Debt Collector yang Diabaikan

KITA pasti pernah mendengar atau paling tidak pernah membaca bahwa rezeki yang kita terima belum tentu untuk kita, bisa jadi kita hanya sebagai media atau jalan bagi rezeki orang lain, sementara rezeki  yang benar-benar menjadi milik kita adalah apa yang kita makan, apa yang kita pakai, dan apa yang kita simpan di jalan Tuhan berupa infak dan sedekah.

Terkait dengan rezeki yang terakhir berupa simpanan untuk investasi akhirat, terkadang amat sedikit dari kita yang menyadarinya, bahwa apa yang kita simpan lewat sedekah, hadiah, sumbangan, dan berbagai wadah sosial lainnya adalah rezeki kita yang sesungguhnya.

Penting untuk disadari bahwa hidup kita di atas planet bumi bukanlah masa satu-satunya dari fase kehidupan, akan tetapi ada fase berikut sebagai fase kehidupan lanjutan, dan fase kehidupan itu membutuhkan bekal, butuh modal, dan butuh sarana. Sementara sarana dan waktu mengumpulkan bekal kehidupan selanjutnya itu adanya di planet bumi, di kehidupan lanjutan itu tak ada lagi sarana, waktu, dan kesempatan untuk berinvestasi.

Untuk menginvestasikan bekal dan modal masa depan di kehidupan selanjutnya, sesungguhnya dalam kehidupan di bumi ini Tuhan telah menyiapkan media yang cukup luas, cukup banyak, dan cukup beragam yang dapat kita gunakan, namun terkadang kita tidak menganggap wadah-wadah itu  sebagai cara Tuhan mengingatkan kita untuk berinvestasi.

Satu contoh, jika tiba-tiba ada pengemis datang menghampiri kita di jalan, meminta sekedar untuk sesuap nasi, sesungguhnya pengemis itu media untuk menitipkan investasi akhirat kita, akan tetapi kita sering abai dengan tagihan mereka, kalau pun kita peduli, kita sering menginvestasikan recehan yang tidak bernilai bagi kita, itu pun kadang sambil mengata-ngatai mereka. Atau kita juga sering berbohong dengan mengatakan tidak ada uang kecil sebagai bentuk penolakan kita.

Tidak hanya di jalan, terkadang Tuhan mengirimkan pengemis itu ke depan rumah kita dengan mengucap salam, kita pun sering bersembunyi, pura-pura tertidur, pura-pura sibuk, dan pura-pura tidak dengar. Kalaupun kita meresponsnya, terkadang sambil memberikan sesuatu sekedarnya, sambil berceramah tentang agama dan nasihat, dan bisa jadi nilai pemberian kita tak cukup untuk membeli sebungkus nasi balap (nasi bungkus di pinggir-pinggir jalan).

Baca Juga  Ketika Cahaya Ramadan Berpadu Cahaya Fitri

Di samping dalam wujud pengemis,Tuhan juga mengirim media dalam wujud pengamen di atas kendaraan bus atau di tempat-tempat makan, dan lagi-lagi kita kurang respons, pura-pura makan, pura-pura diskusi, dan bahkan pura-pura ke belakang. Kalaupun kita merespons, kita selalu katakan nanti setelah selesai makan ya, atau memberinya receh kecil sambil hati tak ikhlas dan bahkan menggerutu. “Mengganggu selera makan saja, dan seterusnya”.

Tahukah dan sadarkah kita bahwa para pengemis  yang di jalanan atau di depan rumah, dan para pengamen itu adalah debt collector yang mungkin Tuhan kirim kepada kita, karena Tuhan melihat investasi akhirat kita masih sangat sedikit, sementara kita akan tinggal dan hidup di sana dalam jangka waktu tak terbatas (bahasa al-Qur’an: Abadan).

Tuhan mengingatkan kita lewat firman-Nya di surat al-Qashsas ayat 77: “Wabtagi fīmā ātākallāhud-dāral-ākhirata”. Terjemahannya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat.

Berpikir positiflah terhadap kehadiran para debt collector (pengamen dan pengemis) yang datang menemui kita, bangun persepsi bahwa apa yang kita berikan dan berapa jumlahnya, sesungguhnya merupakan investasi untuk diri kita sendiri. Mereka hanya debt collector yang ditugasi menemui kita, bagus dan banyak yang kita berikan—maka bagus dan banyaklah buat kita nanti, sebaliknya jelek dan sedikit yang kita berikan—maka jelek dan sedikitlah yang akan kita terima nanti.

Mari kita renungkan sebuah kisah seorang raja yang kesal kepada para menterinya dan sang raja akan memberikan hukuman berat berupa penjara. Raja memanggil para menteri yang membuat raja sangat kesal, di hadapan para menteri sang raja sangat marah, akan tetapi tidak menyatakan maksud untuk memasukkan para menteri tersebut ke penjara sebagai hukuman, namun sang raja meminta masing-masing membawakan raja buah-buahan sebanyak satu karung, sambil raja memberikan karung yang sama kepada mereka.

Baca Juga  Tumbuh dengan Cinta, Berkembang dengan Perlindungan: Refleksi Hari Anak Nasional

Setelah mereka meninggalkan istana, masing-masing menteri membeli buah, ada yang memilih buah yang bagus-bagus untuk rajanya—dengan prinsip membeli yang terbaik demi untuk raja, ada yang membeli buah yang tidak terlalu bagus—dengan prinsip bahwa raja sudah sering makan buah yang enak-enak, dan ada yang membeli buah yang sudah busuk dan rusak—dengan prinsip bahwa tidak mungkin raja yang akan memakan buah ini, pasti akan dikasih kepada para pekerja istana.

Tibalah hari di mana para menteri yang dikenakan hukuman itu datang membawa sekarung bauh-buahan untuk raja. Sesampai di hadapan raja, sang raja tersenyum sambil memanggil para perajuritnya seraya berkata, wahai para perajurit kerajaan, masukkan para menteri ini ke dalam penjara bawah tanah, berikan buah-buahan yang dibawanya itu sebagai bekal mereka selama di dalam penjara. 

Singkat cerita, para menteri itu mendekam di dalam penjara dengan makanan berupa buah-buahan yang dibawanya sendiri. Dan yang pasti di antara mereka ada yang senang dengan barang bawaannya, ada yang setengah senang, dan ada yang susah.

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil iktibar bahwa apa yang kita investasikan untuk kehidupan selanjutnya, itulah yang akan kita nikmati, persis seperti para menteri di dalam kisah di atas. Maka marilah kita berinvestasi yang terbaik, dan tentunya yang banyak, karena kita akan melanjutkan kehidupan pasca di dunia ini dalam waktu yang tidak bisa kita prediksi seberapa panjang dan lamanya.[] 

1 komentar untuk “Debt Collector yang Diabaikan”

  1. Semoga rekening akhirat kita tidak dikuras orang orang berwatak jahat. Bisa kita nikmati sepanjang masa…aamiin aamiin aamiin

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *