dunia dengan kedalaman—Kita kehilangan “mata spiritual” untuk melihat dunia sebagai kerabat. Kita kehilangan “telinga batin” untuk mendengar suara angin. Kita kehilangan “bahasa tubuh” untuk menjalin relasi dengan makhluk lebih–dari–manusia.

Dalam dunia yang kehilangan kekerabatan, semua menjadi objek: tanah untuk dieksploitasi, hutan untuk dibakar, sungai untuk dialihkan, manusia untuk diperas, dan tubuh untuk dikendalikan. Demikianlah luka itu tumbuh, antar generasi, antar sejarah, dan antar tubuh.

Kekerabatan: Ontologi yang Menghidupkan Kembali Dunia

Konsep utama yang disampaikan dalam buku ini—kin relationality—sering dipahami orang sebagai metafora indah bahwa “kita bersaudara dengan alam”. Tapi di banyak budaya adat, ini bukan metafora, tetapi ontologi. Ini adalah kenyataan kosmis—bahwa air adalah saudara tua, gunung adalah penjaga purba, batu adalah penutur waktu yang lambat, pohon adalah penyimpan napas dan ingatan, dan dunia lebih–dari–manusia (more-than-human world) adalah keluarga.

Ketika kekerabatan dipahami secara ontologis, hubungan tidak lagi menjadi objek kajian; hubungan menjadi jantung pengetahuan. Kebenaran tidak ditemukan melalui pemisahan, tetapi melalui keterikatan. Dari sinilah lahir sebuah cara memahami dunia yang menyatukan kembali pecahan-pecahan yang tercerai oleh modernitasinilah epistemologi yang membuat dunia terasa utuh kembali, karena pada kenyataannya, manusia tidak dirancang untuk hidup terpisah, akan tetapi manusia dirancang untuk hidup terjalin.

Salah satu panelis berkata: “Kita tidak butuh spiritualitas yang membuat kita melupakan dunia. Kita butuh spiritualitas yang membuat kita mencintainya.” Dan inilah sesungguhnya yang ditawarkan Flourishing Kin. Buku ini mengembalikan spiritualitas ke tanah, ke air, ke tubuh, ke kehidupan yang konkret dan berdenyut. Kalimat ini mengandung gagasan bahwa spiritualitas sejati bukan sesuatu yang jauh di awang-awang, melainkan sesuatu yang dekat—melekat pada keseharian kita. Ia tidak hidup di ruang abstrak, tetapi berakar pada pengalaman manusia paling dasar: tanah yang kita pijak, air yang mengalir dalam tubuh, napas yang keluar masuk tanpa henti, dan kehidupan yang terus berdetak di sekitar kita.

Mengapa Masa Depan Bumi Tergantung pada Cara Kita Pulang

Baca Juga  Ihwal Relasi Agama dan Sains

Krisis iklim sering disederhanakan sebagai krisis energi, krisis karbon, dan krisis industri, padahal akar persoalannya jauh lebih dalam—Kita kehilangan rasa memiliki rumah di bumi—bumi bukan lagi keluarga, melainkan objek produksi. Tanah bukan lagi makhluk hidup, melainkan komoditas. Dan sungai bukan lagi tubuh air, melainkan saluran ekonomi.

Tidak ada teknologi—seberapapun canggihnya, yang bisa menyembuhkan dunia jika manusia tidak menyembuhkan hubungan dengan dunia itu sendiri.

Panel tersebut sepakat bahwa: Kita tidak dapat mengatasi krisis ekologis tanpa mengatasi krisis kekerabatan, kita tidak dapat memulihkan bumi tanpa memulihkan rasa keterhubungan, dan kita tidak dapat merawat lingkungan jika kita kehilangan kemampuan untuk merawat apa pun secara emosional.

Itulah sebabnya Flourishing Kin bukan hanya buku, tetapi alat transformatif. Ia bukan hanya memberi tahu apa yang harus dilakukan, tetapi mengajarkan bagaimana merasakan kembali dunia yang selama ini kita diamkan. Karena rasa adalah pintu pertama menuju etika, dan etika adalah pintu pertama menuju tindakan kolektif.

Ketika Dunia Memeluk Kita Kembali

Pada puncak diskusi, suasana hening sesaat. Seseorang di panel berkata pelan, “Bumi sudah terlalu lama menunggu kita.” Kalimat itu menggantung, seperti kabut tipis di pagi hari yang belum sepenuhnya pecah. Dalam hening itu, saya membayangkan bumi sebagai tubuh yang hangat—bukan figur romantis, tetapi entitas hidup yang menanggung ingatan miliaran tahun.

Dan saya berpikir: bagaimana jika dunia sebenarnya tidak jauh dari kita? Bagaimana jika dunia justru sedang merentangkan tangan, memeluk kita kembali setiap kali kita berhenti dan mendengarkan?

Flourishing Kin mengajarkan bahwa pelukan dunia tidak hadir dalam bentuk spektakuler. Pelukan itu hadir—dalam desir angin pagi di kulit, dalam kelembutan tanah yang kita injak, dalam suara air yang mengikuti ritme napas, dalam cahaya matahari yang seolah berbicara tanpa kata.

Pelukan dunia adalah pelukan yang tidak pernah berhenti, kita sesungguhnya yang menjauh, kitalah yang lupa, kitalah yang sibuk mengejar dunia buatan hingga kehilangan dunia yang melahirkan kita. Dan ketika jarak itu terasa semakin lebar, kita sering mengira bahwa jalan pulang telah hilang, padahal ia hanya tertutup oleh kesibukan dan kebisingan yang kita ciptakan sendiri. Namun buku ini menunjukkan bahwa pelukan itu tetap tersedia, kapan pun kita ingin kembali.

Dan Akhirnya, kita mengerti bahwa masa depan keberadaan kita, tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi, tetapi oleh seberapa dalam kita ingat bahwa kita adalah anak dari bumi. Kesadaran inilah yang kemudian membuka mata kita bahwa seluruh kemajuan tak berarti apa-apa jika kita melupakan rumah asal yang telah menopang hidup manusia sejak awal—bahwa kita adalah bagian dari jaringan kehidupan yang saling menopang, kesejahteraan pribadi tidak pernah terpisah dari kesejahteraan bumi, kekerabatan adalah fondasi dari seluruh keberlangsungan, dan bahwa di tengah segala luka, dunia masih berkata: “Aku tetap di sini, Kembalilah.”

Inilah inti yang paling dalam dari Flourishing Kin—dan inti yang dirasakan oleh semua yang menghadiri bedah buku itu forum American Academy of Religion: Bahwa mungkin, setelah semua perjalanan panjang kita, semua pencarian rumit kita, semua peradaban yang kita bangun, kita hanya sedang mencari cara untuk pulang. Yakni bagaimana cara kita untuk menata kembali hubungan spiritual, moral, dan ekologis.[]

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *